Sayur Alur (Suaeda maritima): Tanaman Pesisir dalam Olahan Pangan Lokal

Mahasiswi Universitas Jember
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Wardah Alfarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

(Gresik, 27 Januari 2026) – Wilayah pesisir utara Jawa dikenal memiliki kekayaan hayati yang khas, salah satunya adalah sayur alur (Suaeda maritima). Tanaman ini tumbuh subur di area rawa bergaram dan kawasan pantai, termasuk di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Keberadaannya yang melimpah sering kali dipandang sebelah mata oleh masyarakat karena dianggap sebagai tanaman liar atau bahkan hama. Namun, di tangan masyarakat lokal, sayur alur justru menemukan peran penting dalam tradisi pangan setempat.
Secara botani, Suaeda maritima merupakan tanaman halofit, yaitu tumbuhan yang mampu hidup dan berkembang di lingkungan dengan kadar garam tinggi. Daunnya berwarna hijau pucat hingga kehijauan keabu-abuan, bertekstur tebal, dan menyimpan banyak air. Karakteristik inilah yang membuat sayur alur memiliki rasa asin alami tanpa tambahan garam, sekaligus memberikan sensasi segar saat dikonsumsi. Di Kabupaten Gresik, khususnya di Desa Legowo, Kecamatan Bungah, sayur alur tumbuh melimpah di sekitar lahan pesisir dan tambak. Awalnya, tanaman ini kerap dianggap mengganggu karena pertumbuhannya yang cepat dan tidak membutuhkan perawatan khusus. Namun, seiring waktu, masyarakat setempat mulai memanfaatkan sayur alur sebagai bahan pangan, menjadikannya bagian dari olahan tradisional yang khas daerah tersebut.
Salah satu bentuk pemanfaatannya adalah sebagai campuran dalam makanan tradisional yang menyerupai rujak lontong. Berbeda dari rujak lontong pada umumnya yang menggunakan kecambah, kacang panjang, atau kangkung, versi lokal di Desa Legowo ini menghadirkan sayur alur sebagai sayuran utama, dipadukan dengan kecambah dan siraman bumbu khas. Kehadiran sayur alur memberikan cita rasa yang unik karena rasa asin alaminya berpadu dengan bumbu, tanpa dominasi aroma petis yang kuat seperti pada rujak di daerah lain.
Tidak hanya diolah dalam satu jenis makanan, sayur alur juga dikenal luas di Gresik sebagai bahan urap, bothok, maupun lalapan. Kandungan gizinya pun cukup menjanjikan. Sayuran ini diketahui mengandung vitamin A, serta senyawa antioksidan yang baik untuk kesehatan. Dengan tekstur yang berair, renyah, dan rasa asin ringan yang alami, sayur alur menjadi alternatif sayuran pesisir yang tidak hanya lezat, tetapi juga bernilai gizi.
Pemanfaatan Suaeda maritima oleh masyarakat Desa Legowo menunjukkan bagaimana tanaman yang semula dipandang tidak bernilai dapat diolah menjadi bagian dari identitas kuliner lokal. Praktik ini mencerminkan kearifan masyarakat pesisir dalam membaca potensi alam sekitarnya dan mengolahnya secara berkelanjutan. Dari tanaman liar yang tumbuh di rawa asin, sayur alur kini hadir sebagai simbol adaptasi, kreativitas, dan kekayaan tradisi pangan lokal Gresik. Wardah Alfarah, mahasiswi Universitas Jember.
