Model Petani dan Peternak Desa Bumiwangi Melalui Inovasi Agroteknologi

Dosen Teknik Pertanian dan Biosistem, Universitas Padjadjaran
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Wahyu Sugandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Oleh: Wahyu Sugandi, Asep Yusuf, Iman hernaman – Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem dan Departemen Peternakan, Universitas Padjadjaran
Sektor pertanian dan peternakan di wilayah perdesaan Indonesia secara historis sering kali dikelola sebagai dua entitas yang terpisah secara fungsional. Padahal, dalam kerangka pembangunan pertanian berkelanjutan, keduanya memiliki potensi integrasi ekologis dan ekonomis yang saling menguatkan melalui pendekatan crop-livestock system. Realitas ketimpangan ini terlihat di Desa Bumiwangi, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung. Sebagai salah satu kawasan agraris produktif, Desa Bumiwangi dihadapkan pada tantangan sistemik penanganan pascapanen padi serta akumulasi limbah biomassa berupa jerami yang belum terutilisasi secara optimal. Praktik pembakaran jerami sisa panen secara terbuka (open burning) yang masih berlangsung di tingkat petani lokal tidak hanya mencerminkan ketidakefisiensian pengelolaan limbah, tetapi juga berdampak pada degradasi kualitas lingkungan. Pembakaran jerami secara masif memicu pelepasan emisi gas rumah kaca, merusak struktur fisik dan biokimia tanah hara, serta membunuh mikroorganisme tanah yang esensial bagi kesuburan siklis sawah. Di sisi lain, pada saat yang bersamaan, para peternak di wilayah Ciparay kerap mengalami defisit pakan berkualitas tinggi, terutama saat memasuki musim kemarau. Paradoks struktural ini menegaskan pentingnya intervensi teknologi pascapanen dan pemanfaatan limbah berbasis pemberdayaan masyarakat.
Melihat urgensi tersebut, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) melalui Universitas Padjadjaran (Unpad) hadir mengambil peran strategis sebagai fasilitator riset dan pengabdian masyarakat. Sinergi ini mengintegrasikan kepakaran akademis perguruan tinggi dengan kebijakan pengembangan kawasan perdesaan, guna menghadirkan solusi berbasis agroteknologi tepat guna yang dapat diadaptasi secara langsung oleh kelompok tani dan peternak lokal.
Upaya rekonstruksi tata kelola pertanian di Desa Bumiwangi yang diinisiasi oleh Kemendiktisaintek melalui Unpad diawali dengan perbaikan pada hilirisasi pascapanen padi. Keterbatasan akses terhadap teknologi perontokan padi dan pencacahan Jerami padi yang presisi kerap memicu post-harvest losses atau penyusutan hasil panen, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Melalui pendekatan inovasi pascapanen yang terstruktur, petani didorong untuk melakukan standarisasi penanganan gabah guna mempertahankan kadar air optimal dan menekan tingkat kerusakan bulir. Peningkatan efisiensi ini tidak hanya memperkuat posisi tawar petani di rantai pasok pasar, tetapi juga menjadi pijakan awal dalam menciptakan nilai tambah ekonomi (value creation) pada produk beras lokal.
Transformasi fundamental terjadi pada paradigma pengelolaan limbah jerami padi melalui penerapan prinsip ekonomi sirkular. Dengan mengaplikasikan bioteknologi pengolahan pakan tepat guna, jerami padi yang semula dikategori sebagai residu tak bernilai ditransformasikan menjadi komoditas strategis. Tahapan pengolahan diawali dengan proses mekanis berupa pencacahan jerami menggunakan mesin chopper untuk mereduksi ukuran serat menjadi bagian-bagian kecil berukuran dua hingga lima sentimeter. Proses pencacahan ini sangat krusial secara biologis karena bertujuan merusak struktur lignoselulosa yang keras, merenggangkan ikatan lignin, serta memperluas permukaan kontak bagi enzim mikroba. Luas permukaan yang meningkat secara signifikan mempermudah penetrasi bakteri mengurai serat kasar yang biasanya sulit dicerna oleh organ pencernaan ruminansia.
Setelah tahap pencacahan mekanis selesai, jerami hasil cacahan memasuki fase formulasi bioteknologi pembuatan pakan silase atau amoniasi. Potongan jerami tersebut dicampur secara merata dengan bahan aditif nutrisi seperti molase sebagai sumber karbohidrat siap pakai, dedak halus, serta inokulan mikroorganisme efektif (starter bakteri asam laktat). Campuran tersebut kemudian dimasukkan dan dipadatkan ke dalam silo atau kantong anaerobik kedap udara untuk menjalani proses fermentasi terkontrol. Kondisi anaerobik yang tercipta mendorong pertumbuhan bakteri baik untuk menekan pH pakan, memutus rantai serat kompleks, dan meningkatkan palatabilitas serta kandungan protein kasar pada jerami. Pakan fermentasi yang dihasilkan tidak hanya memiliki tingkat kecernaan dan nilai gizi yang jauh lebih tinggi daripada jerami segar, tetapi juga memiliki daya simpan yang panjang sebagai cadangan pakan bernutrisi tinggi saat pasokan rumput menurun. Selain dikonversi menjadi pakan berkualitas, jerami sisa juga dialokasikan untuk pemrosesan kompos organik guna mengembalikan unsur hara makro dan mikro ke dalam struktur tanah sawah, yang secara simultan mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk anorganik sintetis. Keberhasilan pemberdayaan kelompok tani dan kelompok ternak di Desa Bumiwangi menorehkan bukti empiris bahwa integrasi lintas sektor di tingkat lokal mampu menciptakan ekosistem pertanian terpadu yang mandiri. Efisiensi biaya produksi dapat dicapai dari dua arah: petani menekan pengeluaran input pupuk kimia, sementara peternak memangkas alokasi biaya dan waktu untuk pengadaan pakan harian. Kolaborasi institusional antara Kemendiktisaintek, Unpad, dan pemerintah desa ini membuktikan bahwa kapabilitas teknologi tidak harus selalu berskala besar, melainkan berfokus pada ketepatan guna, kemudahan adopsi, serta dampak sosial-ekonomi yang terukur bagi komunitas lokal.
Model pemanfaatan limbah jerami dan inovasi pascapanen di Desa Bumiwangi, Kecamatan Ciparay, menawarkan cetak biru (blueprint) pembangunan desa agraris yang tangguh dan berbasis pengetahuan (knowledge-based agriculture). Keberlanjutan dari inisiatif ini sangat bergantung pada konsistensi pendampingan akademis dari Kemendiktisaintek melalui Unpad, peningkatan kapasitas sumber daya manusia lokal, serta instrumen kebijakan pemerintah daerah yang mendukung rantai pasok hijau. Melalui optimalisasi setiap tahap rantai nilai pertanian, Desa Bumiwangi tidak hanya melangkah menuju kemandirian ekonomi, tetapi juga berkontribusi nyata dalam menjaga ketahanan pangan dan kelestarian ekosistem pertanian secara berkelanjutan.
