Unpad dan Kecamatan Jatinangor berkolaborasi dalam Menjawab Darurat Sampah

Dosen Teknik Pertanian dan Biosistem, Universitas Padjadjaran
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Wahyu Sugandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sampah
Oleh: Wahyu Sugandi, Irfan Zidni, Asep Yusuf, Boy Macklin dan. Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Departemen Perikanan Universitas Padjadjaran

Persoalan sampah di kawasan perkotaan maupun wilayah penyangga kampus bukanlah sekadar isu kebersihan lingkungan belaka. Lebih dari itu, sampah adalah cermin dari budaya harian, efektivitas tata kelola pemerintahan lokal, serta sejauh mana integrasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dapat terbangun secara substantif. Kawasan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, dikenal luas sebagai salah satu pusat pendidikan tinggi terbesar di Jawa Barat. Kehadiran puluhan ribu mahasiswa setiap tahunnya menjadikan Jatinangor sebagai wilayah yang sangat dinamis dengan denyut aktivitas ekonomi yang terus berputar. Namun, di balik geliat akademis dan ekonomi yang tinggi tersebut, terdapat konsekuensi ekologis yang tidak bisa diabaikan. Lonjakan volume sampah harian yang kian menumpuk. Menjawab tantangan mendesak ini, langkah konkret ditunjukkan melalui pencanangan gerakan CEUMILAH (Cekatan Milah Milih Sampah) yang diusung dalam ruang dialog kemasyarakatan bertajuk NGABEDEGA (Ngawangkong Babalagonjangan Deukeut Jeung Warga). Program ini lahir dari kolaborasi strategis antara Direktorat Riset, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Inovasi (DRHPM) Universitas Padjadjaran (Unpad) bersama Pemerintah Kecamatan Jatinangor.
Pendekatan edukasi lingkungan sering kali gagal menembus kesadaran masyarakat karena dikemas terlalu teoritis, kaku, dan menggunakan bahasa instruktif yang berjarak dari realitas warga. Disinilah letak keunikan ajang NGABEDEGA mengusung filosofi komunikasi kearifan lokal Sunda. Ngawangkong berarti mengobrol secara santai, sementara Babalagonjangan mencerminkan suasana yang akrab, penuh canda, namun tetap sarat isi. Melalui ruang dialog ini, Unpad dan Kecamatan Jatinangor meruntuhkan tembok pembatas perguruan tinggi. Masalah lingkungan tidak lagi dibahas dalam istilah-istilah teknis yang rumit di dalam ruang seminar, melainkan didiskusikan secara terbuka di tengah warga dengan gaya bahasa yang membumi, hangat, dan inklusif. Pendekatan kultural ini membuktikan bahwa edukasi publik akan jauh lebih efektif ketika masyarakat ditempatkan sebagai mitra diskusi, bukan sekadar sasaran instruksi. CEUMILAH bukan sekadar slogan yang bagus di atas spanduk, melainkan sebuah ajakan aksi nyata untuk mengubah perilaku masyarakat dalam mengelola sampah langsung dari sumber utamanya, yaitu rumah tangga dan tempat pemukiman mahasiswa.
Selama berdekad-dekad, pola pikir masyarakat kita terhadap sampah didominasi oleh paradigma lama yang pasif: Kumpul – Angkut – Buang. Pola ini mengasumsikan bahwa kewajiban warga selesai setelah sampah dipindahkan dari pekarangan rumah ke tempat pembuangan. Padahal, paradigma linier inilah yang memicu krisis di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) akibat kapasitas pengolahan yang tak lagi seimbang dengan volume
Persoalan sampah di Jatinangor memiliki kompleksitas tersendiri akibat struktur populasinya yang unik. Di satu sisi, ada masyarakat lokal yang menetap dengan pola konsumsi rumah tangga harian. Di sisi lain, terdapat populasi sementara yang massif yaitu mahasiswa dengan mobilitas tinggi dan keterbatasan ruang di area kos-kosan.
Sinergi antara DRHPM Unpad dan Kecamatan Jatinangor menjadi kunci penting untuk menjembatani dinamika ini. Pemerintah Kecamatan Jatinangor memegang peran kunci dalam penguatan regulasi lokal, pengorganisasian struktur warga di tingkat RT/RW, serta penyediaan jalur pengangkutan sampah yang terintegrasi menuju TPS3R. DRHPM Unpad hadir membawa kepakaran akademis, riset teknologi pengolahan limbah ramah lingkungan, serta penerjun mahasiswa dan dosen untuk melakukan pendampingan sosial secara berkelanjutan. Ketika akademisi memberikan solusi berbasis riset dan pemerintah menyediakan payung kebijakan serta fasilitas, gerakan pemilahan sampah di tingkat akar rumput memiliki pijakan yang jauh lebih kokoh.
Acara NGABEDEGA dan pencanangan CEUMILAH adalah pemantik awal yang sangat berharga. Namun, tolok ukur keberhasilan dari sebuah gerakan lingkungan hidup tidak diukur dari seberapa meriah acara peluncurannya, melainkan dari konsistensi eksekusi dalam kehidupan sehari-hari. Kolaborasi antara DRHPM Unpad dan Kecamatan Jatinangor telah membuktikan bahwa integrasi antara dunia akademis dan pemerintah lokal dapat menghasilkan formula komunikasi publik yang segar, akrab, dan berdaya guna. Sekarang, tanggung jawab berada di tangan seluruh elemen Masyarakat baik warga lokal, pemilik unit kos, maupun mahasiswa untuk memastikan bahwa budaya Cekatan Milah Milih Sampah benar-benar menjadi gaya hidup baru di Jatinangor yang bersih, sehat, dan berkelanjutan bukan lagi sekadar wacana di meja diskusi, melainkan bentuk kepedulian nyata yang kita mulai dari memilah sampah di rumah kita sendiri.
