Konten dari Pengguna

Pelatihan SOEL di Werianggi: Kalau Ketua Tidak Ada, Siapa Pegang Buku Kas?

Wahyu Firdaus

Wahyu Firdaus

Social Researcher, Anthropologist, Universitas Indonesia

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Wahyu Firdaus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar 1. Kebersamaan Tim 11 Ekspedisi Patriot UI dan peserta program pelatihan ekonomi lokal SOEL yang diselenggarakan di Werianggi-Werabur. (Sumber: Tim 11 Ekspedisi Patriot SOEL)
zoom-in-whitePerbesar
Gambar 1. Kebersamaan Tim 11 Ekspedisi Patriot UI dan peserta program pelatihan ekonomi lokal SOEL yang diselenggarakan di Werianggi-Werabur. (Sumber: Tim 11 Ekspedisi Patriot SOEL)

Kelompok usaha di kampung seperti Werianggi, Papua Barat, jarang macet karena kekurangan jabatan. Usaha lebih sering tersendat karena pengetahuan dan catatannya hanya tersimpan di kepala satu orang.

Itulah salah satu pelajaran dari pelatihan Sekolah Operator Ekonomi Lokal (SOEL) di Kampung Werianggi, Distrik Nikiwar, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat. Pelatihan empat hari itu berlangsung pada 2, 3, 5, dan 6 Oktober 2026 di SD YPK Werianggi. Pelaksananya adalah Tim 11 Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia yang bertugas di Werianggi–Werabur, bagian dari program Ekspedisi Patriot Kementerian Transmigrasi.

Pesertanya berasal dari tiga kelompok usaha. Ayawata mengolah buah pala menjadi produk turunan, seperti manisan dan sari pala. Kelompok Minyak Lawang memproduksi minyak kayu lawang. Kelompok ketiga, Sumber Rezeki, beranggotakan pelaku usaha dan petani. Gagasan membentuk kelompok ini justru lahir pada hari pertama pelatihan.

SOEL dirancang untuk memperkuat kelompok usaha bersama (KUB) sekaligus menyiapkan operator ekonomi lokal, yaitu warga yang mampu menggerakkan pengelolaan dan pencatatan usaha di kelompoknya. Materinya mencakup growth mindset (pola pikir bertumbuh) kewirausahaan, perilaku wirausaha, manajemen KUB, dan pencatatan keuangan, dalam paket modul berjudul "Kenal Diri, Baku Bantu, Catat untuk Putuskan".

Pelatihan dipandu Elisabet Karma, yang akrab disapa Ibu Elis, fasilitator asal Biak Numfor dari Yayasan Pengembangan Pelatihan untuk Perubahan Sosial di Tanah Papua (YP3SP)–Training for Transformation (TFT) Papua.

Gambar 2. Fasilitator Elisabet Karma (Ibu Elis) membawakan materi growth mindset kewirausahaan pada hari pertama pelatihan SOEL di SD YPK Werianggi, 2 Oktober 2026. Di dinding tertempel gambar pohon dan aturan main yang disusun peserta. (Sumber: Tim 11 Ekspedisi Patriot UI)

Satu kacang, satu giliran bicara

Hari pertama dibuka dengan cara sederhana. Sebutir kacang kulit berpindah dari tangan ke tangan. Siapa yang memegangnya wajib berbicara, dan setelah pendapatnya tersampaikan, kacang itu boleh dimakan. Satu orang, satu kacang. Dengan "tiket bicara" itu, peserta yang biasanya memilih diam ikut bersuara.

Peserta juga menyusun sendiri 13 aturan main, mulai dari tidak merokok dan makan pinang di dalam ruangan, datang lima sampai sepuluh menit lebih awal, hingga tidak memotong orang yang sedang berbicara.

Setelah itu, mereka menggambar pohon usaha. Doa, modal, pengalaman, dan kebersamaan disebut sebagai akar. Dukungan keluarga, adat, dan kampung menjadi batang. Duri yang paling sering muncul adalah pasar: bingung hendak menjual ke mana, malu dan takut memasarkan produk ke luar kampung, serta kecewa ketika dagangan tidak laku.

Dari gambar itu terlihat bahwa hambatan usaha bukan semata soal kemampuan produksi, melainkan juga soal kepercayaan diri dan akses pasar.

Ibu Elis tidak menjawab duri-duri itu dengan resep siap pakai. Ia menekankan bahwa "Tuhan memberikan kelebihan pada semua orang" dan setiap duri dapat dicari jalan keluarnya. Ranting pohon lalu dibaca sebagai langkah yang bisa ditempuh, seperti menitipkan produk dan berpromosi.

Seorang peserta merangkum harapannya dalam satu kalimat: "Bagaimana saya punya usaha dan saya bisa mengelolanya sendiri."

Kalau ketua tidak ada

Hari kedua dibuka dengan pertanyaan yang terdengar sepele: apa yang terjadi jika ketua kelompok tidak hadir? Jawaban peserta mengarah pada satu kesadaran: kelompok tidak boleh bergantung pada satu orang. Setiap anggota perlu memahami pekerjaan dasar kelompok, termasuk urusan uang yang selama ini kerap dianggap tugas bendahara saja.

Peserta merumuskan sendiri perilaku yang dibutuhkan: jujur dalam transaksi dan penggunaan barang kelompok; terbuka soal pesanan, bahan, maupun masalah; serta berani mengambil keputusan ketika ketua tidak ada. Pesanan harus tetap selesai meski ada anggota yang absen.

Gambar 3. Kelompok Sumber Rezeki membaca modul tentang perilaku wirausaha dan mengisi lembar Peta Tugas Kelompok, 3 Oktober 2026. (Sumber: Tim 11 Ekspedisi Patriot UI)

Ketiga kelompok berangkat dari titik yang berbeda. Minyak Lawang sudah memiliki peta pembagian kerja. Ayawata telah membuat catatan pekerjaan harian. Sumber Rezeki, yang baru digagas sehari sebelumnya, langsung membagi peran sekretaris dan bendahara. Namun, mereka sadar bahwa jabatan saja tidak cukup tanpa pencatatan pemasukan dan pengeluaran yang konsisten.

Menurut peserta, kelompok yang kuat bukan kelompok yang dibentuk secara administratif karena program atau keputusan dari luar, melainkan kelompok yang anggotanya menyadari adanya kepentingan bersama. Mereka menyebutnya baku bantu (saling membantu): ketika satu anggota kesulitan, anggota lain turun tangan agar pekerjaan tetap berjalan.

Gambar 4. Peserta memaparkan peran dan fungsi masing-masing dalam kelompok usaha pada sesi manajemen KUB, 3 Oktober 2026. (Sumber: Tim 11 Ekspedisi Patriot UI)

Ketika baku bantu menyentuh kas

Namun, baku bantu juga punya sisi yang tidak sederhana. Kelompok Minyak Lawang bercerita bahwa uang usaha kadang diminta keluarga atau kerabat yang sedang membutuhkan bantuan. "Hal kasih terlalu besar," kata mereka. Urusan memberi kepada keluarga, maksudnya, terlalu besar.

Di kampung, uang bukan hanya modal usaha, melainkan juga sarana menolong saudara. Dilemanya nyata: kapan uang itu harus tetap menjadi milik usaha, dan kapan boleh dipakai untuk membantu keluarga? Bagi peserta, keduanya sama penting dan tidak selalu mudah dipisahkan.

Di titik inilah catatan menjadi penting. Bukan untuk melarang orang menolong saudara, melainkan agar kelompok tahu berapa uang yang keluar dan untuk apa.

Buku kas dan angka yang diperdebatkan

Hari ketiga dan keempat beralih ke pencatatan keuangan: buku kas, catatan penjualan, dan Buku Belum Bayar (buku bon). Dalam studi kasus "Uang Ini ke Mana?", peserta menghitung alur uang dari kas awal, pembelian bahan, hingga hasil penjualan. Jawaban mereka berbeda-beda, dan masing-masing mempertahankan hitungannya.

Dari perdebatan itu, catatan dipahami bukan sekadar tempat menulis angka. Ketika uang di tangan tidak sesuai dengan jumlah di buku, catatan menjadi alat untuk menelusuri ke mana selisih itu pergi. Persoalan ini juga bukan sekadar soal latihan. Pada hari kedua, Sumber Rezeki sempat mengingatkan Minyak Lawang bahwa jumlah uang mereka tidak cocok dengan catatan di buku.

Gambar 5. Peserta mendiskusikan studi kasus pencatatan keuangan pada hari keempat pelatihan SOEL, 6 Oktober 2026. (Sumber: Tim 11 Ekspedisi Patriot UI)

Seorang mama dari Ayawata kemudian mengajukan contoh dari penjualan kelompoknya sendiri dan mengajak peserta lain menghitung bersama. Soal latihan tidak lagi hanya datang dari fasilitator; pengalaman kelompok ikut menjadi bahan belajar.

Materi tersulit adalah "catatan yang harus ditinggal", yaitu catatan yang bisa dibaca anggota lain ketika seseorang berhalangan, agar pekerjaan tidak berhenti. Hanya sebagian kecil peserta yang mampu mengisinya dengan benar karena materi ini menuntut beberapa keterampilan sekaligus. Sebagian peserta masih kesulitan membaca, menulis, atau melihat tulisan sehingga perlu dibantu fasilitator pendamping. Peserta pengganti juga harus mengejar materi yang terlewat. Pengulangan dan pendampingan bertahap masih dibutuhkan.

Usaha kampung di Werianggi, urusan keluarga

Ada pola yang terlihat sejak hari pertama. Banyak anggota laki-laki tidak hadir dan diwakili istri, anak, atau saudara perempuan. Pada hari kedua, hanya satu peserta laki-laki yang datang. Diskusi justru digerakkan para mama: mereka bertanya, membantah, menerima koreksi, lalu bertanya lagi.

Batas antara anggota kelompok, keluarga anggota, dan orang yang menjalankan usaha ternyata cair. Usaha kampung adalah urusan keluarga, dan pengetahuan tentangnya berpindah di antara anggota keluarga. Karena itu, catatan yang bisa dibaca siapa saja menjadi makin penting.

Pada hari keempat, setelah materi keuangan, Tim 7 Ekspedisi Patriot UI mengisi sesi branding yang juga dipandu Ibu Elis. Peserta belajar membuat sketsa logo untuk produk mereka. Di sela istirahat, sebagian peserta tetap membuka modul dan membahas pencatatan keuangan sambil makan. Sumber Rezeki pun menyampaikan rencana untuk meresmikan diri sebagai kelompok usaha.

Kegiatan selesai sekitar pukul 18.00 WIT, bertepatan dengan listrik yang kembali menyala. Ruang kelas yang sejak siang dipenuhi perdebatan angka, cerita tentang keluarga, dan sketsa logo itu kembali terang.

Empat hari pelatihan tentu belum menyelesaikan semua persoalan. Sebagian peserta masih membutuhkan pendampingan untuk membuat catatan yang dapat dibaca dan dilanjutkan anggota lain. Namun, pertanyaan "bagaimana kalau ketua tidak ada?" telah membawa diskusi pada hal yang lebih mendasar: usaha bersama membutuhkan lebih dari sekadar jabatan.

Buku kas perlu diisi, pekerjaan perlu dibagi, dan keputusan perlu dipahami bersama. Ujian berikutnya ada di luar ruang kelas: apakah catatan itu tetap diisi setelah pelatihan usai, sehingga ketika satu orang berhalangan, usaha tetap berjalan.