Wiji Boleh Mati, tapi Semangatnya Tetap Jadi Pendobrak Kebudayaan Selengkapnya

Wahyu Eka Setiyawan
Nahdliyin Muda
Konten dari Pengguna
10 Januari 2017 18:26 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Wahyu Eka Setiyawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Pada tahun 1998, Kontras menyebutkan sekitar bulan maret, sementara Tempo dengan karya Wiji Thukul: Teka-teki orang hilang mengatakan bulan Juli 1998.  Dia menghilang untuk selamanya, tak jelas rimbanya. Boleh orang memandang sebelah mata, karena perawakannya yang kecil dan kurus. Namun di balik itu semua, tersimpan kekuatan yang mampu membuat cemas Soeharto CS. Maka tidak hanya sekadar gurauan, jika kata-kata yang tertuang dalam syair-syairnya merupakan peluru tajam bagi penguasa.
ADVERTISEMENT
"Jalan raya dilebarkan kami terusir mendirikan kampung digusur kami pindah-pindah menempel di tembok-tembok dicabut terbuang," -Nyanyian Akar Rumput
"Jika harga minyak mundhak simbok semakin ajeg berkelahi sama bapak harga minyak mundhak lombok-lombok akan mundhak sandang pangan akan mundhak maka terpaksa tukang-tukang lebon lintah darat bank plecit tukang kredit harus dilayani," (Nyanyian Abang Becak).
Merupakan penggalan salah satu karya sastra wiji, yang mempunyai makna dalam namun mudah dipahami. Masih banyak lagi karya sastra dia, namun saya mengutip Nyanyian Akar Rumput dan Nyanyian Abang Becak karena sesuai kondisi kekinian. Konteks yang coba dilukiskan Wiji dalam puisinya, masih sangat relevan dengan kondisi faktual saat ini.  Secara tersirat mengungkapkan jika kejadian di zaman itu, ternyata masih sama dengan kondisi zaman sekarang. Kontradiksi kondisi sosial ekonomi-lah yang menciptakan sajak-sajak indah nan berani, mencoba keluar dari pakem sastra yang mendayu-dayu susah dicerna. Karya yang dihasilakan Wiji merupakan alternatif sastra, dimana pasca Lekra hancur lebur tak ada suatu karya sastra yang benar-benar jujur dan lugas. Mungkin inilah yang menjadi ketakutan Soeharto dan kroninya, di mana tatanan berupa rasionalisasi yang dipertahankan mulai goyah. Sajak-sajak itu merupakan refleksi kepentingan yang emasipatoris, sebuah upaya mengembalikan rasionalitas yang seutuhnya jika mengacu pada padangan Horkheimer dan Marcuse. Mempertahankan status quo kekuasaan, dengan menciptakan kekerasan budaya dalam bentuk mengkebiri suatu pemikiran. Sejatinya merupakan salah satu upaya untuk menghegemoni kondisi sosial masyarakat, dalam ranah seni dan budaya. Meminjam istilah dari Wijaya Herlambang hal yang sedimikian rupa disebut sebagai hegemoni kultural. Berupa mencoba mempengaruhi serta mendominasi, dengan menciptakan suatu rasio untuk mengendalikan serta menguasai suatu masyarakat.
ADVERTISEMENT
Hegemoni kultural ini muncul pasca tahun 65, salah satu upaya untuk membendung ideologi komunis adalah lewat budaya. Budaya diciptakan awalnya untuk mematikan kaum kiri, lalu menguasai hingga mendiskreditkan gerakan itu sendiri. Melalui sebuah lembaga Congress for Cultural Freedom yang berafiliasi dengan yayasan obor dengan diketuai Ivan Kats, lalu di Indonesia sendiri ada Muchtar Lubis. Simple lembaga ini bergerak pada humanisme universal, bertitik pada kebebasan berpikir individu. Wiji merupakan salah satu sastrawan yang keluar dari jalur hegemoni kultural, menciptakan sastranya sendiri yang tampak biasa namun penuh makna. Mungkin bagi sebagian orang, karya Wiji tampak biasa. Namun pengaruhnya tidak bisa diremehkan, puisinya bagaikan api penyulut sumbu perjuangan. Semangat ditengah badai cobaan kekerasan dan penindasan. Kekuatan untuk tetap tegap berdiri melawan penguasa yang lalim. Sebagai contoh di Sritex, demo buruh yang cukup besar kala itu. Dia dan bersama-sama kawan seperjuangan melumpuhkan produksi Sritex, hingga membuat tentara geram. Sritex merugi, namun ini sepadan dengan penghisapan mereka. Suara-suara Wiji seolah-oleh seperti bisikan yang menyayat nurani, kekuatan besar yang siap menghantam ketidakadilan.
ADVERTISEMENT
Mungkin karena itulah Wiji sangat ditakuti, bahkan masuk dalam daftar orang yang wajib dihilangkan. Karena terlalu berbahaya bagi kepentingan, hanya akibat satu orang biasa yang belajar secara otodidak.  Dia bukan seorang alumni universitas, dari golongan mampu, dia hanyalah orang biasa anak dari tukang becak di Solo. Sekolah pun hanya sampai bangku SMP, karena pendidikan menengah karawitan namun tak lulus. Sungguh inspiratif, bahwa pendidikan tak hanya terukur dalam nilai dan ijazah. Namun pendidikan adalah soal bagaimana kita belajar dan berpraxis.
Oleh karena itu, Film Istirahatlah kata-kata karya Yosep Anggi Noen perlu ditonton. Karena dia mengangkat tentang sisi lain dari Wiji, bukan soal kepahlawananya. Namun lebih kepada sebuah scene di mana kita akan dibawa pada suatu situasi, yang penuh gejolak, kecemasan, ketakutan dan kerinduan. Itulah yang dialami Wiji saat pelariannya menghindari sergapan penguasa, dari kota pindah ke kota lain termasuk ke Pontianak, dengan meninggalkan anak dan istri tercinta.  Film Istirahatlah Kata-Kata mungkin akan terasa tak sehebat Spiderman atau Ironman, namun paling tidak inilah film yang jujur dalam perspektifku. Mencoba membangun rasio baru, di mana mereka yang dihilangkan masih hidup meskipun dalam sebuah karya seni. Istirahatlah kata-kata, memang tidak banyak dialog bahkan bisa dibilang minim.  Namun pesan yang ingin disampaikan, sangat mudah diterima. Apalagi yang sudah menyelami dan mengenal wiji. Istirahatlah kata-kata sebuah upaya keluar dari rasionalitas hegemoni kultural, serta bukti jika Wiji boleh lenyap namun karya dan semangatnya akan tetap ada mengancam para penguasa.
ADVERTISEMENT