news-card-video
28 Ramadhan 1446 HJumat, 28 Maret 2025
Jakarta
chevron-down
imsak04:10
subuh04:25
terbit05:30
dzuhur11:30
ashar14:45
maghrib17:30
isya18:45
Konten dari Pengguna

Kesehatan Mental Generasi Z di Tengah Bayang-Bayang FOMO

wahyu andrianto
Konsultan Hukum Kesehatan, Anggota Aktif WAML, Counsel Beberapa Lawfirm, Wakil Ketua Umum Masyarakat Hukum Kesehatan Indonesia.
23 Maret 2025 15:58 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari wahyu andrianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Berdasarkan hasil penelitian Rideout dan Robb pada tahun 2018, lebih dari 92% Generasi Z menggunakan platform media sosial. Sekitar 70% dari pengguna Gen Z mengakses media sosial lebih dari satu kali sehari. Sebanyak 38% Gen Z menggunakan media sosial beberapa kali dalam satu jam. Generasi Z menghabiskan rata-rata 16 jam sehari menggunakan perangkat digital mereka. Platform seperti YouTube sangat populer di kalangan Gen Z.
ADVERTISEMENT
Generasi Z, atau sering juga disebut Gen Z, Zoomers, atau iGen, adalah kelompok demografi yang lahir setelah Generasi Milenial. Meskipun tidak ada batasan tahun yang ditetapkan secara universal, umumnya Generasi Z dianggap lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an. Rentang tahun yang paling sering digunakan adalah sekitar tahun 1997 hingga 2012.
Generasi Z memiliki ciri-ciri, fokus pada digital native, terbiasa dengan informasi cepat, dan ketergantungan pada teknologi. Istilah "digital native" mengacu pada individu yang tumbuh besar di era digital, di mana internet, komputer, perangkat seluler, dan teknologi digital lainnya sudah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari sejak mereka lahir. Generasi Z adalah generasi pertama yang sepenuhnya lahir dan berkembang di era ini. Cara mereka berpikir dan memproses informasi seringkali dipengaruhi oleh format digital. Mereka terbiasa dengan hyperlink, multimedia, dan interaktivitas. Mereka merasa nyaman berinteraksi dan berekspresi melalui berbagai platform digital, seperti media sosial, forum online, dan aplikasi pesan instan. Generasi sebelumnya (seperti Generasi X dan Baby Boomers) adalah "digital immigrants," yang harus belajar dan beradaptasi dengan teknologi baru di kemudian hari. Perbedaan pengalaman ini membentuk perspektif yang berbeda terhadap teknologi.
ADVERTISEMENT
Generasi Z tumbuh dengan akses instan ke hampir semua informasi melalui internet. Mesin pencari, ensiklopedia online, dan berbagai sumber informasi lainnya hanya berjarak beberapa ketukan jari. Mereka terbiasa mendapatkan jawaban dan informasi dengan cepat. Mereka kurang sabar dengan proses yang lambat atau informasi yang sulit diakses. Mereka cenderung lebih menyukai konten yang ringkas, mudah dicerna, dan langsung ke poin (misalnya, video pendek, stories di media sosial, tweet). Rentang perhatian mereka bisa lebih pendek ketika berhadapan dengan konten yang panjang dan kompleks.
Teknologi memungkinkan Generasi Z untuk tetap terhubung dengan teman, keluarga, dan komunitas mereka secara konstan melalui berbagai platform komunikasi. Mereka sangat bergantung pada teknologi untuk berbagai tugas sehari-hari, seperti mencari informasi, belajar, berbelanja, memesan makanan, transportasi, dan hiburan. Media sosial bukan hanya platform hiburan, tetapi juga menjadi pusat interaksi sosial, pembentukan identitas, dan mendapatkan informasi bagi banyak anggota Gen Z. Mereka menggunakan berbagai platform seperti Instagram, TikTok, YouTube, Twitter, dan aplikasi pesan instan.
ADVERTISEMENT
Media sosial memicu narasi kehidupan ideal yang seringkali tidak realistis, yang pada akhirnya dapat memicu Fear of Missing Out (FOMO). Fear of Missing Out atau FOMO adalah perasaan atau persepsi bahwa orang lain sedang mengalami hal-hal yang lebih menyenangkan, memuaskan, atau bermanfaat daripada diri kita, dan kita merasa takut ketinggalan pengalaman tersebut. Perasaan ini seringkali disertai dengan keinginan untuk tetap terhubung dengan apa yang sedang dilakukan orang lain. Media sosial bagi Generasi Z seringkali berfungsi sebagai panggung tempat mereka menampilkan versi terbaik dari diri mereka. Ada kecenderungan untuk hanya membagikan momen-momen yang dianggap positif, menarik, atau patut dibagikan, sementara aspek kehidupan yang kurang glamor atau tantangan sehari-hari seringkali diabaikan.
Pengguna media sosial cenderung hanya membagikan "highlight reel" kehidupan mereka. Hal ini bisa berupa foto liburan yang indah, pencapaian akademik atau karir, hubungan yang tampak sempurna, atau momen-momen bahagia lainnya. Jarang sekali terdapat postingan tentang kegagalan, kesulitan, atau hari-hari yang buruk. Penggunaan filter dan aplikasi pengeditan foto dan video memungkinkan pengguna untuk menyempurnakan penampilan mereka dan menciptakan citra diri yang ideal secara visual. Hal ini menciptakan standar kecantikan yang seringkali tidak realistis dan sulit dicapai. Influencer seringkali mempromosikan gaya hidup yang mewah, pengalaman eksklusif, dan produk-produk mahal, yang dapat menciptakan aspirasi yang tidak realistis bagi pengikut mereka, terutama bagi mereka yang memiliki sumber daya terbatas.
ADVERTISEMENT
Ketika melihat orang lain membagikan foto atau video dari acara seru, liburan, atau pertemuan sosial, seseorang dapat merasa sedih atau cemas karena tidak ikut serta atau tidak memiliki pengalaman serupa. Melihat pencapaian atau kesuksesan orang lain yang terus-menerus dipamerkan dapat membuat seseorang merasa tidak cukup baik, kurang sukses, atau kurang berprestasi. Dorongan untuk mendapatkan likes, komentar, dan followers seringkali didasari oleh keinginan untuk merasa diterima dan dihargai oleh orang lain. Ketika orang lain tampak mendapatkan lebih banyak perhatian, hal ini dapat memicu perasaan tidak aman dan FOMO.
Fear of Missing Out (FOMO) di kalangan Generasi Z dapat memicu kecemasan, stres, depresi, dan perasaan tidak aman. Adanya tekanan untuk selalu menampilkan citra diri yang positif dan menarik di media sosial dapat memicu kecemasan. Individu dapat merasa khawatir jika postingan mereka tidak mendapatkan cukup perhatian atau jika mereka tidak memiliki konten yang "layak" untuk dibagikan. Upaya untuk terus-menerus mengikuti perkembangan di media sosial dan memastikan tidak ada yang terlewat dapat menyebabkan kelelahan mental dan stres. Otak terus-menerus dipaksa untuk memproses informasi baru dan membandingkannya dengan situasi diri sendiri. FOMO dapat menciptakan tekanan untuk melakukan lebih banyak hal dan memiliki lebih banyak pengalaman agar tidak merasa tertinggal. Hal ini dapat menyebabkan stres karena individu merasa tidak punya cukup waktu atau energi untuk memenuhi ekspektasi yang tidak realistis ini.
ADVERTISEMENT
Perbandingan sosial yang dipicu oleh FOMO seringkali mengarah pada perasaan tidak puas dengan diri sendiri dan kehidupan yang dimiliki. Individu mungkin merasa bahwa mereka kurang bahagia, kurang sukses, atau kurang menarik dibandingkan orang lain, yang dapat berkontribusi pada munculnya gejala depresi. Meskipun terhubung secara online, FOMO justru dapat memperburuk perasaan kesepian dan terisolasi di dunia nyata. Fokus pada kehidupan orang lain yang tampak sempurna dapat membuat individu merasa semakin jauh dari orang lain dan tidak memiliki hubungan yang mendalam.
Perbandingan sosial yang konstan dan perasaan tidak adekuat akibat FOMO dapat merusak harga diri dan keyakinan diri. Individu mungkin mulai meragukan kemampuan, pencapaian, dan nilai diri mereka. FOMO seringkali dikaitkan dengan kebutuhan yang kuat akan validasi eksternal melalui likes, komentar, dan followers. Ketika validasi ini tidak didapatkan atau tidak sebanyak yang diharapkan, individu dapat merasa tidak aman dan tidak berharga.
ADVERTISEMENT
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan mengatur mengenai penyelenggaraan pelayanan kesehatan, termasuk pelayanan kesehatan mental. Hal ini dapat mencakup penyediaan layanan konseling, terapi, dan dukungan psikologis bagi individu yang mengalami masalah kesehatan mental akibat FOMO atau faktor lainnya. Undang-undang ini juga dapat menekankan peran sektor lain di luar kesehatan dalam mendukung kesehatan mental Generasi Z. Misalnya, sektor pendidikan dapat diamanatkan untuk mengintegrasikan materi tentang kesehatan mental dan penggunaan media sosial yang bertanggung jawab ke dalam kurikulum. Generasi Z, terutama remaja dan dewasa muda, dapat dianggap sebagai kelompok rentan terhadap dampak negatif media sosial dan FOMO.
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan menyediakan kerangka hukum yang berpotensi untuk melindungi kesehatan mental Generasi Z dari dampak negatif FOMO melalui upaya promosi, pencegahan, dan penyediaan layanan kesehatan mental. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada bagaimana pemerintah menerjemahkan dan mengimplementasikan undang-undang ini melalui kebijakan dan program yang spesifik dan terarah, serta adanya kolaborasi dengan berbagai pihak terkait.
ADVERTISEMENT
Sumber foto: https://pixabay.com/id/photos/telepon-menampilkan-aplikasi-layar-292994/