Bubur Roomo: Sarapan Legendaris dari Gresik yang Tak Pernah Kehilangan Penggemar

Mahasiswi Universitas Jember
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Wardah Alfarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

(Gresik, 9 November 2025) – Setiap pagi di Gresik, aroma gurih bubur yang mengepul dari warung sederhana di pinggir jalan menjadi tanda dimulainya aktivitas warga. Di antara berbagai pilihan sarapan, Bubur Roomo tetap menjadi primadona yang tak pernah kehilangan penggemarnya. Salah satu tempat yang paling terkenal adalah Bubur Roomo Hj. Nurjanah yang berlokasi di Jl. KH. Hasyim Asy’ari, Kebungson, Kalitutup, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, tepat di sekitar kawasan Pasar Gresik.
Bubur Roomo adalah kuliner khas dari Gresik, tepatnya Desa Roomo, Kecamatan Manyar. Bubur ini sudah dikenal sejak lama sebagai makanan khas masyarakat Gresik. Beberapa versi cerita rakyat bahkan mengaitkannya dengan masa dakwah Sunan Giri pada abad ke-15. Namun, hingga kini belum ada bukti tertulis yang memastikan kapan tepatnya bubur ini mulai dijajakan.
Salah satu penjual yang dikenal menjaga cita rasa khasnya adalah Hj. Nurjanah, warungnya menjadi langganan warga setempat hingga pegawai pasar yang mencari sarapan cepat dan mengenyangkan. Setiap pagi antara pukul 05.00–09.00 WIB, warung Bubur Roomo Hj. Nurjanah hampir tak pernah sepi pengunjung. Banyak pelanggan datang dari berbagai daerah, mulai dari Gresik kota hingga Lamongan dan Surabaya, untuk mencicipi rasa khas yang sulit ditemukan di tempat lain.
Mengapa Tetap Diminati?
Daya tarik Bubur Roomo terletak pada kesederhanaan dan kekuatan rasa lokalnya. Selain itu, harga yang terjangkau membuat kuliner ini tetap relevan di tengah menjamurnya makanan modern. Para penjual seperti Hj. Nurjanah mengaku menjaga kualitas bahan dan cara masak tradisional. “Kalau pakai cara instan, rasanya beda. Orang sini tahu mana bubur yang asli Roomo dan yang bukan” ujarnya.
Kini, Bubur Roomo tak hanya menjadi sarapan, tetapi juga simbol kuliner khas Gresik yang menegaskan bahwa cita rasa tradisi tak lekang oleh waktu. Di tengah gempuran tren kuliner modern, kehangatan semangkuk bubur ini tetap menjadi bagian dari identitas dan kebanggaan warga Gresik.
Wardah Alfarah, Mahasiswi Universitas Jember
