Konten dari Pengguna

Pertanyaan Intrusif Saat Lebaran dan Kaitannya dengan Kesehatan Mental

wahyu andrianto
Konsultan Hukum Kesehatan, Anggota Aktif WAML, Counsel Beberapa Lawfirm, Wakil Ketua Umum Masyarakat Hukum Kesehatan Indonesia.
6 April 2025 9:05 WIB
·
waktu baca 8 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari wahyu andrianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Lebaran adalah puncak dari bulan Ramadan, sebuah perayaan kemenangan spiritual yang dirayakan dengan berkumpul bersama keluarga besar dan kerabat. Tradisi silaturahmi ini mendorong interaksi yang intens dan mendalam antar anggota keluarga yang jarang bertemu di hari-hari biasa. Dalam budaya Indonesia, bertanya tentang kabar dan perkembangan hidup seseorang adalah cara umum untuk memulai dan menjaga percakapan. Pertanyaan mengenai status pernikahan dan keturunan telah menjadi semacam "topik wajib" atau kebiasaan yang dianggap wajar dalam pertemuan keluarga, terutama bagi anggota keluarga yang dianggap sudah "pantas" untuk menikah atau memiliki anak berdasarkan usia atau status sosial. Kebiasaan ini diturunkan dari generasi ke generasi. Orang tua atau anggota keluarga yang lebih tua mungkin merasa memiliki hak atau bahkan kewajiban untuk menanyakan hal tersebut kepada anggota keluarga yang lebih muda, karena mereka juga pernah mengalami hal serupa.
ADVERTISEMENT
Masyarakat Indonesia secara umum sangat menjunjung tinggi nilai-nilai keluarga. Pernikahan dan memiliki keturunan dianggap sebagai tujuan hidup yang penting dan sebagai penanda kedewasaan serta keberhasilan seseorang dalam kehidupan. Ada ekspektasi sosial yang kuat terhadap individu untuk menikah dan memiliki anak pada usia tertentu. Individu yang belum menikah atau belum memiliki anak dianggap "berbeda" atau bahkan menimbulkan pertanyaan dan spekulasi di kalangan masyarakat. Tekanan ini bisa datang dari berbagai pihak, mulai dari keluarga inti, kerabat jauh, hingga teman dan lingkungan sosial. Pertanyaan "Kapan nikah?" dan "Kapan punya anak?" menjadi manifestasi dari tekanan sosial ini, seolah-olah ada "deadline" yang harus dipenuhi. Dalam beberapa budaya dan keluarga, memiliki anak juga dianggap penting untuk meneruskan nama baik keluarga dan garis keturunan. Hal ini semakin memperkuat tekanan bagi pasangan yang sudah menikah untuk segera memiliki anak.
ADVERTISEMENT
Seringkali, pertanyaan-pertanyaan ini diajukan dengan niat yang baik, yaitu menunjukkan perhatian dan kepedulian terhadap anggota keluarga. Orang yang bertanya mungkin merasa ingin tahu perkembangan hidup orang lain dan ingin berbagi kebahagiaan jika mereka sudah menikah atau memiliki anak. Sayangnya, banyak orang yang bertanya tidak menyadari bahwa pertanyaan-pertanyaan ini bisa sangat sensitif dan menyakitkan bagi sebagian orang. Mereka tidak tahu bahwa individu yang ditanya sedang berjuang dengan masalah kesuburan, belum menemukan pasangan yang tepat, atau memiliki pilihan hidup yang berbeda. Masyarakat seringkali terpaku pada "milestone" kehidupan yang dianggap normatif, yaitu menikah dan memiliki anak. Mereka tidak menyadari bahwa kebahagiaan dan keberhasilan hidup seseorang tidak hanya diukur dari status pernikahan dan jumlah anak. Terkadang, pertanyaan-pertanyaan ini diajukan hanya sebagai basa-basi tanpa dipikirkan lebih lanjut dampaknya. Namun, bagi orang yang menerimanya, pertanyaan yang berulang-ulang bisa terasa seperti interogasi dan semakin memperburuk perasaan tidak nyaman.
ADVERTISEMENT
Individu yang sering menerima pertanyaan ini dapat merasa tertekan untuk memenuhi ekspektasi sosial dan keluarga terkait pernikahan dan keturunan. Mereka merasa seolah-olah ada "target" yang harus dicapai, dan kegagalan dalam mencapai target tersebut dapat menimbulkan stres dan kecemasan yang berlebihan. Pasangan muda yang sudah menikah, tetapi belum dikaruniai anak mungkin merasa cemas saat berkumpul dengan keluarga besar. Mereka khawatir akan pertanyaan "Kapan punya anak?" dan merasa tertekan untuk segera memberikan kabar baik.
Masyarakat seringkali menormalisasi pernikahan dan memiliki anak sebagai "milestone" penting dalam kehidupan. Individu yang belum mencapai tahap ini, meskipun memiliki pencapaian lain dalam hidupnya, dapat merasa tidak berharga atau tidak cukup baik karena tidak sesuai dengan norma sosial yang berlaku. Seorang wanita yang memilih untuk fokus pada karir dan belum berencana memiliki anak mungkin merasa tidak cukup "sempurna" sebagai seorang wanita di mata sebagian masyarakat yang masih menganggap peran utama wanita adalah sebagai ibu. Pertanyaan "Kapan punya anak?" dapat membuatnya merasa bersalah atau tidak sesuai dengan ekspektasi sosial.
ADVERTISEMENT
Tekanan yang terus-menerus dan perasaan tidak berharga akibat pertanyaan intrusif dapat menjadi faktor pemicu atau memperburuk kondisi depresi pada individu yang rentan. Merasa terus-menerus dihakimi dan tidak diterima dapat mengikis kesehatan mental seseorang secara signifikan. Perasaan ini jika terus berlanjut dapat memicu gejala depresi seperti kehilangan minat, sedih berkepanjangan, dan menarik diri dari lingkungan sosial. Pasangan yang mengalami kesulitan untuk memiliki anak dan terus-menerus ditanya kapan akan memiliki momongan dapat merasa sangat terpukul dan sedih. Tekanan emosional yang berkepanjangan ini dapat memperburuk kondisi mental mereka dan bahkan memicu depresi.
Rasa takut dan tidak nyaman menghadapi pertanyaan-pertanyaan intrusif dapat membuat individu enggan untuk menghadiri pertemuan keluarga atau teman saat Lebaran. Mereka mungkin merasa lebih baik menghindari situasi yang berpotensi menimbulkan stres dan perasaan tidak nyaman. Pertanyaan-pertanyaan intrusif yang berulang kali diterima dapat membuat individu merasa rendah diri dan tidak percaya diri. Mereka mungkin mulai mempertanyakan diri sendiri dan merasa ada yang salah dengan diri mereka karena belum mencapai "milestone" yang diharapkan oleh orang lain.
ADVERTISEMENT
Keluarga merupakan unit sosial terkecil namun paling fundamental dalam masyarakat Indonesia. Ikatan kekeluargaan sangat kuat, dan keputusan individu seringkali dipengaruhi oleh pertimbangan keluarga besar. Pernikahan dan memiliki anak dipandang sebagai langkah penting dalam siklus kehidupan yang tidak hanya menyangkut individu, tetapi juga melibatkan seluruh keluarga. Keturunan memiliki makna penting dalam banyak budaya di Indonesia, termasuk sebagai penerus nama keluarga dan tradisi. Oleh karena itu, pernikahan yang diharapkan berujung pada kelahiran anak seringkali menjadi fokus perhatian dan harapan keluarga.
Dalam masyarakat yang sangat menekankan pernikahan dan keturunan, individu yang belum menikah atau belum memiliki anak di usia yang dianggap "pantas" seringkali dianggap "tidak lengkap" atau "tertinggal" dari teman-teman seusianya. Hal ini bisa menimbulkan perasaan terasing dan tekanan untuk segera "menyusul". Orang-orang di sekitar, terutama keluarga yang lebih tua, seringkali menunjukkan rasa kasihan atau kekhawatiran yang berlebihan terhadap individu yang belum menikah atau belum memiliki anak. Meskipun mungkin dilandasi niat baik, hal ini justru dapat memperkuat perasaan tidak nyaman dan tertekan. Meskipun zaman sudah berubah, dalam beberapa komunitas, status pernikahan dan kepemilikan anak masih dapat memengaruhi status sosial seseorang. Individu yang belum menikah atau belum memiliki anak dianggap kurang "dewasa" atau kurang memiliki tanggung jawab.
ADVERTISEMENT
Lebaran dianggap sebagai waktu yang tepat untuk berbagi kabar baik dan pencapaian dalam hidup. Bagi banyak keluarga, kabar pernikahan dan kelahiran cucu adalah kabar yang sangat membahagiakan. Pertemuan keluarga besar seringkali menjadi ajang untuk membandingkan status dan pencapaian antar anggota keluarga. Individu yang belum menikah atau belum memiliki anak mungkin merasa "terpojok" ketika melihat anggota keluarga lain yang sudah memiliki keluarga lengkap. Sebagai bagian dari tradisi silaturahmi, menanyakan kabar pribadi dianggap sopan. Namun, dalam konteks pernikahan dan keturunan, pertanyaan ini bisa menjadi sangat sensitif.
"Regulasi etika bertanya" merujuk pada seperangkat prinsip atau pedoman yang mengatur cara individu mengajukan pertanyaan dalam interaksi sosial, dengan tujuan untuk menghormati batasan pribadi, privasi, dan kesejahteraan emosional orang lain. Regulasi ini tidak selalu berbentuk peraturan hukum yang tertulis, melainkan lebih kepada norma-norma sosial, kesadaran individu, dan pemahaman akan dampak pertanyaan yang diajukan.
ADVERTISEMENT
Dalam konteks pertanyaan intrusif saat Lebaran, regulasi etika bertanya berfokus pada bagaimana kita seharusnya mengajukan pertanyaan terkait topik-topik sensitif seperti status pernikahan dan keturunan, agar tidak menimbulkan tekanan, stres, atau perasaan tidak nyaman bagi yang ditanya. Hal ini mencakup kesadaran akan batasan informasi pribadi yang pantas untuk ditanyakan, waktu dan tempat yang tepat untuk bertanya, serta cara menyampaikan pertanyaan yang tidak menghakimi atau memaksa.
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, pertanyaan intrusif dapat memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap kesehatan mental, termasuk stres, kecemasan, perasaan tidak berharga, bahkan depresi. Regulasi etika bertanya dapat membantu meminimalisir dampak buruk ini dengan mendorong orang untuk lebih berhati-hati dalam bertanya. Lebaran seharusnya menjadi momen yang penuh dengan kebahagiaan, kebersamaan, dan saling memaafkan. Pertanyaan intrusif dapat merusak suasana positif ini dan menciptakan rasa tidak nyaman atau bahkan permusuhan antar anggota keluarga atau kerabat.
ADVERTISEMENT
Setiap individu memiliki hak atas privasinya. Pertanyaan tentang pernikahan dan keturunan adalah hal yang sangat pribadi dan sensitif. Regulasi etika bertanya menekankan pentingnya menghormati batasan ini dan tidak memaksa seseorang untuk berbagi informasi yang tidak ingin mereka bagikan. Etika bertanya mengajarkan kita untuk mempertimbangkan perasaan dan situasi orang lain sebelum mengajukan pertanyaan. Ini mendorong komunikasi yang lebih empatik dan penuh pengertian, di mana kita lebih fokus pada membangun hubungan yang positif daripada sekadar memenuhi rasa ingin tahu.
Pertanyaan-pertanyaan intrusif seperti "Kapan nikah?" dan "Kapan punya anak?" yang kerap menghiasi perayaan Lebaran di Indonesia, meskipun sering dianggap sebagai tradisi atau bentuk perhatian, terbukti memiliki kaitan erat dengan potensi gangguan kesehatan mental. Tekanan untuk memenuhi ekspektasi sosial dan keluarga yang termanifestasi dalam pertanyaan-pertanyaan ini dapat memicu stres, kecemasan, perasaan tidak berharga, hingga depresi bagi sebagian individu. Menyadari dampak negatif ini, muncul pertanyaan mengenai perlunya regulasi etika bertanya. Solusi yang lebih relevan dan efektif terletak pada penguatan norma sosial yang lebih empatik, peningkatan edukasi dan sosialisasi mengenai dampak pertanyaan sensitif, serta penyediaan pedoman komunikasi yang menghargai privasi dan perasaan orang lain. Pada akhirnya, esensi Lebaran sebagai momen kebahagiaan dan silaturahmi akan semakin terasa jika kita semua belajar untuk berkomunikasi dengan lebih bijak, mengedepankan empati, dan menjadikan kesehatan mental sebagai prioritas bersama.
ADVERTISEMENT
Sumber foto: https://pixabay.com/id/photos/rakyat-emosi-dramatis-perempuan-1492052/