Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Peranan Regulasi dalam Mengatur Pola Konsumsi Digital Generasi Z
27 Maret 2025 13:55 WIB
·
waktu baca 8 menitTulisan dari wahyu andrianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Generasi Z, sering juga disebut Gen Z atau Zoomers, adalah kelompok demografi yang lahir setelah Generasi Milenial. Meskipun tidak ada batasan tahun kelahiran yang ditetapkan secara universal, umumnya Generasi Z dianggap lahir antara pertengahan hingga akhir tahun 1990-an hingga awal tahun 2010-an. Dengan demikian, pada tahun 2025 ini, anggota Generasi Z berada dalam rentang usia sekitar 15 hingga 30 tahun. Generasi ini tumbuh dan berkembang dalam era digital. Mereka tidak mengenal dunia sebelum internet, ponsel pintar, dan media sosial menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari. Pengalaman ini membentuk karakteristik unik mereka, terutama dalam hal interaksi dengan teknologi.
ADVERTISEMENT
Generasi Z mempunyai beberapa karakteristik digital utama, yaitu: Digital Natives (Generasi Z lahir dan dibesarkan di tengah kemajuan teknologi digital), High Internet Usage (Generasi Z memiliki tingkat penggunaan internet yang sangat tinggi), Social Media Prevalence (Media sosial adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial Generasi Z), Mobile-First Mentality (Perangkat seluler, khususnya ponsel pintar, adalah perangkat utama bagi Generasi Z untuk mengakses internet dan berbagai layanan digital), Visual and Short-Form Content Consumption (Generasi Z cenderung lebih menyukai konten visual seperti video, gambar, dan infografis), Expectation of Instant Information and Gratification (Tumbuh di era internet cepat, Generasi Z terbiasa mendapatkan informasi dan jawaban dengan cepat), Comfort with Technology and Innovation (Generasi Z sangat terbuka dan cepat beradaptasi dengan teknologi dan inovasi terbaru), Digital Literacy and Awareness (Meskipun sangat mahir dalam menggunakan teknologi, tingkat literasi digital dan kesadaran akan isu-isu seperti privasi, keamanan siber, dan disinformasi bervariasi di kalangan Generasi).
ADVERTISEMENT
Preferensi Generasi Z terhadap platform media sosial dan konten online sangat dipengaruhi oleh kecepatan, visual, dan autentisitas. Beberapa tren utama meliputi TikTok, Instagram, YouTube, Twitter (X), Platform Pesan Instan (WhatsApp, Telegram, dan Line menjadi alat komunikasi utama mereka dengan teman dan keluarga).
Budaya digital telah memberikan dampak yang signifikan terhadap nilai dan perilaku Generasi Z. Internet dan media sosial memungkinkan mereka terhubung dengan orang-orang dari berbagai latar belakang dan budaya di seluruh dunia. Hal ini memperluas perspektif mereka dan meningkatkan kesadaran akan isu-isu global. Mereka memiliki akses tak terbatas ke berbagai sumber informasi. Hal ini dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mereka, tetapi juga berpotensi terpapar pada informasi yang salah atau menyesatkan. Media sosial menjadi platform bagi mereka untuk mengekspresikan diri, membangun komunitas online, dan membentuk identitas diri. Namun, hal ini juga dapat menimbulkan tekanan untuk menampilkan citra diri yang ideal dan perbandingan sosial yang tidak sehat. Generasi Z sering menggunakan platform digital untuk menyuarakan pendapat mereka tentang isu-isu sosial dan politik, serta berpartisipasi dalam gerakan aktivisme online. Mereka sangat dipengaruhi oleh influencer dan tren yang berkembang pesat di media sosial. Hal ini dapat memengaruhi gaya hidup, preferensi konsumsi, dan bahkan pandangan mereka tentang berbagai hal.
ADVERTISEMENT
Gaya hidup tidak sehat juga terjadi di kalangan Generasi Z. Data menunjukkan adanya peningkatan tren obesitas di kalangan remaja dan dewasa muda, yang sebagian besar termasuk dalam Generasi Z. Hal ini menjadi perhatian karena obesitas dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis di kemudian hari, seperti diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan beberapa jenis kanker. Generasi Z cenderung memiliki tingkat aktivitas fisik yang lebih rendah dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka menghabiskan banyak waktu untuk aktivitas yang tidak banyak bergerak, seperti bermain video game, menonton streaming, berselancar di media sosial, dan belajar atau bekerja di depan layar komputer.
Generasi Z seringkali memiliki pola makan yang kurang sehat, ditandai dengan konsumsi makanan cepat saji, makanan olahan, minuman manis, dan camilan tidak sehat yang tinggi gula, garam, dan lemak. Kurangnya konsumsi buah, sayur, dan makanan bergizi seimbang juga menjadi masalah. Generasi Z terpapar iklan makanan cepat saji dan minuman tidak sehat melalui berbagai platform digital, termasuk media sosial, YouTube, dan aplikasi seluler. Iklan-iklan ini menarik secara visual, menggunakan influencer yang populer di kalangan mereka, dan memanfaatkan algoritma untuk menargetkan mereka secara spesifik. Aplikasi pesan antar makanan juga memudahkan mereka untuk memesan makanan cepat saji kapan saja dan di mana saja, tanpa perlu repot memasak atau keluar rumah.
ADVERTISEMENT
Studi menunjukkan adanya peningkatan masalah kecemasan dan depresi di kalangan Generasi Z. Penggunaan media sosial yang intens seringkali dikaitkan dengan masalah ini. Paparan terus-menerus terhadap kehidupan orang lain yang tampak sempurna di media sosial dapat memicu perasaan Fear of Missing Out (FOMO), yaitu ketakutan ketinggalan tren atau pengalaman yang dialami orang lain. Hal ini dapat menyebabkan stres dan kecemasan. Media sosial seringkali menjadi ajang perbandingan sosial yang tidak sehat. Generasi Z dapat merasa rendah diri atau tidak puas dengan diri mereka sendiri ketika membandingkan kehidupan mereka dengan apa yang mereka lihat di media sosial.
Perangkat digital seperti ponsel, tablet, dan laptop memancarkan cahaya biru yang dapat menekan produksi hormon melatonin, yaitu hormon yang mengatur siklus tidur. Paparan cahaya biru sebelum tidur dapat mengganggu ritme sirkadian alami tubuh dan membuat sulit untuk tidur. Konten yang menarik dan adiktif di media sosial atau video game dapat menstimulasi otak dan membuatnya tetap aktif, sehingga sulit untuk rileks dan tertidur. Game online dapat sangat adiktif karena memberikan kesenangan, tantangan, dan rasa pencapaian. Beberapa anggota Generasi Z dapat menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk bermain game, mengabaikan tanggung jawab lain dan aspek penting dalam kehidupan mereka.
ADVERTISEMENT
Beberapa negara telah mengambil langkah-langkah untuk mengatur atau memberikan panduan terkait screen time bagi anak dan remaja. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan tidak ada screen time untuk bayi di bawah 1 tahun, dan untuk anak usia 1-4 tahun, screen time tidak lebih dari 1 jam per hari, dengan kualitas konten yang diperhatikan. American Academy of Pediatrics (AAP) memberikan panduan yang lebih fleksibel, menekankan pada kualitas konten, interaksi orang tua, dan keseimbangan dengan aktivitas lain. Mereka merekomendasikan batasan waktu untuk anak usia 6 tahun ke atas dan mendorong orang tua untuk menetapkan batasan yang sesuai dengan kebutuhan keluarga. Pemerintah Australia mengeluarkan pedoman screen time yang merekomendasikan batasan waktu dan menekankan pentingnya tidur yang cukup, aktivitas fisik, dan interaksi sosial.
ADVERTISEMENT
Beberapa negara atau wilayah memasukkan pertimbangan screen time dalam kebijakan pendidikan, terutama terkait penggunaan perangkat digital di sekolah dan untuk pekerjaan rumah. Prancis melarang penggunaan ponsel di sekolah dasar dan menengah untuk mengurangi gangguan dan mempromosikan interaksi sosial. Beberapa sekolah di AS menerapkan kebijakan tentang penggunaan tablet atau laptop di kelas, dengan fokus pada penggunaan yang produktif dan membatasi waktu yang berlebihan.
Beberapa platform media sosial dan perangkat pintar kini menawarkan fitur yang memungkinkan pengguna untuk memantau dan membatasi waktu penggunaan aplikasi. Apple's Screen Time memungkinkan pengguna iOS untuk melacak waktu penggunaan aplikasi, menetapkan batas waktu, dan menjadwalkan waktu istirahat dari layar. Google's Digital Wellbeing merupakan fitur serupa yang tersedia di perangkat Android. Instagram dan TikTok menyediakan alat untuk melihat waktu yang dihabiskan di aplikasi dan menetapkan pengingat untuk beristirahat.
ADVERTISEMENT
Beberapa platform memperkenalkan fitur khusus untuk pengguna muda, seperti batasan usia minimum, kontrol orang tua, dan pengaturan privasi yang lebih ketat. TikTok memiliki fitur Family Pairing yang memungkinkan orang tua untuk mengelola akun anak mereka, termasuk membatasi screen time dan memfilter konten. Instagram memiliki batasan usia minimum dan berupaya untuk mendeteksi dan menghapus akun yang dibuat oleh anak di bawah umur.
Pemerintah Indonesia melalui lembaga terkait seperti Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dapat memperluas regulasi yang sudah ada terkait iklan produk tidak sehat (misalnya, makanan tinggi gula, garam, lemak, serta minuman manis) ke ranah digital. Hal ini bisa mencakup pembatasan jam tayang iklan, pelarangan iklan pada jam-jam tertentu yang banyak ditonton anak dan remaja, atau pembatasan frekuensi tayang. Regulasi ini perlu diterapkan pada berbagai platform digital yang populer di kalangan Generasi Z, termasuk media sosial (Instagram, TikTok, YouTube), platform streaming, dan aplikasi mobile.
ADVERTISEMENT
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dapat mengintegrasikan materi literasi digital dan kesehatan ke dalam kurikulum di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga menengah. Literasi digital dapat mencakup pemahaman tentang penggunaan internet yang aman, etika berinteraksi di dunia maya, identifikasi hoaks dan disinformasi, serta pengelolaan informasi pribadi. Materi kesehatan dapat fokus pada dampak screen time berlebihan, pentingnya aktivitas fisik, pola makan sehat, dan kesehatan mental dalam konteks digital. Komdigi bersama dengan lembaga terkait seperti Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan organisasi masyarakat sipil dapat mengembangkan standar konten digital yang sehat dan aman untuk anak dan remaja. Standar ini dapat mencakup batasan usia untuk jenis konten tertentu, panduan untuk konten yang mempromosikan kesehatan mental dan fisik, serta pelarangan konten yang mengandung kekerasan, eksploitasi, atau mempromosikan gaya hidup tidak sehat.
ADVERTISEMENT
Pemerintah dapat mendorong platform digital yang beroperasi di Indonesia untuk menyesuaikan algoritma mereka agar lebih memprioritaskan konten yang berkaitan dengan kesehatan fisik dan mental, gaya hidup sehat, serta informasi yang akurat dari sumber yang kredibel. Hal ini dapat dilakukan melalui dialog, insentif, atau bahkan regulasi yang lebih tegas jika diperlukan. Perusahaan teknologi dapat meluncurkan kampanye kesadaran yang ditujukan kepada Generasi Z dan orang tua tentang pentingnya penggunaan digital yang sehat dan bertanggung jawab. Kampanye ini dapat dilakukan melalui media sosial, iklan, atau kerja sama dengan influencer yang kredibel.
Permasalahan gaya hidup tidak sehat di kalangan Generasi Z yang dipicu oleh pola konsumsi digital memerlukan perhatian dan tindakan nyata dari berbagai pihak. Pemerintah perlu segera merumuskan dan mengimplementasikan regulasi yang efektif. Platform digital diharapkan dapat proaktif dalam menciptakan lingkungan yang lebih sehat. Industri teknologi didorong untuk berinovasi dalam mendukung kesehatan pengguna. Orang tua perlu meningkatkan pengawasan dan edukasi di rumah. Generasi Z perlu meningkatkan kesadaran dan mengambil peran aktif dalam mengelola pola konsumsi digital mereka.
ADVERTISEMENT