Cerita Pelaut, Ketika Mendarat

Buruh Pelabuhan, Penulis, Pengajar
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Antok Roed tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebulan ini, saya dan beberapa teman sedang sok sibuk menyiapkan acara reuni teman-teman alumni sekolah pelayaran di sebuah kota. Nyaris tiga puluhan tahun silam, kami menentukan nasib sendiri-sendiri dengan memilih jalan hidup masing-masing.
Sebagai sesama alumnus sekolah pelaut, persisnya alumnus pensiunan melaut, tentu saya bisa sedikit menebak-nebak apa saja yang kira-kira diceritakan oleh sahabat-sahabat lama saya itu. Tentang perkembangan dunia kerja perkapalan, tentang pergajian pelaut saat ini, dan yang menarik siapa tahu bisa menambah informasi tambahan penulisan buku-buku saya.
Tetapi, di antara semua itu, saya merasa dalam banyak obrolan selalu muncul baik secara riil maupun abstrak satu analogi kehidupan di kapal dengan situasi dan kondisi kenegaraan kita saat ini. Entah itu saat kapal sedang berlayar apalagi kalau kapal sedang mengalami suasana marabahaya kegentingan.
Tak terkecuali ketika yang dibicarakan adalah pengalaman kepemimpinan di laut. Maka, ada seorang tokoh yang mendefinisikan karakter kepemimpinan di darat. Karakter kepemimpinan darat yang mengambil contoh dari kepemimpinan di laut. Sosok seorang pemimpin yang paling bertanggung jawab dalam menentukan arah dan tujuan kapal.
Bagi banyak orang, kehidupan semacam itu mungkin tidak selalu penting. Tetapi kita tentu dapat mengira bahwa tidak semua nakhoda kapal memiliki kejelian yang sama. Ini bukan tentang mahir tidak mahir. Yang saya maksudkan adalah kesigapan nakhoda ketika kapal-nya sedang linglung, khususnya ketika seluruh teknologi di kapal tersebut sedang tidak dapat dikendalikan.
Di desa-kota, pergulatan antar masyarakat tentang penting tidak penting haluan negara kian gemuruh. Terutama di kalangan elite, tujuan sosial yang adem ayem bukan lagi sesuatu yang istimewa. Tapi terus terang, kadang di semua kalangan jas merah itu berhenti slogan belaka.
Makanya, sebagai contoh, ada banyak elite yang ngotot mengharuskan agar haluan negara diadakan lagi. Saya tidak bermaksud bilang bahwa haluan negara tidak penting bagi sebuah negara. Toh seumuran saya sendiri juga pernah mengalami masa-masa berhaluan negara hingga tidak. Yang saya maksud adalah di tangan nakhoda lah kendali kemudi berada dan tepat berada di dekat kemudi terdapat kompas yang membantu nakhoda menentukan arah perjalanan kapal.
Toh, adanya ontran-ontran 1998 tepatnya sejak 2000 GBHN atau Garis-garis Besar Haluan Negara dihapus. Sejak itu kita percaya dengan janji kampanye calon, dan ditagih ketika terpilih. Kata teman-teman, rakyat seperti cincu, atau pemilik kapal. Artinya, saya bisa menghardik nakhoda kalau salah. Setuju tidak?
Beberapa janji suci para presiden di Indonesia dan Amrik, Janji berjuang untuk rakyat SBY, our people-our future Obama, change Donald Trump, battle for soul of the nation Biden hingga nawacita janji Presiden Jokowi. Deretan janji di atas mirip kompas yang membantu nakhoda menentukan arah perjalanan kapal. Poin-nya adalah “membantu”.
Bukannya kebarat-baratan, rasanya beliau-beliau itu telah paham sepaham-pahamnya bahwa haluan hanyalah kompas kapal yang bersifat membantu, dan selebihnya sangat tergantung kepiawaian masing-masing. Saya kok percaya bahwa orang-orang terpilih tersebut, jelas sudah di atas rata-rata kebanyakan. Mereka pasti sudah mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan segenting-gentingnya yang mengganggu kapalnya.
Ujung-ujungnya, interaksi percakapan di ruang publik terbelah secara semu. Keseolah-olahan itu terjadi karena hanya diteriakkan oleh segelintir orang menunggu nasi bungkus. Tapi walau segelintir bisa berpotensi mengubah teriakan menjadi gesekan.
Anda dapat dengan mudah menyaksikan pembelahan pendapat antara kengototan wakil rakyat ketimbang mendengar suara rakyat. Keberpihakan yang diharapkan dari penguasa pun tersublim dengan ambisi-ambisi pribadi. Suara pakar mengarah ke alternatif bila itu hasilnya ini, dan bila ini hasilnya itu. Lagi-lagi, rakyat disuruh memilih dari yang seharusnya tinggal menikmati jerih payah penguasa yang dibayar dari pajak rakyat.
Dalam keadaan begini, pertemuan-pertemuan sebagaimana yang terjadi dalam cerita yang disimpulkan oleh teman-teman reuni saya itu menjadi alternatif yang eksak, entah bagaimana kita mengikutinya.
Masalahnya, bahkan keluarga saya sendiri pada satu tahun lebih akhir-akhir ini sedang sangat sibuk membentengi diri dari godaan-godaan virus yang sedang ramai diributkan khalayak. Belum tentu sehari satu saya mengintip puluhan notifikasi berita yang masuk di selulerku. Selanjutnya, kenyarisan pengulangan sejarah masa lalu diharapkan segera disadari oleh para petinggi republik ini.
Banyak orang mencemaskan nasib pendidikan politik yang makin hari tidak membasiskan diri pada nilai pendidikan. Kerisauan saya akan sesuatu yang tidak bisa diharapkan lagi ini, akhirnya saya sendiri yang memberi perhatian lebih terhadap kemurnian ajaran perpolitikan pada anak-anak saya.
Hanya dengan kesehatan akal dapat dibangun sekuat-kuat keterwakilan, dan hanya dengan keterwakilan kuat dapat ditumbuhkan kepercayaan. Rakyat tak akan sebilah, asal amanah. Teruslah berbenah tanpa gegabah, maka rakyat tak kan terbelah.
Wahyu Agung Prihartanto, lulusan Master Marine PIP Semarang
