Konten dari Pengguna

Memahami Human Capital melalui Pengalaman Magang di Lazismu DIY

Wanda Amelya

Wanda Amelya

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

·waktu baca 7 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Wanda Amelya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

credit: Wanda Amelya
zoom-in-whitePerbesar
credit: Wanda Amelya

Magang menjadi salah satu bentuk pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengenal dunia kerja secara lebih nyata. Pembelajaran tidak lagi hanya berlangsung melalui materi perkuliahan, tetapi juga melalui keterlibatan langsung dalam aktivitas organisasi, penyelesaian tugas, komunikasi dengan rekan kerja, serta proses menyesuaikan diri dengan standar yang berlaku di tempat kerja.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menjelaskan bahwa program magang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh pengalaman nyata di dunia profesional sekaligus mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan dalam pekerjaan. Pengalaman tersebut dapat menjadi pelengkap pembelajaran yang diperoleh mahasiswa selama berada di perguruan tinggi.

Hal tersebut menjadi relevan dalam pelaksanaan magang di Lazismu Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Lazismu DIY merupakan lembaga amil zakat nasional tingkat provinsi yang bergerak dalam pemberdayaan masyarakat melalui pendayagunaan dana zakat, infak, dan dana kedermawanan lainnya. Dalam menjalankan aktivitasnya, lembaga membutuhkan pengelolaan organisasi yang terstruktur, termasuk pembagian fungsi dan tanggung jawab sumber daya manusia.

Selama menjalani kegiatan magang, salah satu pembelajaran yang diperoleh berkaitan dengan human capital. Pembelajaran tersebut tidak berhenti pada pengenalan istilah, tetapi dilanjutkan dengan memahami job description, jabatan dalam setiap divisi, serta Key Performance Indicator (KPI).

Pengalaman tersebut menarik untuk dibahas karena memperlihatkan bahwa pengelolaan sumber daya manusia memiliki hubungan yang erat dengan bagaimana sebuah organisasi menjalankan pekerjaannya. Setiap posisi tidak berdiri sendiri. Ada tanggung jawab yang harus dijalankan, target yang perlu dipahami, serta hubungan kerja yang membuat satu bagian dapat mendukung bagian lainnya.

1. Memahami Organisasi melalui Proses Onboarding

Tahap awal pelaksanaan magang di Lazismu DIY dimulai dengan proses onboarding. Kegiatan ini menjadi tahap pengenalan terhadap lingkungan kerja sebelum mahasiswa diberikan tugas yang lebih spesifik.

Dalam onboarding, materi yang diperoleh meliputi SOP, budaya kerja Lazismu DIY, struktur organisasi, job description setiap divisi, serta human capital. Banyaknya informasi pada tahap awal membuat proses adaptasi menjadi bagian penting dalam kegiatan magang.

Pengenalan terhadap struktur organisasi memberikan gambaran bahwa pembagian kerja merupakan bagian penting dalam menjalankan suatu lembaga. Sebuah organisasi tidak hanya membutuhkan orang yang mampu mengerjakan tugas, tetapi juga membutuhkan pembagian tanggung jawab yang jelas agar pekerjaan dapat berjalan sesuai fungsi masing-masing.

Pemahaman tersebut menjadi dasar sebelum masuk ke penugasan berikutnya. Dengan mengetahui struktur organisasi dan fungsi setiap divisi, proses membaca job description menjadi lebih mudah karena tanggung jawab suatu jabatan dapat dilihat berdasarkan posisi dan kebutuhan divisinya.

Tahap adaptasi juga memperlihatkan bahwa memasuki lingkungan kerja membutuhkan kemampuan untuk memahami hal-hal yang sebelumnya tidak selalu ditemukan dalam kegiatan perkuliahan. Mahasiswa perlu memperhatikan aturan, cara berkomunikasi, alur koordinasi, hingga kebiasaan kerja yang berlaku.

Dengan demikian, onboarding bukan sekadar kegiatan perkenalan. Bagi peserta magang, tahap ini menjadi proses untuk memahami konteks sebelum menjalankan pekerjaan. Pemahaman tersebut kemudian menjadi dasar ketika mulai menerima tanggung jawab yang lebih spesifik.

2. Pengalaman Terlibat dalam Kegiatan Beasiswa Sang Surya

Selain kegiatan yang berkaitan dengan human capital, pengalaman magang juga memberikan kesempatan untuk terlibat dalam kegiatan Beasiswa Sang Surya. Pada 11–13 Agustus 2026, kegiatan yang dilakukan meliputi pemantauan presensi peserta, dokumentasi kegiatan, serta pembagian konsumsi kepada peserta wawancara di Gedung PWM DIY.

Kegiatan tersebut memberikan pengalaman mengenai bagaimana pekerjaan pendukung tetap memiliki peran dalam keberlangsungan suatu kegiatan. Pengelolaan presensi, dokumentasi, dan kebutuhan peserta memang bukan bagian utama dari proses seleksi, tetapi ketiganya membantu kegiatan berjalan dengan lebih tertib.

Beasiswa Sang Surya sendiri merupakan salah satu program Lazismu DIY dalam bidang pendidikan. Pada tahun 2026, Lazismu DIY menetapkan 66 mahasiswa sebagai penerima Beasiswa Sang Surya Batch #5. Program tersebut ditujukan untuk mendukung keberlanjutan pendidikan mahasiswa sekaligus membantu meringankan beban biaya perkuliahan.

Keterlibatan dalam kegiatan tersebut memberikan perspektif bahwa aktivitas organisasi sosial tidak hanya berkaitan dengan program yang terlihat oleh masyarakat. Di balik pelaksanaan sebuah program terdapat berbagai pekerjaan administratif dan operasional yang perlu disiapkan secara terkoordinasi.

Hal ini menjadi salah satu pengalaman penting selama magang karena memberikan gambaran yang lebih luas mengenai aktivitas lembaga. Pekerjaan dapat memiliki bentuk yang berbeda, tetapi tetap saling berhubungan untuk mencapai tujuan kegiatan.

3. Dari Job Description hingga KPI

Setelah melalui tahap pengenalan, kegiatan magang mulai diarahkan pada tugas analisis human capital. Penugasan tersebut meliputi analisis job description, jabatan pada setiap divisi, serta Key Performance Indicator (KPI) berdasarkan dokumen yang diberikan oleh Manager Lazismu DIY. Tugas tersebut mencakup 14 jabatan sehingga membutuhkan ketelitian dalam membaca dan membandingkan informasi.

Job description menjadi salah satu bagian penting dalam pengelolaan sumber daya manusia karena menjelaskan pekerjaan dan tanggung jawab yang melekat pada suatu posisi. Dari proses analisis tersebut, terlihat bahwa setiap jabatan memiliki ruang lingkup pekerjaan yang berbeda sesuai dengan fungsi yang dijalankan.

Sementara itu, KPI memberikan perspektif mengenai bagaimana kinerja suatu posisi dapat diarahkan melalui indikator tertentu. Dengan adanya indikator, pekerjaan tidak hanya dilihat dari apakah tugas telah dilakukan, tetapi juga dari pencapaian yang diharapkan dari posisi tersebut.

Proses memahami keduanya memberikan pembelajaran bahwa pengelolaan sumber daya manusia membutuhkan ketelitian. Kesalahan dalam memahami tanggung jawab suatu posisi dapat memengaruhi cara melihat pekerjaan dan target yang seharusnya dicapai.

Tugas ini juga membuat kegiatan magang tidak hanya berorientasi pada penyelesaian pekerjaan. Ada proses membaca, memahami, membandingkan, dan menginterpretasikan informasi sebelum hasil analisis disampaikan.

4. Tantangan Menganalisis Banyak Jabatan

Menganalisis 14 jabatan dalam satu rangkaian penugasan tentu membutuhkan konsentrasi. Setiap jabatan memiliki tanggung jawab dan indikator yang berbeda sehingga tidak dapat dipahami hanya dengan membaca secara sekilas.

Tantangan tersebut menjadi semakin terasa ketika beberapa pekerjaan dilakukan secara work from home (WFH). Berdasarkan logbook, analisis dilakukan secara bertahap, mulai dari job description human capital dan jabatan pada setiap divisi, kemudian dilanjutkan dengan beberapa posisi seperti Manager Fundraising, Staff Fundraising, Staff Administrasi Kelembagaan, dan Staff FO Administrasi Kelembagaan.

Situasi tersebut mengajarkan pentingnya kemampuan mengatur pekerjaan secara mandiri. Ketika tidak berada di kantor, proses pengerjaan tetap harus berjalan sesuai arahan dan target yang diberikan.

Komunikasi juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Selama menjalankan tugas, koordinasi dan follow up kepada manager dilakukan melalui grup WhatsApp. Aktivitas tersebut secara tidak langsung melatih kemampuan berkomunikasi secara formal dalam lingkungan kerja.

Kemampuan komunikasi dalam konteks pekerjaan memiliki karakteristik yang berbeda dengan komunikasi sehari-hari. Pesan harus disampaikan dengan jelas, tidak bertele-tele, dan tetap memperhatikan konteks hubungan profesional. Hal sederhana seperti menyampaikan perkembangan pekerjaan atau menanyakan arahan dapat menjadi bagian dari proses belajar bekerja secara profesional.

5. Belajar dari Proses Koordinasi dan Revisi

Dalam pekerjaan, hasil pertama tidak selalu menjadi hasil akhir. Hal tersebut juga ditemukan dalam proses penugasan selama magang. Setelah mengerjakan analisis, dilakukan rapat bersama tim dan manager untuk mengonsultasikan tugas yang diberikan. Setelah mendapatkan arahan, penugasan kemudian direvisi kembali.

Proses tersebut menunjukkan bahwa revisi merupakan bagian normal dari pekerjaan. Revisi tidak selalu berarti pekerjaan sebelumnya salah, tetapi dapat menjadi cara untuk menyesuaikan hasil dengan kebutuhan dan standar yang diharapkan.

Bagi mahasiswa yang sedang belajar memasuki dunia kerja, proses seperti ini memberikan pemahaman bahwa kemampuan menerima masukan sama pentingnya dengan kemampuan menyelesaikan tugas. Hasil pekerjaan perlu terbuka terhadap evaluasi karena dalam lingkungan profesional terdapat standar dan kebutuhan yang mungkin belum sepenuhnya dipahami pada pengerjaan pertama. Pengalaman tersebut juga memperlihatkan pentingnya koordinasi sebelum mengambil kesimpulan sendiri. Ketika terdapat bagian yang belum dipahami, komunikasi dengan pihak yang memberikan tugas menjadi salah satu cara untuk menghindari kesalahan dalam pengerjaan.

Penutup

Pelaksanaan magang di Lazismu DIY memberikan pengalaman untuk melihat dunia kerja dari sisi yang lebih praktis. Proses tersebut dimulai dari pengenalan lingkungan kerja melalui onboarding, keterlibatan dalam kegiatan Beasiswa Sang Surya, hingga penugasan yang berkaitan dengan analisis human capital.

Salah satu pembelajaran utama yang diperoleh adalah pemahaman mengenai hubungan antara job description, jabatan, dan KPI dalam pengelolaan sumber daya manusia. Ketiganya membantu menggambarkan bagaimana pekerjaan dibagi, tanggung jawab ditentukan, dan kinerja diarahkan dalam sebuah organisasi.

Pengalaman magang juga menunjukkan bahwa kemampuan bekerja tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menyelesaikan tugas. Ketelitian, komunikasi, kemampuan menerima arahan, kemandirian, serta kesediaan melakukan perbaikan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses bekerja.

Bagi mahasiswa, pengalaman seperti ini menjadi kesempatan untuk menghubungkan pembelajaran di perguruan tinggi dengan situasi yang dihadapi secara langsung. Magang pada akhirnya bukan sekadar kegiatan untuk memenuhi kewajiban akademik, tetapi juga proses mengenal cara kerja organisasi dan mempersiapkan diri menghadapi lingkungan profesional.

Pengalaman di Lazismu DIY memberikan gambaran bahwa memahami dunia kerja membutuhkan proses. Tidak selalu dimulai dari pekerjaan besar, tetapi dapat berawal dari memahami struktur organisasi, membaca sebuah job description, menganalisis KPI, membantu sebuah kegiatan, berkomunikasi dengan atasan, hingga memperbaiki pekerjaan berdasarkan masukan. Dari proses tersebut, pembelajaran mengenai dunia kerja menjadi lebih konkret dan dapat dipahami melalui pengalaman langsung