Konten dari Pengguna

Kehangatan di Hari Raya: Toleransi antar umat Beragama

warda fitriani

warda fitriani

Mahasiswi UNEJ Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program studi Pendidikan IPA

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari warda fitriani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah isu intoleransi yang masih sering muncul seperti di media sosial, pengalaman sederhana yang saya alami ini justru menunjukkan bahwa toleransi tidak harus ribet. Saat Lebaran lalu, sebuah momen kecil di rumah saudara saya menyadarkan bahwa nilai-nilai Pancasila dapat hidup dari ruang kecil, dari niat tulus menjaga silaturahmi dengan saudara yang berbeda keyakinan.

Ilustrasi AI Lebaran
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi AI Lebaran

Lebaran selalu jadi momen yang paling ditunggu dalam setahun. Rasanya kayak titik temu antara rindu, haru, dan tawa. Bukan cuma soal opor ayam atau lontong sayur, tapi juga karena suasana damai yang terasa kental. Semua orang seperti berusaha jadi versi terbaik dari dirinya—senyum lebih tulus, tangan lebih ringan untuk bersalaman, dan hati lebih terbuka buat memaafkan.

Tahun ini, Lebaran terasa sedikit berbeda buat saya. Ada satu momen sederhana tapi sangat membekas di hati.

Waktu saya lagi berkunjung ke rumah salah satu saudara, datanglah sekeluarga kerabat jauh kami. Mereka berpakaian rapi, sopan, dan datang sambil membawa senyum hangat. Tapi yang bikin saya kaget sekaligus tersentuh—mereka bukan Muslim. Mereka tetap ikut hadir, bersilaturahmi, dan mengucapkan “Mohon maaf lahir dan batin” seperti tamu lainnya.

Saya perhatikan betul gestur mereka. Nggak ada yang terasa dibuat-buat. Mereka benar-benar datang karena ingin menyambung silaturahmi, bukan karena sekadar formalitas. Dan itu bikin saya langsung berpikir: ini dia bentuk toleransi yang sering dibahas orang, tapi jarang benar-benar saya lihat langsung.

Sebagai Muslim, tentu saya paham bahwa Idulfitri adalah hari besar keagamaan—penanda berakhirnya bulan Ramadan yang penuh ibadah. Tapi di Indonesia, Lebaran nggak cuma berhenti sampai di situ. Lebaran juga jadi perayaan sosial. Sebuah tradisi budaya di mana siapa pun, dari agama atau latar belakang apa pun, bisa ikut merasakan hangatnya kebersamaan.

Di sinilah saya merasa bahwa Lebaran bukan “milik” umat Islam saja, tapi sudah jadi bagian dari kearifan lokal. Siapa pun yang tinggal di negeri ini pasti pernah mencicipi ketupat, kue nastar, atau bahkan sekadar kirim ucapan selamat ke teman yang merayakan. Dan itu adalah hal yang sangat indah.

Saya jadi teringat nilai-nilai yang dulu sering disebut di pelajaran PPKn. Sila pertama Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa, yang mengajarkan kita untuk saling menghormati keyakinan orang lain. Dan sila ketiga: Persatuan Indonesia, yang menegaskan bahwa perbedaan bukan halangan untuk bersatu.

Waktu saudara saya yang Non-Muslim duduk di ruang tamu, ikut tertawa bareng, makan bareng, dan ngobrol soal hidup—saya merasa dua sila itu sedang benar-benar hidup di depan saya. Bukan lagi teori. Bukan lagi sekadar hafalan buku pelajaran.

Saya pernah berpikir, toleransi itu harus besar-besaran. Harus lewat seminar antaragama, diskusi publik, atau bahkan kampanye nasional. Tapi momen kecil ini bikin saya sadar: kadang toleransi yang paling murni justru lahir dari hal-hal yang sederhana.

Nggak ada media. Nggak ada spanduk bertuliskan “Kami Merayakan Keberagaman.” Nggak ada hashtag viral. Tapi kehadiran mereka—saudara saya yang berbeda keyakinan—di tengah keluarga Muslim saat Lebaran, adalah bentuk nyata dari rasa saling menghormati yang sesungguhnya.

Mereka datang tanpa takut dianggap “ikut-ikutan.” Dan kami pun menyambut tanpa rasa curiga atau canggung. Hanya ada sapaan, senyum, dan tangan yang saling menjabat erat. Sederhana, tapi sangat berarti.

Bukan, saya bukan bicara soal bawaan dalam bentuk amplop atau kue kaleng. Tapi lebih kepada energi yang dibawa saat datang. Mereka datang membawa ketulusan, membawa niat baik, dan membawa semangat untuk menjaga hubungan sebagai sesama manusia.

Dan menurut saya, itu justru jauh lebih penting dari segala formalitas lebaran itu sendiri.

Kadang kita terlalu sibuk menjaga ritual, sampai lupa bahwa nilai paling dasar dari Lebaran adalah silaturahmi dan saling memaafkan. Ketika ada orang yang berbeda keyakinan tapi tetap mau hadir, menyatu, dan ikut senang di tengah kita, itu adalah anugerah. Itu adalah bentuk penghormatan yang sangat dalam. Dan kita pun patut membalasnya dengan hati yang sama terbukanya.

Apa yang saya alami ini memang sederhana. Hanya terjadi di sebuah rumah, hanya melibatkan beberapa orang, dan mungkin terdengar sepele di tengah hiruk-pikuk dunia. Tapi justru dari ruang-ruang kecil seperti inilah wajah asli Indonesia terbentuk.

Negeri ini terlalu besar kalau kita hanya mengandalkan slogan persatuan. Kita butuh lebih banyak tindakan kecil, lebih banyak pelukan nyata, lebih banyak kebersamaan tanpa embel-embel politik atau identitas.

Saya percaya, kalau setiap keluarga punya momen seperti ini, di mana perbedaan bukan penghalang untuk berkumpul, makan, dan tertawa bersama sama maka kita nggak akan gampang terpecah. Kita nggak akan gampang saling curiga. Kita akan lebih sibuk mencari persamaan daripada terus membesarkan perbedaan.

Sebagai bagian dari generasi muda, saya merasa kita punya tanggung jawab moral yang cukup besar. Kita hidup di zaman serba cepat, di mana komentar bisa lebih pedas dari kenyataan, dan prasangka bisa menyebar lebih kencang dari fakta.

Tapi kita juga hidup di zaman yang memberi kita ruang untuk menyuarakan kebaikan dengan mudah. Kita bisa menulis, membagikan, dan menyebarkan nilai-nilai damai lewat media sosial, lewat cerita seperti ini, atau bahkan lewat tindakan sehari-hari.

Nggak harus jadi tokoh besar. Nggak perlu jadi pemuka agama. Cukup jadi anak muda yang terbuka, yang mau menyambut teman yang berbeda, yang nggak mudah terprovokasi, dan yang selalu mau belajar tentang empati.

Kehadiran saudara Non-Muslim saya di perayaan Lebaran keluarga bukan cuma tentang momen silaturahmi biasa. Itu adalah pengingat bahwa keberagaman bukan sesuatu yang harus kita takuti. Justru sebaliknya, keberagaman adalah warna yang membuat rumah kita yaitu Indonesia tampak lebih hidup.

Dan semua itu bisa dimulai dari hal-hal sederhana: dari ucapan, dari senyum, dari semangkuk ketupat sayur yang dibagi tanpa tanya, “Kamu agamanya apa?”

Karena pada akhirnya, kita semua ingin hal yang sama: diterima, dihargai, dan dicintai.