Pemahaman Peran Gender dalam Konflik di Sudan Selatan

Najwa Fauziyah Hakim
Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Mulawarman
Konten dari Pengguna
3 April 2024 13:30 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Najwa Fauziyah Hakim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Gambar Kesetaraan antara Laki-laki dan Perempuan. Sumber: Pixabay/ Thapana Onphalai
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Gambar Kesetaraan antara Laki-laki dan Perempuan. Sumber: Pixabay/ Thapana Onphalai
ADVERTISEMENT
Konflik bersenjata seringkali membawa dampak yang berbeda bagi pria dan wanita, dan analisis gender dapat membantu memahami dinamika ini dengan lebih baik. Salah satu contoh nyata yang menunjukkan bagaimana peran gender mempengaruhi konflik adalah kasus konflik di Sudan Selatan. Sudan Selatan telah dilanda oleh konflik bersenjata yang berkepanjangan selama beberapa dekade, yang menimbulkan dampak serius bagi masyarakatnya. Konflik ini dipicu oleh sejumlah faktor, termasuk ketegangan etnis, pertempuran kekuasaan, dan sumber daya alam yang bersaing.
ADVERTISEMENT
Analisis gender menyoroti bagaimana norma-norma gender memengaruhi pengalaman dan persepsi konflik di Sudan Selatan. Di banyak masyarakat di Sudan Selatan, peran tradisional yang diharapkan dari pria sebagai pejuang dan penjaga keluarga, serta wanita sebagai pelestari perdamaian dan pembawa keharmonisan, telah memengaruhi partisipasi mereka dalam konflik dan upaya penyelesaiannya. Dalam konteks Sudan Selatan, pria seringkali terlibat langsung dalam pertempuran bersenjata, baik sebagai anggota milisi, tentara, atau pejuang. Sementara itu, wanita lebih cenderung menjadi korban langsung dari kekerasan, serta menghadapi tantangan tambahan seperti kekerasan seksual, pemerkosaan, dan penculikan selama konflik.
Meskipun wanita mungkin terdampak secara tidak proporsional oleh konflik, mereka juga memiliki potensi untuk menjadi agen perdamaian yang kuat. Wanita di Sudan Selatan telah memainkan peran penting dalam upaya perdamaian, baik sebagai mediator, advokat perdamaian, atau pemimpin komunitas yang berjuang untuk rekonsiliasi. Kasus Sudan Selatan menunjukkan bagaimana pemahaman peran gender dalam konflik dapat memberikan wawasan yang berharga dalam upaya penyelesaiannya. Dengan mengakui dampak yang berbeda dari konflik pada pria dan wanita, serta memperhatikan norma-norma gender yang ada, kita dapat mengembangkan strategi yang lebih inklusif dan efektif untuk mencapai perdamaian yang berkelanjutan dan stabil.
ADVERTISEMENT