Konten dari Pengguna

Menjelajah Rasa dan Budaya Osing di Waroeng Kemarang Banyuwangi

Wardah Alfarah

Wardah Alfarah

Mahasiswi Universitas Jember

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Wardah Alfarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi asli: Waroeng Kemarang Banyuwangi
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi asli: Waroeng Kemarang Banyuwangi

(Banyuwangi, 1 November 2025) – Waroeng Kemarang Banyuwangi merupakan salah satu destinasi wisata kuliner dan budaya yang populer di kalangan wisatawan. Berlokasi di Jl. Perkebunan Kalibendo No. KM.5, Dusun Wonosari, Taman Suruh, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi. Tempat ini menyajikan pengalaman makan makanan khas suku Osing dalam suasana pedesaan yang asri dan otentik. Tidak hanya sekadar restoran, Waroeng Kemarang juga menjadi ruang bagi masyarakat lokal untuk memperkenalkan budaya Banyuwangi kepada pengunjung.

Mengusung konsep perpaduan kuliner dan pertunjukan budaya, Waroeng Kemarang menawarkan berbagai menu tradisional khas Banyuwangi yang dimasak dengan cita rasa autentik. Dari aroma bumbu rempah yang disajikan dengan sentuhan khas Osing, setiap hidangan menghadirkan kehangatan yang membuat pengunjung serasa berada di rumah masyarakat Banyuwangi sendiri.

Dokumentasi asli: Salah Satu Menu Masakan Khas Banyuwangi di Waroeng Kemarang

Menariknya, setiap Sabtu malam Waroeng Kemarang menampilkan Tari Gandrung yang merupakan salah satu ikon budaya Banyuwangi. Pertunjukan ini menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang ingin melihat langsung bagaimana seni tradisional tetap dijaga keberlangsungannya di tengah perkembangan wisata modern. Sebagai mahasiswi yang sedang melakukan pengamatan terhadap instrumen penggiring Tari Gandrung, kunjungan saya ke tempat ini memberikan kesan mendalam. Tidak hanya menemukan kuliner autentik, saya juga menyaksikan bagaimana Waroeng Kemarang dengan sepenuh hati merawat identitas budaya Osing.

Dokumentasi asli: Foto dengan Penari Gandrung di Waroeng Kemarang

Namun, yang paling meninggalkan kesan adalah pertunjukan Tari Gandrung di Sabtu malam itu. Melihat budaya ini ditampilkan secara rutin di sebuah restoran menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus selalu berada di panggung besar. Justru, tempat seperti Waroeng Kemarang inilah yang membuat budaya tetap hidup dikenal, dinikmati, dan diwariskan kepada banyak orang.

Dokumentasi asli: Suasana di Waroeng Kemarang

Waroeng Kemarang membuktikan bahwa kuliner dan budaya dapat berjalan berdampingan dalam harmoni. Pengunjung tidak hanya pulang dengan perut kenyang, tetapi juga dengan pengalaman budaya yang kaya dan berkesan. Sebuah tempat yang pantas dikunjungi bagi siapa pun yang ingin merasakan keindahan Banyuwangi dari dekat melalui rasa, suasana, dan tradisi yang tetap dijaga dengan sepenuh hati.

Wardah Alfarah, Mahasiswi Universitas Jember