Backrooms Siap Tayang di HBO Max September Ini

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi lost places, hallway, abandoned. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi lost places, hallway, abandoned. Foto: Pixabay

Kabar gembira untuk para pencinta sinema horor psikologis dan estetika internet. Film Backrooms, yang sukses mencatatkan diri sebagai film dengan pendapatan tertinggi dalam sejarah rumah produksi A24, dijadwalkan segera hadir di layar kaca melalui layanan streaming HBO Max mulai 25 September mendatang. Kehadiran film ini di platform digital menandai babak baru dari fenomena creepypasta internet yang berhasil mendominasi bioskop global.

Disutradarai oleh kreator muda Kane Parsons, adaptasi layar lebar dari seri web populer tentang konsep liminal spaces ini tidak hanya sukses secara finansial, tetapi juga mendapat apresiasi kritis yang besar. Dengan performa akting yang kuat serta atmosfer ketegangan yang pekat, film ini siap meneror penonton rumah tangga setelah sebelumnya menguasai jajaran box office.

Fenomena Box Office dari Kreator Muda

Kesuksesan film ini terbilang luar biasa mengingat Kane Parsons menyutradarai proyek besar ini saat dirinya baru menginjak usia 20 tahun. Dengan anggaran produksi yang tergolong minim untuk ukuran Hollywood, yakni hanya sebesar 10 juta dolar AS, film Backrooms berhasil mengantongi pendapatan fantastis mencapai 330 juta dolar AS di seluruh dunia. Angka ini sekaligus melampaui rekor yang sebelumnya dipegang oleh film Marty Supreme.

Pada pekan pembukaannya di pasar domestik Amerika Serikat saja, film ini langsung meraup 81 juta dolar AS. Guna memuaskan antusiasme para penggemar, pihak distributor bahkan sempat merilis ulang film ini di bioskop pada 3 Juli lalu dengan tambahan durasi video bonus selama 15 menit. Penjualan tiket yang masif ini membuktikan bahwa komunitas internet memiliki daya tarik yang sangat kuat ketika karya favorit mereka diadaptasi dengan serius.

Eksplorasi Terapi dan Estetika Liminal Spaces

Secara garis besar, narasi film berfokus pada dinamika psikologis yang intens. Aktor Chiwetel Ejiofor berperan sebagai seorang pemilik toko mebel yang menjalani sesi terapi mendalam akibat trauma yang dialaminya. Di sisi lain, aktris Renate Reinsve berperan sebagai Dr. Mary Kline, psikolog yang berusaha mengurai misteri mental pasiennya tersebut. Skenario yang ditulis oleh Will Soodik ini berhasil memadukan ketakutan abstrak ruang kosong dengan konflik batin yang nyata.

Kritikus film utama dari Variety, Owen Gleiberman, memberikan ulasan positif dan menyebut film ini sebagai sebuah karya yang sangat efektif menyajikan sensasi ketakutan atmosferik atau atmospheric freakout. Ia juga memuji penampilan Ejiofor sebagai sosok sentral yang sangat tepat untuk memandu emosi penonton di tengah kekacauan visual. Lebih lanjut, Gleiberman menyamakan keahlian Parsons dalam membangun suasana sunyi serta desain suara kosmik (cosmic sound design) dengan gaya penyutradaraan sutradara legendaris David Lynch.

Komitmen Jangka Panjang di Luar Layar Lebar

Meski telah meraih kesuksesan komersial yang luar biasa di industri perfilman arus utama, Parsons menegaskan dirinya tidak akan meninggalkan platform YouTube yang membesarkan namanya. Dalam sebuah wawancara bersama Variety, Parsons menjelaskan bahwa proyek fiksi ilmiah ini sejak awal dirancang untuk berkembang lebih luas. Ia memastikan bahwa petualangan misterius ini masih sangat jauh dari kata berakhir.

Parsons mengungkapkan komitmennya untuk terus memproduksi konten orisinal bagi para penggemar setianya. Ia menyatakan, “Backrooms selalu direncanakan untuk menjadi sebuah seri yang melampaui batas-batas film ini saja.” Ia juga menambahkan, “Bagi orang-orang yang menyukainya, saya sudah memegang kontrak dan mengamankan bagian saya. Itu berarti saya jelas belum selesai dengan Backrooms.” Langkah ini menjanjikan masa depan yang cerah bagi ekspansi semesta fiksi ini, baik di bioskop maupun platform digital gratis.