Konten dari Pengguna

Ilusi Giant Sea Wall: Ketika "Benteng" Laut Menjadi Penjara Ekologis dan Sosial

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Wahyu Isroni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pembangunan Tanggul Laut (Giant Sea Wall) Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pembangunan Tanggul Laut (Giant Sea Wall) Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Pembangunan infrastruktur pesisir kerap kali diposisikan sebagai jaminan tunggal bagi masa depan kota-kota pantai yang terancam tenggelam. Di tengah diskursus adaptasi perubahan iklim, proyek Giant Sea Wall (GSW) atau Tanggul Laut Raksasa sepanjang pantai utara (Pantura) Jawa kembali mencuat sebagai megaproyek yang digadang-gadang menjadi penyelamat masa depan.

Namun, narasi teknokratis ini menyimpan paradoks besar yang luput dari kalkulasi di atas kertas. Jika struktur skala mikro seperti pagar laut (tanggul pantai) saat ini saja telah berhasil mendisrupsi kehidupan nelayan tradisional, maka akselerasi menuju GSW bukanlah sebuah solusi, melainkan bentuk maladaptasi—sebuah tindakan mitigasi yang justru melahirkan kerentanan baru yang lebih destruktif.

Ekonomi Politik Infrastruktur: Anggaran Fantastis vs Efisiensi Ekologis

Mengapa kita begitu gigih memilih jalur hard-engineering yang destruktif? Jawabannya sering kali berakar pada bias proyek berskala masif. Proyek GSW dari Banten hingga Jawa Timur diperkirakan menelan biaya fantastis mencapai Rp1.300 triliun. Anggaran ini merupakan bentuk pemusatan kapital yang luar biasa besar untuk sebuah struktur statis yang risikonya belum sepenuhnya teruji secara ekologis.

Mari kita bandingkan secara rigid apabila dana tersebut direalokasikan untuk kebijakan berbasis alam (Nature-based Solutions), khususnya rehabilitasi ekosistem mangrove di sepanjang Pantura. Berdasarkan basis data pemulihan lingkungan, biaya rehabilitasi dan penanaman mangrove hanya berkisar antara Rp12 juta hingga Rp25 juta per hektare.

Jika kita mengambil skenario restorasi masif sebesar 1 juta hektare kawasan pesisir kritis di sepanjang Jawa—angka yang jauh melampaui sisa lahan kritis yang ada—biaya yang dibutuhkan maksimal hanya berkisar Rp25 triliun. Artinya, anggaran untuk membangun satu proyek GSW setara dengan biaya untuk merehabilitasi seluruh pesisir kritis Indonesia berkali-kali lipat, sementara sisa dana ribuan triliun tersebut dapat dialihkan untuk jaminan sosial nelayan dan penataan sanitasi hulu sungai.

Skala Waktu dan Fleksibilitas: Perlombaan Melawan Krisis Pesisir

Ketidakselarasan megaproyek GSW juga terlihat nyata dalam aspek temporal (linimasa) dan kapasitas adaptasinya. Krisis rob dan penurunan tanah (land subsidence) di Pantura adalah bom waktu yang berdetak setiap hari, sementara solusi beton menawarkan linimasa pembangunan yang sangat lambat.

Megaproyek GSW diproyeksikan memakan waktu konstruksi hingga 15 sampai 20 tahun untuk merentang sepanjang Jawa. Dalam rentang dua dekade masa konstruksi yang berkepanjangan tersebut, komunitas nelayan dan ekosistem pesisir lokal dipastikan akan lumpuh terlebih dahulu akibat hancurnya ruang hidup dan terputusnya rute pelayaran perahu tradisional.

Sebaliknya, rehabilitasi mangrove menawarkan ketangkasan temporal dengan fase penanaman intensif yang hanya membutuhkan waktu 2 hingga 5 tahun. Dari segi kematangan fungsi, meskipun dinding beton memberikan proteksi instan setelah selesai, sifatnya sangat statis dan berisiko tinggi mengalami kegagalan struktural jika terjadi kenaikan muka air laut yang ekstrem di masa depan.

Sementara itu, meskipun ekosistem mangrove membutuhkan waktu 5 hingga 10 tahun agar jaringan akarnya matang dan mampu mencengkeram sedimen secara fungsional, tanggul hijau ini bekerja secara dinamis. Ekosistem mangrove memiliki kapasitas untuk tumbuh mandiri, menangkap sedimen alami, mereduksi energi gelombang, dan secara gradual menaikkan elevasi daratan pesisir selaras dengan dinamika perubahan iklim.

Katastrofe Lingkungan dan Marjinalisasi Nelayan

Kembali pada dampak sosio-ekologis, jika pagar laut linier saat ini sudah memotong akses fisik nelayan menuju laut dan memaksa mereka mengonsumsi bahan bakar lebih banyak karena rute yang memutar, GSW akan bertindak seperti "vonis mati" bagi profesi ini. Struktur makro tersebut akan menyegel wilayah pesisir menjadi laguna raksasa tertutup yang tidak mungkin ditembus oleh nelayan tradisional berkapasitas perahu kecil.

Dari sudut pandang hidrodinamika, GSW juga berisiko mengubah kawasan pesisir menjadi kolam sedimentasi raksasa. Aliran sungai dari hulu yang membawa limbah industri dan domestik akan terjebak di dalam laguna akibat aliran air laut yang dihambat oleh tanggul raksasa. Hasilnya adalah eutrofikasi masif, penurunan kualitas air secara drastis, dan kepunahan biota laut lokal. Kita tidak sedang menyelesaikan banjir rob; kita hanya memindahkan krisis sirkulasi air dari daratan ke dalam waduk buatan yang sarat racun.

Kesimpulan: Melampaui Hubris Teknokrasi

Kebijakan yang keras kepala bertumpu pada pendekatan hard-engineering mencerminkan hubris teknokrasi—keyakinan semu bahwa teknologi beton mampu menundukkan hukum alam secara mutlak. Pendekatan kaku ini mengabaikan aspek sosial-ekologis pesisir yang cair dan saling terhubung.

Sudah saatnya pembuat kebijakan menggeser paradigma dari fighting the water (melawan air) menjadi living with water (hidup bersama air). Menyelamatkan Pantura bukan dengan membangun benteng mahal senilai Rp 1.300 triliun yang memenjarakan alam dan memiskinkan nelayan, melainkan dengan memulihkan benteng hijau alami yang terbukti jauh lebih murah, lebih cepat secara linimasa, dan berkelanjutan.

Sebelum semen pertama dilemparkan ke tengah laut, kita harus berani bertanya: untuk siapa sebenarnya benteng raksasa ini dibangun? Jangan sampai perlindungan terhadap kota daratan dilakukan dengan cara mengeliminasi manusia dan alam pesisir yang menyokongnya.