Dunia dalam Satu Klik

Dosen Universitas Nasional dan Tenaga Ahli Kebijakan Publik Koperasi Desa Kulurahan Merah Putih. Direktorat Dekonsentrasi Tugas Pembantuan dan Kerja Sama Kemendagri
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Wahyu Triono KS tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika teknologi menyimpan wajah lama kekuasaan, mengingatkan kita pada buku Kenichi Ohmae—The End of Nation State—yang membuat orang terperangah. Buku ini secara eksplisit mengumumkan berakhirnya “nation-state” atau “negara bangsa”.
Menurut Kenichi Ohmae, negara adalah artefak peninggalan abad ke-18 dan ke-19 karena menurutnya tidak ada lagi tapal batas, “dunia tanpa tapal batas (the borderless world), negara bangsa mengalami masa keredupannya.
Institusi negara tidak lagi dianggap penting ketika muncul realita tentang kondisi yang digambarkan sebagai dunia yang borderless yang menyimpan satu konsekuensi vital, yakni larutnya etika bersekat-sekat identitas (nasionalisme, agama, identitas komunal) yang selama ini dipegang, lantaran dinding-dinding yang tegas telah runtuh, satu kondisi yang dapat diwakili oleh dua kata, yakni arus globalisasi.
Di zaman ini, dunia tanpa tapal batas (the borderless world) menemukan relevansinya, dunia seolah mengecil, jarak dipangkas oleh layar, waktu diringkas oleh sentuhan, dan kuasa bergerak dalam diam, cukup satu klik.
Dulu harus berjalan berhari-hari, kini cukup satu sentuhan jari. Namun kuasa tak pernah benar-benar pergi, ia hanya mengganti wajah dan teknologi.
Klik sering dipahami sebagai simbol kemajuan: cepat, efisien, modern. Namun di balik kemudahan itu, klik juga menyimpan jejak-jejak lama kekuasaan. Ia bukan sekadar teknologi digital, melainkan juga praktik sosial-politik yang mengulang feodalisme dalam bentuk baru: lebih halus, lebih cepat, dan sering tak terlihat.
Klik Penanda Otoritas
Klik juga penanda otoritas, siapa yang menguasai, siapa diikutkan, dan siapa disisihkan. Klik bukan hanya tindakan teknis, melainkan juga bahasa kekuasaan.
Dalam setiap sistem, birokrasi, politik, ekonomi, hingga media digital, klik berfungsi sebagai penentu posisi: siapa yang berwenang, siapa yang hanya dilibatkan, dan siapa yang sama sekali tidak dihitung. Tak semua jari diciptakan setara: sebagian diberi kuasa untuk mengklik, sebagian hanya menunggu hasilnya.
Pertama, klik menandai siapa yang memiliki otoritas. Mereka yang memiliki otoritas adalah mereka yang berhak mengklik persetujuan, memvalidasi keputusan, dan membuka atau menutup akses.
Dalam sistem digital modern, otoritas tidak selalu tampak dalam jabatan formal, tetapi tersembunyi dalam: hak akses (access rights), level akun, dan peran sistem (role system). Otoritas hari ini tak selalu berbicara lantang. Ia bekerja sunyi, melalui tombol ‘approve’ dan ‘reject’. Mereka yang memegang klik final adalah pemilik kuasa sejati, meski sering tak terlihat publik.
Kedua, klik menentukan siapa yang menjadi bagian dari otoritas. Di bawah pemilik otoritas, terdapat mereka yang dilibatkan, bukan sebagai penentu, melainkan sebagai perpanjangan tangan. Mereka: boleh memasukkan data, boleh merekomendasikan, dan boleh memproses, tetapi tidak boleh memutuskan. Mereka ikut bekerja, tetapi tak ikut menentukan. Inilah lingkaran dalam kekuasaan: bukan penguasa utama, melainkan bagian dari mekanisme kuasa.
Dalam konteks patron–klien, kelompok ini adalah: loyalis, jaringan, tim sukses, dan birokrat dekat kekuasaan. Klik mereka penting, tetapi tak pernah terakhir.
Ketiga, klik menunjukkan siapa yang bukan bagian dari otoritas: yang paling senyap adalah mereka yang tidak punya akses klik, hanya menjadi objek keputusan, dan tidak tahu kapan dan mengapa klik dilakukan.
Mereka adalah warga biasa, pengguna akhir, dan rakyat dalam sistem. Yang tak punya klik, tak punya suara. Mereka hanya melihat hasil, bantuan diterima atau ditolak, izin keluar atau tertahan, dan akun aktif atau diblokir. Tanpa penjelasan, tanpa partisipasi bermakna.
Keempat, klik sebagai mekanisme inklusi dan eksklusi. Klik menciptakan garis tak kasat mata antara yang di dalam sistem dan yang di luar kuasa. Siapa yang memiliki akun resmi, akses backend, dan legitimasi digital, ia diakui.
Sebaliknya, yang tak terhubung akan tersisih, terpinggirkan, dan dilupakan oleh sistem. Bukan siapa yang paling membutuhkan, melainkan siapa yang terdaftar yang akhirnya dilayani. Di sinilah klik menjadi alat eksklusi sosial yang baru, lebih halus daripada kekerasan, tetapi lebih efektif daripada larangan.
Kelima, dari demokrasi ke oligarki klik. Ketika klik terkonsentrasi pada segelintir elite, demokrasi perlahan bergeser menjadi oligarki digital. Bukan suara rakyat yang menentukan, melainkan siapa yang memegang akses.
Partisipasi publik sering kali berhenti pada mengisi formulir, mengunggah dokumen, menunggu sistem memutuskan. Keputusan sejati tetap berada di tangan mereka yang memiliki klik terakhir.
Klik bukan netral, klik selalu berpihak kepada siapa yang diberi kuasa atasnya. Jika klik dimonopoli, ketidakadilan akan diotomatisasi.
Karena itu, persoalan utama bukan sekadar digitalisasi, melainkan juga distribusi otoritas, transparansi keputusan, dan akuntabilitas pemegang klik. Tanpa itu, klik hanya akan menjadi feodalisme yang dipercepat oleh teknologi: sunyi, rapi, dan sulit digugat.
Klik sebagai simbol kekuasaan baru. Secara teknologis, klik hanyalah perintah: execute. Namun secara sosial, klik adalah otoritas. Siapa yang boleh mengklik? Siapa yang harus menunggu klik? Siapa yang hidupnya berubah karena klik orang lain? Klik bukan soal jari, melainkan soal siapa yang diberi hak untuk menentukan nasib.
Klik dalam Jejak Kekuasaan Lama
Dalam birokrasi, politik, dan ekonomi digital, klik menjadi gerbang keputusan: klik persetujuan anggaran, klik penunjukan jabatan, klik akses bantuan, klik verifikasi, ataupun klik rekomendasi algoritma. Di sinilah teknologi bertemu dengan struktur kekuasaan lama.
Pertama, feodalisme digital: Tuan lama di istana baru. Feodalisme klasik hidup dari kedekatan dengan pusat kuasa. Feodalisme digital hidup dari akses terhadap klik. Dulu rakyat menunggu titah raja. Kini, publik menunggu notifikasi sistem. Istana tak lagi bertembok batu, ia berlapis server dan sandi rahasia.
Dalam feodalisme digital, elite memiliki hak akses, rakyat hanya menjadi pengguna, dan keputusan bersifat top-down, meski dibungkus istilah platform dan aplikasi. Hierarki tetap ada, hanya bentuknya yang berubah.
Kedua, patron–klien: Relasi lama dalam sentuhan modern. Klik juga memperbarui hubungan patron–klien. Seorang patron tidak lagi selalu memberi uang atau perlindungan fisik, tetapi memberi akses sistem, rekomendasi digital, verifikasi akun, dan tanda persetujuan.
Klien membalas dengan loyalitas, dukungan politik, suara, dan diam. Di dunia digital, kesetiaan dibalas dengan akses dan akses dibalas dengan kepatuhan. Relasi ini tidak hilang, ia hanya dipercepat oleh teknologi.
Ketiga, kolusi dan spoil system. Klik sebagai alat bagi-bagi kuasa. Teknologi menjanjikan transparansi, tetapi klik sering kali menjadi tirai baru kolusi. Dalam spoil system modern, jabatan dibagikan lewat klik, proyek disetujui lewat klik, dan sistem dimanipulasi lewat klik. Kolusi tak lagi berbisik di lorong gelap, ia bersembunyi di balik layar terang. Klik membuat proses tampak sah, padahal substansinya tetap bagi-bagi kekuasaan.
Keempat, elite capture, yaitu ketika etika klik dikuasai segelintir orang. Elite capture terjadi saat kebijakan publik, termasuk sistem digital, dikendalikan oleh kelompok kecil. Siapa yang merancang algoritma? Siapa yang menentukan indikator? Siapa yang memegang tombol persetujuan akhir? Yang menguasai klik, menguasai alur, menguasai nasib. Akibatnya, digitalisasi tidak membebaskan, tetapi mengunci ketimpangan dan teknologi menjadi alat reproduksi kekuasaan.
Dunia pada satu klik dalam kajian antara harapan dan bahaya menjelaskan bahwa klik seharusnya memotong birokrasi, membuka akses, dan menghadirkan keadilan.
Namun tanpa etika dan kesadaran, klik justru memusatkan kuasa, menyamarkan feodalisme, dan mengabadikan ketergantungan. Teknologi tak pernah netral, ia mengikuti tangan yang menggunakannya.
Penutup
Dari klik ke kesadaran, dunia memang bisa diakses dalam satu klik. Namun, keadilan tidak pernah lahir dari klik semata. Ia lahir dari transparansi yang nyata, distribusi kuasa yang adil, dan kesadaran etis manusia di balik layar.
Jika klik dikuasai nurani, ia menjadi jalan pembebasan. Namun jika klik dikuasai nafsu kuasa, ia hanyalah feodalisme yang dipercepat. Dunia dalam satu klik bukanlah akhir dari perjuangan manusia, melainkan awal dari pertanyaan paling mendasar: Siapa yang mengendalikan klik dan untuk siapa ia digunakan?
