Inovasi Teknologi Tepat Guna Mesin Perontok Padi di Desa Buah Dua Sumedang

Dosen Teknik Pertanian dan Biosistem, Universitas Padjadjaran
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Wahyu Sugandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sektor pertanian tanaman pangan di wilayah perdesaan Indonesia masih dihadapkan pada tantangan struktural pada tahapan penanganan pascapanen, khususnya pada proses perontokan gabah dari malainya. Penanganan pascapanen yang masih mengandalkan metode konvensional secara manual kerap menjadi titik rawan terjadinya post-harvest losses atau penyusutan hasil panen, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Realitas ini dialami oleh para petani di Desa Buah, Kecamatan Buahdua, Kabupaten Sumedang, salah satu kawasan sentra produksi padi yang memiliki potensi agraris strategis. Keterbatasan akses terhadap teknologi perontokan modern menyebabkan proses pemanenan membutuhkan waktu yang relatif lama, biaya tenaga kerja yang tinggi, serta tingkat kehilangan hasil gabah yang signifikan di tingkat lahan.
Metode perontokan konvensional dengan cara digebot atau dipukul secara manual tidak hanya membutuhkan artikulasi tenaga fisik yang besar, tetapi juga berdampak pada penurunan mutu fisik gabah. Benturan mekanis yang tidak terukur secara berulang berpotensi menyebabkan bulir gabah retak atau pecah di dalam kulit hara, yang pada akhirnya menurunkan rendemen beras giling dan harga jual di tingkat petani. Di sisi lain, keterlambatan proses perontokan akibat keterbatasan tenaga kerja panen sering kali memaksa gabah tertumpuk di sawah dalam kondisi lembap. Kondisi mikroklimat tersebut memicu risiko pembusukan, penurunan kadar kebersihan gabah, serta masuknya serangan hama maupun mikroba perusak kualitas simpan.
Melihat urgensi efisiensi pascapanen tersebut, Universitas Padjadjaran (Unpad) hadir mengambil peran strategis sebagai fasilitator riset dan pengabdian masyarakat. Sinergi institusional ini mengintegrasikan kepakaran akademis perguruan tinggi dengan kebutuhan riil masyarakat agraris melalui alih teknologi tepat guna berupa mesin perontok padi (power thresher). Intervensi ini dirancang untuk mendiseminasikan mekanisasi pertanian berbasis kebutuhan lokal yang dapat dioperasikan dan dirawat secara mandiri oleh kelompok tani di Desa Buah Dua.
Secara mekanis dan teknis, implementasi mesin perontok padi ini membawa transformasi signifikan dalam rasio efisiensi pemanenan gabah. Mekanisme kerja mesin bertumpu pada putaran silinder perontok (threshing drum) yang dilengkapi dengan gerigi atau gigi perontok berbahan logam yang terkalibrasi. Ketika jerami berserta malai padi dimasukkan ke dalam ruang perontokan, silinder yang berputar pada kecepatan putar (RPM) konstan akan memberikan gaya pukulan dan gesekan mekanis yang terukur pada malai. Proses mekanis ini melepaskan bulir gabah dari tangkainya secara cepat dan presisi tanpa merusak struktur anatomi bulir beras di dalamnya. Setelah terlepas dari malai, gabah akan jatuh menuju sistem pemisah dan pembersih integral di bagian bawah mesin. Komponen kipas penghembus (blower) yang terintegrasi secara otomatis mengalirkan arus udara untuk memisahkan gabah bernas dari kotoran ringan, jerami halus, dan hampa. Gabah yang bersih dan berbobot kemudian terdorong keluar menuju saluran pengeluaran (discharge spout) untuk langsung ditampung dalam karung. Mekanisme terintegrasi ini tidak hanya memangkas waktu kerja perontokan secara drastis jika dibandingkan dengan metode manual, tetapi juga mampu menekan angka kehilangan hasil gabah hingga di bawah batas toleransi teknis yang direkomendasikan.
Keberhasilan penerpan teknologi tepat guna mesin perontok padi di Desa Buah, Kecamatan Buahdua, menorehkan bukti empiris bahwa alih teknologi mampu meningkatkan kapasitas produktivitas dan kesejahteraan petani secara terukur. Efisiensi waktu panen memungkinkan petani untuk mempercepat siklus pengolahan tanah menuju musim tanam berikutnya, sementara penekanan biaya operasional tenaga kerja dapat mengoptimalkan marjin keuntungan bersih kelompok tani. Kolaborasi institusional antara Unpad dan kelompok tani di Desa Buah Dua ini membuktikan bahwa modernisasi pertanian tidak selalu harus berbiaya mahal atau rumit, melainkan berfokus pada ketepatan fungsi, kemudahan operasional, serta keberlanjutan dampak sosial-ekonomi.
Penerapan teknologi tepat guna mesin perontok padi di Desa Buah, Kecamatan Buahdua, Kabupaten Sumedang, memberikan gambaran nyata mengenai pentingnya transformasi teknologi pada hilirisasi pertanian perdesaan. Keberlanjutan dari program pemberdayaan ini sangat bergantung pada konsistensi pendampingan akademis dari Unpad, penguatan kelembagaan kelompok tani dalam tata kelola pemeliharaan mesin, serta dukungan pemerintah daerah dalam memfasilitasi sarana prasarana pendukung. Melalui optimalisasi teknologi pascapanen yang presisi, Desa Buah tidak hanya berhasil meningkatkan efisiensi rantai produksi padi, tetapi juga berkontribusi nyata dalam memperkuat ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.
