Konten dari Pengguna

Bendera One Piece dan Semiotika Komunikasi Kritik yang Tidak Tersalurkan

Wasono Adi

Wasono Adi

Dosen di Program Studi Humas dan Komunikasi Digital-Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum - Universitas Negeri Jakarta, DKI Jakarta. Saat ini sedang kuliah Doktoral Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik - Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Wasono Adi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Warga mengibarkan bendera Merah Putih menjelang peringatan HUT-RI (Sumber: GettyImages)
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Warga mengibarkan bendera Merah Putih menjelang peringatan HUT-RI (Sumber: GettyImages)

Menjelang HUT Kemerdekaan RI ke-80, portal-portal berita diramaikan dengan peristiwa yang unik, namun sarat makna: pengibaran bendera bajak laut dari serial anime One Piece, "Jolly Roger", di sejumlah titik di Indonesia. Fenomena ini sontak menuai beragam respons. Ada yang melihatnya sebagai bentuk candaan atau ekspresi kebebasan berekspresi ala anak muda, namun tak sedikit pula pihak berwenang yang menanggapinya secara serius—bahkan cenderung ke arah represif—dengan ancaman sanksi hukum.

Namun, sebelum kita buru-buru menghakimi, mari kita telaah lebih dalam. Dalam perspektif ilmu komunikasi, khususnya teori semiotika dalam komunikasi, peristiwa ini sejatinya adalah sinyal. Sinyal akan sesuatu yang lebih dari sekadar “kenakalan remaja”. Ini bukan soal anime, bukan soal bajak laut, apalagi tentang niat makar. Ini adalah komunikasi. Tepatnya, komunikasi yang tidak tersalurkan.

Ketika Rakyat Berbicara Lewat Simbol

Dalam semiotika, simbol memiliki kekuatan yang luar biasa. Ia bukan sekadar gambar atau benda, tetapi representasi makna. Roland Barthes menyebut simbol sebagai sistem tanda yang dibentuk oleh hubungan antara penanda (signifier) dan petanda (signified). Dalam kasus ini, bendera "Jolly Roger" bukan hanya penanda bajak laut. Ia telah direkontekstualisasi menjadi simbol “perlawanan ringan”—bukan terhadap negara, tetapi terhadap cara negara berkomunikasi.

Ketika bendera bajak laut itu dikibarkan, yang dikibarkan bukanlah niat pemberontakan, melainkan rasa frustrasi. Frustrasi terhadap komunikasi satu arah dari pemerintah kepada rakyatnya.

Di tengah kebijakan pemerintahan era Prabowo—Gibran yang viral dulu, dicabut kemudian—mulai dari rencana penerapan rumah subsidi berukuran 18 meter persegi, pemblokiran rekening dormant oleh PPATK, hingga isu lingkungan seperti penambangan nikel di Raja Ampat—rakyat merasa tidak memiliki cukup ruang untuk menyampaikan suara. Seperti berteriak dalam ruang kedap suara, respons masyarakat kemudian berubah bentuk: dari wacana menjadi simbol, dari kata menjadi aksi kreatif.

Foto: Merah Putih berkibar dengan latar alam yang hijau (Sumber: GettyImages)

Gagap Komunikasi dan Pemerintah yang Kurang Mendengar

Dalam teori hubungan masyarakat, Grunig dan Hunt membagi model komunikasi menjadi empat: publisitas, informasi satu arah, komunikasi dua arah asimetris, dan komunikasi dua arah simetris. Yang terakhir adalah bentuk ideal: komunikasi yang melibatkan dialog, umpan balik, dan niat baik dari kedua belah pihak untuk saling memahami.

Sayangnya, dalam praktik komunikasi pemerintah akhir-akhir ini, kita masih sering menemukan pola satu arah atau bahkan asimetris. Pemerintah menyampaikan informasi, masyarakat menerima—tanpa ruang diskusi, tanpa proses penyelarasan makna. Aspirasi rakyat sering kali dianggap sebagai gangguan, bukan masukan. Ketika saluran formal tersumbat, rakyat mencari jalan lain. Maka lahirlah simbol-simbol seperti bendera bajak laut itu.

Jangan Terlalu Serius, Tapi Dengarkan Serius

Reaksi berlebihan dari pemerintah terhadap pengibaran bendera "Jolly Roger"—dengan ancaman pidana atau pelabelan negatif—bukan hanya berpotensi menimbulkan ketakutan, tapi juga kontraproduktif. Ini menciptakan suasana komunikatif yang kian kaku, penuh sensor, dan miskin empati. Pemerintah seolah lupa bahwa dalam komunikasi dua arah yang sehat, kritik adalah vitamin, bukan racun.

Bendera bajak laut itu, jika dibaca dengan bijak, adalah kritik simbolik. Sebuah ekspresi kekesalan yang masih dalam kadar aman, yang belum menjurus pada anarki, dan justru masih menunjukkan adanya harapan: bahwa rakyat peduli. Justru ketika rakyat berhenti mengkritik, saat itulah yang perlu dikhawatirkan. Sebab itu bisa berarti apatisme, atau bahkan keputusasaan.

Ilustrasi bendera One Piece. Foto: Shutterstock

Semiotika dan Harapan

Dalam ilmu komunikasi, setiap simbol adalah pintu menuju makna. Dan makna tidak selalu tunggal. Satu simbol bisa memuat lapisan-lapisan emosi, sejarah, bahkan harapan. Maka ketika masyarakat memilih "Jolly Roger" sebagai media ekspresi, kita tidak bisa sekadar melihat permukaannya. Kita harus masuk lebih dalam: apa pesan tersembunyi di balik simbol itu?

Jawabannya sederhana: rakyat ingin didengar, rakyat ingin berbicara, rakyat ingin diajak berdialog. Ini bukan soal pemberontakan, ini soal komunikasi yang tidak simetris. Maka tugas pemerintah adalah bukan membungkam simbol itu, tetapi menjadikannya cermin: bahwa selama ini, ada yang tidak beres dalam cara kita berkomunikasi sebagai bangsa.

Momentum Introspeksi dan Optimisme sebagai Warga Negara

Fenomena ini seharusnya menjadi titik balik bagi pemerintah untuk melakukan refleksi. Mengapa rakyat harus menggunakan simbol fiksi untuk menyampaikan keresahan? Mengapa ruang dialog kian terasa sempit? Dan bagaimana cara negara bisa kembali menjadi rumah yang mendengarkan, bukan sekadar memberi instruksi?

Bendera bajak laut yang berkibar itu adalah cubitan gemas, bukan pukulan keras. Sebuah "kenakalan kecil" dalam dunia komunikasi simbolik yang menandakan satu hal: Indonesia butuh ruang diskusi yang lebih luas, lebih manusiawi, dan lebih dua arah. Kita semua bisa mulai dari hal kecil—seperti mendengar, benar-benar mendengar.

Saya percaya, sebagian besar rakyat Indonesia adalah mereka yang mencintai negeri ini dengan tulus. Mereka mengkritik karena peduli, bukan karena benci. Mereka mengangkat simbol bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk menyadarkan. Dan di sinilah kita bisa melihat, bahwa komunikasi adalah jembatan. Jika jembatan itu rusak, jangan salahkan mereka yang berenang melintasinya dengan cara yang tidak biasa.

Seperti halnya Luffy dan kru Bajak Laut Topi Jerami dalam One Piece, para pengibar bendera itu mungkin hanya ingin didengar. Mereka tidak ingin menjatuhkan negara, mereka hanya ingin negara lebih hadir sebagai mitra yang sejajar, bukan entitas otoritatif yang mendikte.