Konten dari Pengguna

#KaburAjaDulu: Generasi Muda dan Eksodus Talenta di Tengah Ketidakpastian

Wardokhi -

Wardokhi -

Dosen Tetap Universitas Pamulang FEB Program Studi Akuntansi Perpajakan D4 dan Praktisi

·waktu baca 3 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Wardokhi - tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Dokumen Pribadi, Illustrasi anak - anak sedang berkemas
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumen Pribadi, Illustrasi anak - anak sedang berkemas

Fenomena #KaburAjaDulu yang ramai di media sosial belakangan ini menggambarkan keresahan generasi muda, khususnya Gen Z dan milenial, terhadap kondisi di Indonesia. Mereka yang memiliki kompetensi dan keahlian memilih untuk hijrah ke luar negeri dengan harapan mendapatkan kehidupan yang lebih stabil, peluang karier yang lebih menjanjikan, serta lingkungan sosial dan politik yang lebih kondusif.

Mengapa Mereka Pergi?

Beberapa faktor utama yang mendorong tren ini antara lain:

1. Ketidakpastian Politik dan Ekonomi

Dinamika politik yang cenderung tidak stabil, regulasi yang sering berubah, dan ketidakpastian ekonomi membuat banyak anak muda merasa masa depan mereka di Indonesia kurang menjanjikan.

2. Lapangan Kerja yang Tidak Sesuai

Banyak lulusan perguruan tinggi yang kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak dan sesuai dengan bidang keahliannya. Sementara itu, di negara lain, apresiasi terhadap keahlian lebih tinggi.

3. Gaji dan Kesejahteraan yang Tidak Kompetitif

Upah yang stagnan, beban kerja tinggi, serta minimnya jaminan kesejahteraan membuat bekerja di luar negeri menjadi pilihan yang lebih rasional.

4. Lingkungan Sosial dan Hukum yang Tidak Kondusif

Isu kebebasan berekspresi, kualitas layanan publik, hingga penegakan hukum yang sering dipertanyakan juga menjadi alasan mengapa banyak anak muda lebih memilih mencari kenyamanan di negara lain.

Nasionalisme: Bertahan atau Pergi?

Perdebatan mengenai nasionalisme dalam konteks fenomena ini menjadi semakin kompleks. Ada yang berpendapat bahwa mereka yang memilih pergi perlu mempertanyakan kembali rasa nasionalismenya. Namun, di sisi lain, ada pula yang berargumen bahwa nasionalisme tidak hanya diukur dari tempat seseorang berada, melainkan dari kontribusinya terhadap tanah air, di mana pun mereka berada.

Dalam perspektif akademis, nasionalisme dapat dimaknai sebagai keterikatan dan kontribusi terhadap kemajuan bangsa, baik secara langsung maupun tidak langsung. Banyak diaspora Indonesia yang tetap memberikan kontribusi melalui investasi, transfer ilmu pengetahuan, dan diplomasi budaya, meskipun mereka tinggal di luar negeri. Dengan demikian, alih-alih mempertanyakan nasionalisme mereka yang pergi, lebih relevan untuk mencari cara agar mereka tetap terhubung dan berkontribusi bagi Indonesia.

Dampak Jangka Panjang bagi Indonesia

Eksodus talenta ini tentu berdampak serius bagi masa depan bangsa. Brain drain atau hilangnya sumber daya manusia berkualitas dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi, menghambat inovasi, dan memperburuk krisis tenaga kerja profesional. Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa ada strategi konkret dari pemerintah, Indonesia bisa kehilangan generasi terbaiknya.

Apa Solusi yang Bisa Ditawarkan?

Agar generasi muda tetap mau berkarya di Indonesia, perlu adanya langkah strategis, antara lain:

  1. Menciptakan Stabilitas Politik dan Kebijakan yang Konsisten

  2. Pemerintah harus menunjukkan komitmen dalam membangun negara yang stabil dan bebas dari ketidakpastian kebijakan yang merugikan generasi muda.

  3. Meningkatkan Kesejahteraan dan Kesempatan Karier. Gaji yang lebih kompetitif, lingkungan kerja yang sehat, serta ekosistem bisnis yang mendukung inovasi perlu dikembangkan agar Indonesia menjadi tempat yang menarik bagi talenta lokal.

  4. Reformasi Pendidikan dan Pengembangan SDM. Kurikulum pendidikan harus lebih adaptif dengan kebutuhan industri, sehingga lulusan siap bersaing di dunia kerja, baik dalam negeri maupun global.

  5. Meningkatkan Perlindungan Sosial dan Hukum. Generasi muda ingin merasa aman dan nyaman di negeri sendiri. Maka, kepastian hukum, hak-hak sipil, serta kebebasan berekspresi harus lebih dijamin.

Kesimpulan: Bertahan atau Pergi?

Fenomena #KaburAjaDulu adalah refleksi nyata dari keresahan anak muda Indonesia. Namun, alih-alih menyalahkan mereka yang memilih pergi, ini seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah dan seluruh elemen masyarakat untuk berbenah. Jika tidak ada perubahan signifikan, eksodus ini bisa menjadi gelombang besar yang mengancam masa depan bangsa.

Pertanyaannya, apakah kita akan membiarkan mereka pergi begitu saja atau mulai melakukan perubahan agar mereka tetap memilih Indonesia sebagai tempat untuk berkarya dan membangun masa depan?

Oleh

Wardokhi

Akademisi Universitas Pamulang