Konten dari Pengguna

Menarasikan Carbon Capture Mewujudkan Energi Bersih Indonesia

Wasono Adi

Wasono Adi

Dosen di Program Studi Humas dan Komunikasi Digital-Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum - Universitas Negeri Jakarta, DKI Jakarta. Saat ini sedang kuliah Doktoral Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik - Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Wasono Adi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi menuju Net Zero Emission 2060 (Sumber: GettyImages.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi menuju Net Zero Emission 2060 (Sumber: GettyImages.com)

Indonesia kembali menorehkan langkah penting dalam upaya menuju Net Zero Emission 2060. PT PLN Indonesia Power bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) baru saja memulai studi kelayakan penerapan carbon capture and storage (CCS) di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Pangkalan Susu, Sumatera Utara pada tanggal 4-6 Agustus 2025. Inisiatif ini bukan sekadar uji coba teknologi, tetapi juga simbol dari transformasi energi sekaligus tanggung jawab lingkungan yang sedang didorong oleh PLN.

Namun, sebagaimana setiap inovasi besar, keberhasilan proyek ini bukan hanya soal teknologinya. Lebih jauh, ini juga soal bagaimana narasi dibangun—tentang bagaimana publik, pemangku kepentingan, hingga investor memahami dan mempercayai komitmen tersebut. Di sinilah komunikasi tanggung jawab sosial perusahaan (CSR communication), mengambil peran yang sangat penting.

CCS: Jalan Tengah Menuju Energi Bersih

CCS adalah mekanisme penangkapan emisi karbon dari cerobong pembangkit listrik maupun industri, untuk kemudian menyimpannya di bawah tanah atau memanfaatkannya kembali. Teknologi ini dipandang sebagai solusi sementara yang dapat menurunkan emisi tanpa harus langsung menghentikan operasional pembangkit berbahan bakar batu bara.

Banyak pihak menyebut CCS sebagai “jembatan” menuju transisi energi bersih. Mengingat data dari International Energy Agency (IEA) menunjukan sekitar 60% pembangkit listrik Indonesia masih bergantung pada batu bara (Southeast Asia Energy Outlook 2023) tidak realistis jika langsung menutup semua PLTU dalam waktu dekat. CCS menawarkan kompromi: emisi bisa ditekan, sementara kebutuhan listrik tetap terjaga.

Namun, perlu disadari bahwa CCS bukanlah tujuan akhir. Dalam laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) yang bertajuk AR6 Climate Change 2022: Mitigation of Climate Change, teknologi ini disebut hanya sebagai strategi transisi yang melengkapi pengembangan energi terbarukan, bukan pengganti permanen. Artinya, PLN dan pemerintah tetap harus mendorong bauran energi yang lebih bersih seperti tenaga surya, angin, panas bumi, hingga hidrogen hijau.

Menangkal Kecurigaan Greenwashing

Di tengah semangat transisi energi, publik juga semakin kritis. Isu greenwashing—praktik perusahaan mengklaim ramah lingkungan padahal tidak sepenuhnya demikian—menjadi sorotan. PLN harus menyadari bahwa CCS, jika tidak dikomunikasikan dengan tepat, bisa memicu kecurigaan serupa.

Komunikasi CSR yang efektif menuntut transparansi dan konsistensi. Dalam konteks CCS di PLTU Pangkalan Susu, ada tiga prinsip narasi yang perlu dijaga:

Kejelasan Tujuan

PLN harus menegaskan bahwa CCS bukan dalih untuk memperpanjang umur batu bara. Pesan utama yang harus disampaikan: CCS adalah solusi sementara, sembari menunggu kesiapan energi terbarukan dalam skala besar.

Keterbukaan Data dan Progres

Studi kelayakan, hasil uji coba, hingga target penurunan emisi harus disampaikan secara terbuka. Publik tidak butuh jargon, mereka butuh angka, capaian, dan bukti nyata.

Keterlibatan Pemangku Kepentingan

Narasi transisi energi tidak bisa dibangun sepihak. PLN perlu mengajak masyarakat lokal, akademisi–dalam studi kelayakan ini PLN sudah menggandeng ITB, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan pemerintah daerah dalam dialog terbuka. Dengan begitu, CCS tidak hanya dipersepsikan sebagai proyek korporasi, tetapi juga sebagai agenda kolektif bangsa.

Dalam literatur komunikasi CSR, Maignan & Ralston (2002) menekankan pentingnya “perceived sincerity”—yakni bagaimana publik menilai ketulusan suatu perusahaan dalam melaksanakan tanggung jawab sosialnya. Tanpa narasi yang tepat, langkah sebesar apapun bisa kehilangan legitimasi.

Narasi Solusi Sementara

Narasi CCS di Indonesia akan selalu berada di wilayah abu-abu: dianggap solusi transisi, tapi juga berpotensi dituduh sebagai cara memperpanjang ketergantungan pada batu bara. Tantangan PLN adalah mengkomunikasikan posisi CCS dengan jujur—sebagai jembatan, bukan sebagai solusi terminal.

Sebagai contoh, Norwegia dengan proyek Sleipner CCS berhasil menunjukkan transparansi lewat publikasi data emisi secara rutin dan kerja sama dengan komunitas internasional. Sebaliknya, di Amerika Serikat, beberapa proyek CCS ditinggalkan karena biaya tinggi dan kurangnya dukungan publik. Pelajaran dari sana jelas: komunikasi yang salah arah bisa membuat teknologi yang menjanjikan justru ditolak masyarakat.

PLN bisa memanfaatkan momentum ini dengan mengedepankan narasi kolaboratif: CCS bukan hanya milik PLN, melainkan bagian dari strategi energi nasional. Mengaitkan proyek ini dengan target Net Zero Emission 2060 dan Just Energy Transition Partnership 2022 (JETP) akan memperkuat legitimasi.

Sebagai informasi, Net Zero Emission 2060 adalah target untuk mencapai keseimbangan antara emisi karbon yang dihasilkan dan kemampuan bumi untuk menyerap karbon dioksida pada tahun 2060. Sedangkan, Just Energy Transition Partnership 2022 (JETP) atau dalam Bahasa Indonesia dikenal sebagai Kemitraan Transisi Energi yang Adil, adalah inisiatif kolaboratif Pemimpin G20 pada KTT November 2022, di Bali yang bertujuan untuk mendukung dan memobilisasi finansial dalam rangka mewujudkan ekonomi rendah karbon di Indonesia.

Foto: PLTU Batu Bara (Sumber: gettyimages.com)

Dari Cerita Teknologi ke Cerita Tanggung Jawab Sosial

Narasi energi bersih bukan hanya tentang teknologi rumit di sektor energi. Ia juga cerita tentang tanggung jawab moral sebuah bangsa. Dalam hal ini, PLN perlu membingkai CCS bukan sebagai “teknologi canggih PLN”, tetapi sebagai bentuk tanggung jawab PLN kepada masyarakat dan lingkungan.

Dengan bahasa sederhana, CCS dapat dipahami sebagai komitmen jangka pendek untuk mengurangi jejak karbon dari pembangkit yang sudah ada, sembari merajut komitmen jangka panjang untuk mempercepat transisi menuju energi terbarukan yang lebih bersih. Lebih dari itu, CCS juga merupakan komitmen kolektif, yakni bagian dari janji Indonesia kepada dunia untuk menurunkan emisi demi masa depan yang lebih berkelanjutan.

Media massa dan platform digital bisa menjadi kanal penting untuk membangun narasi tersebut. Bukan sekadar konferensi pers, tetapi juga melalui kampanye interaktif, laporan tahunan berbasis data, dan keterlibatan komunitas lokal yang dapat memperlihatkan bahwa proyek ini adalah upaya nyata, bukan sekadar jargon. Dengan demikian, teknologi tidak hanya dipersepsikan sebagai inovasi teknis, melainkan juga sebagai wujud tanggung jawab sosial dan lingkungan yang harus dikomunikasikan secara jujur dan inklusif.

Narasi CCS, Narasi yang Menentukan

CCS di PLTU Pangkalan Susu mungkin hanya salah satu studi kelayakan. Tapi cara kita menarasikan proyek ini akan menentukan arah kepercayaan publik terhadap seluruh strategi transisi energi Indonesia.

Jika narasi yang dibangun transparan, kolaboratif, dan konsisten, CCS bisa menjadi simbol inovasi dan tanggung jawab lingkungan. Namun, jika komunikasi tidak dikelola dengan bijak, ia bisa terjebak dalam stigma greenwashing. Di era keterbukaan informasi, teknologi canggih sekalipun tidak cukup tanpa narasi yang kuat.

Pada akhirnya, mewujudkan energi bersih bukan hanya soal mesin dan teknologi, tetapi juga soal membangun cerita yang dipercaya publik. Dan cerita itu, harus dimulai dari kejujuran.