Gunung Buthak dan Sabana Ikoniknya: Catatan Pendakian Pertama

Mahasiswi Universitas Jember
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Wardah Alfarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

(Malang, 25 Desember 2025) – Tak heran jika Gunung Buthak kerap disebut sebagai miniatur Gunung Argopuro. Jalurnya yang panjang, bentang alam yang beragam, serta keberadaan sabana luas yang ikonik menjadikan gunung di perbatasan Malang dan Blitar ini dikenal sebagai salah satu pendakian yang menuntut ketahanan fisik dan mental. Gunung Buthak menawarkan pengalaman menyeluruh mulai dari hutan, tanjakan panjang, hingga sabana yang kerap menjadi tujuan utama para pendaki.
Pendakian ini menjadi pendakian perdana bagi penulis. Perjalanan dilakukan bersama tiga rekan perempuan yang telah lebih berpengalaman dalam kegiatan pendakian. Perjalanan diawali dari Stasiun Surabaya Gubeng menuju Malang menggunakan Commuter Line Penataran, moda transportasi yang terjangkau dan mudah diakses bagi pendaki tanpa kendaraan pribadi. Setibanya di Malang pada malam 24 Desember 2025, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Basecamp Mbak Indah untuk bermalam.
Basecamp Mbak Indah tidak hanya berfungsi sebagai tempat istirahat, tetapi juga menyediakan menu makanan bagi para pendaki. Pagi hari sebelum pendakian, penulis menyantap rawon sebagai sarapan. Hidangan khas Jawa Timur tersebut menjadi bekal energi sebelum memulai perjalanan panjang menuju Gunung Buthak.
Pendakian dimulai setelah pengecekan logistik di pos pendakian Gunung Buthak via Panderman Malang. Di Gunung Buthak tersedia sumber air di setiap pos pendakian. Jalur dari basecamp menuju Pos 1 relatif landai dan dapat ditempuh dengan santai. Pos 1 dilengkapi fasilitas musala, kamar mandi, warung, serta sumber air untuk isi ulang. Di kawasan ini, pendaki juga kerap menjumpai kawanan monyet yang berkeliaran di sekitar jalur.
Perjalanan menuju Pos 2 mulai menghadirkan tantangan dengan dua tanjakan yang dikenal sebagai Tanjakan PHP 1 dan Tanjakan PHP 2. Medan ini cukup menguras tenaga, terutama bagi pendaki pemula. Setibanya di Pos 2, penulis beristirahat sejenak dan menikmati makanan yang dijual di warung.
Dari Pos 2 menuju Pos 3, jalur berubah menjadi kawasan hutan lumut dengan vegetasi rapat dan suasana yang lembap. Jalurnya relatif landai, namun panjang dan terasa tidak berujung. Cahaya matahari hanya menembus samar di antara pepohonan, sementara udara dingin mulai terasa. Pos 3 dilengkapi fasilitas kamar mandi dan warung, serta menjadi titik terakhir yang dapat diakses oleh ojek pendakian.
Perjalanan dilanjutkan menuju Pos 4 Cemoro Angin dengan medan tanjakan panjang yang terus berlanjut. Meski tidak separah tanjakan sebelumnya, jalur ini menguji stamina karena jaraknya yang cukup jauh. Sesuai namanya, angin di kawasan Cemoro Angin bertiup sangat kencang. Demi menghindari risiko hipotermia, penulis memilih untuk tidak berhenti terlalu lama dan terus melanjutkan perjalanan.
Dari Cemoro Angin menuju sabana, jalur didominasi tanjakan dan lintasan jurang. Pada titik ini, stamina penulis berada di batas terendah. Namun, kelelahan tersebut mulai terbayar ketika melewati salah satu jurang ikonik Gunung Buthak tepat saat matahari terbenam. Cahaya senja keemasan yang menyelimuti lanskap pegunungan menjadi salah satu momen paling berkesan sepanjang pendakian.
Sabana Gunung Buthak akhirnya dicapai meski hari telah gelap. Hamparan padang rumput luas yang selama ini dikenal sebagai ikon Gunung Buthak menyambut dengan suasana yang mengharukan. Malam itu, angin bertiup cukup kencang hingga membuat tenda bergoyang. Setelah mendirikan tenda dan beristirahat, penulis melanjutkan pendakian keesokan paginya sekitar pukul 05.00 WIB menuju puncak melalui jalur dari sabana.
Cuaca cerah menyambut pendaki di puncak Gunung Buthak dengan pemandangan lautan awan yang membentang luas. Panorama tersebut menjadi penutup perjalanan panjang yang penuh tantangan sekaligus pengalaman berharga.
Pendakian Gunung Buthak ini menjadi pengalaman pertama yang memperlihatkan bahwa mendaki gunung bukan semata tentang mencapai puncak, melainkan tentang proses, ketekunan, dan bagaimana alam menghadirkan keindahan di balik setiap rasa lelah.
Wardah Alfarah, Mahasiswi Universitas Jember
