Konten dari Pengguna

Ketika Buka Puasa Dosen Menjadi Ruang Konsolidasi yang Tak Terduga

Wardokhi -

Wardokhi -

Dosen Tetap Universitas Pamulang FEB Program Studi Akuntansi Perpajakan D4 dan Praktisi

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Wardokhi - tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Awalnya, undangan itu tampak seperti agenda kampus pada umumnya: rapat koordinasi dosen, lalu buka puasa bersama. Tidak ada yang terlalu istimewa di atas kertas. Namun sore itu, di sebuah rumah makan di kawasan Gunung Sindur, suasana justru berkembang menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar pertemuan rutin.

Sumber: Doc Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Doc Pribadi

Di bulan Ramadan, waktu berjalan lebih pelan. Percakapan menjadi lebih jujur, dan diskusi terasa lebih cair. Di sela menunggu azan magrib, para dosen tidak hanya membahas jadwal kuliah atau target kinerja, tetapi juga saling berbagi kegelisahan, harapan, dan ide tentang bagaimana seharusnya kampus bergerak ke depan. Di titik inilah, forum informal justru menunjukkan kekuatannya.

Apa yang terjadi dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Program Studi Akuntansi Perpajakan Universitas Pamulang ini mengingatkan kita bahwa konsolidasi akademik tidak selalu harus berlangsung di ruang rapat yang kaku. Kadang, ia tumbuh justru di meja makan, di antara canda ringan, dan dalam suasana saling menghargai.

Di dunia perguruan tinggi hari ini, dosen kerap diposisikan sebagai individu dengan daftar kewajiban yang panjang: mengajar, meneliti, mengabdi, menulis laporan, mengejar indikator. Di tengah tekanan itu, ruang-ruang kebersamaan seperti ini menjadi semacam “napas kolektif”. Bukan untuk mengurangi profesionalisme, tetapi justru untuk menguatkannya.

Menariknya, dalam suasana yang santai itu, pembicaraan tentang kualitas pembelajaran, riset, hingga pengabdian masyarakat justru muncul dengan lebih jujur. Tidak defensif, tidak formal. Semua berada pada posisi yang setara sebagai sesama pendidik. Dari sini kita belajar bahwa budaya akademik yang sehat tidak selalu lahir dari sistem yang ketat, tetapi dari relasi yang hangat.

Sumber: Doc Pribadi

Ramadan, dalam konteks ini, tidak hanya soal menahan lapar dan dahaga. Ia menjadi pengingat tentang nilai empati, disiplin, dan kejujuran—nilai yang sangat relevan bagi profesi akuntansi dan perpajakan. Ketika nilai-nilai itu hidup dalam keseharian dosen, ia akan menetes ke ruang kelas, ke cara mengajar, dan pada akhirnya ke karakter lulusan.

Buka puasa bersama dosen mungkin terlihat sederhana. Namun jika dimaknai lebih dalam, ia adalah cermin bagaimana kampus bisa merawat manusianya. Dan kampus yang mampu merawat manusianya, biasanya juga mampu menghasilkan pendidikan yang bermakna.