Chris Rock Bicara Sutradara Misty Green dan Batasan Baru di Hollywood

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Chris Rock.
zoom-in-whitePerbesar
Chris Rock.

Chris Rock kini tampil dengan perspektif baru yang lebih tenang dan matang. Komedian berusia 61 tahun tersebut tengah bersiap merilis film terbarunya, Misty Green, sebuah karya penyutradaraan pertamanya dalam 12 tahun terakhir yang dijadwalkan tayang lewat distributor A24. Film ini menjadi penanda penting dalam fase hidupnya yang baru, terutama setelah ia didiagnosis mengidap gangguan belajar nonverbal pada tahun 2020 silam.

Lewat wawancara mendalam bersama Variety, Rock mengungkapkan bagaimana terapi intensif membantunya bertumbuh secara emosional dan artistik. Ia tidak lagi sekadar mengejar tawa instan atau popularitas tanpa arah, melainkan fokus pada kedalaman cerita dan perlindungan terhadap kejujuran seni.

Transformasi Personal Lewat Terapi dan Diagnosis NVLD

Diagnosis gangguan belajar nonverbal atau nonverbal learning disorder (NVLD) pada tahun 2020 diakui Rock telah mengubah total cara pandangnya terhadap kehidupan dan pekerjaan. Kondisi yang ia gambarkan mirip dengan gejala ADHD ini menuntut dirinya menjalani proses terapi psikologis secara intensif selama beberapa tahun terakhir.

Berkat terapi tersebut, Rock merasakan adanya peningkatan signifikan pada tingkat konsentrasi dan empati yang ia miliki. “Saya memiliki tingkat konsentrasi dan empati yang tidak saya miliki dulu,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa dirinya kini jauh lebih siap untuk menggarap proyek film yang emosional dan kompleks. “Saya adalah orang yang berbeda sekarang. Setidaknya, saya mencoba untuk menjadi seperti itu,” tambahnya.

Misty Green dan Realitas Kontras Kota Los Angeles

Film Misty Green digarap dengan anggaran terbatas sekitar 5 juta dolar, menjadikannya proyek dengan biaya produksi terkecil yang pernah disutradarai oleh Rock. Sinopsis film ini berpusat pada karakter Misty Green yang diperankan oleh Rosalind Eleazar, seorang mantan aktris terkenal yang mengalami kesulitan finansial setelah penyokong dananya meninggal dunia.

Melalui film ini, Rock ingin menyoroti kesenjangan sosial yang ekstrem di Los Angeles, tempat di mana impian dan realitas pahit berdampingan di jalanan yang sama. Rock mengilustrasikan bagaimana sebuah kantor properti mewah memajang daftar rumah puluhan juta dolar, sementara di depannya terdapat tuna wisma yang tidur di trotoar. Baginya, kota tersebut penuh dengan dinamika pencarian mimpi yang rumit.

Ketertarikan para pemeran papan atas seperti Adam Driver dan Anna Kendrick untuk bergabung didasari oleh apresiasi mereka terhadap karya Rock terdahulu, Top Five. Sementara itu, untuk peran penting lainnya, Rock harus berusaha keras membujuk Daniel Kaluuya agar mau kembali ke layar lebar setelah sempat memutuskan rehat sejenak dari dunia seni peran.

Sikap Menghadapi Masa Lalu dan Enggan Kembali ke Oscars

Wawancara ini juga menjadi momen pertama bagi Rock untuk berbicara secara formal setelah insiden bersama Will Smith di panggung Oscar pada tahun 2022. Ketika ditanya mengenai analogi dialog dalam filmnya yang seolah menggambarkan kejadian nyata tersebut, Rock mengaku tidak menyadarinya saat menulis naskah. Ia menegaskan tidak ingin pembahasan masa lalu tersebut mengaburkan sorotan publik terhadap performa luar biasa para aktornya di film baru ini.

Mengenai peluangnya kembali memandu perhelatan besar seperti Academy Awards, Rock menyatakan keraguannya. Baginya, panggung penghargaan tersebut sudah memiliki deretan pemandu acara baru yang sangat kompeten saat ini. Ia juga menegaskan batasan pribadinya untuk tidak akan kembali ke sana kecuali jika dirinya masuk dalam jajaran nominasi. “Satu-satunya cara saya akan kembali adalah jika saya masuk nominasi, dan saya tidak akan dinominasikan. Dan itu tidak apa-apa,” ujarnya secara realistis.

Di sisi lain, Rock memilih untuk menjaga gaya hidup tetap sederhana guna mempertahankan kebebasan kreatifnya. Dengan menekan pengeluaran bulanan dan menolak pengeluaran berbasis spekulasi, ia memiliki kemandirian penuh untuk menolak tawaran kerja yang tidak sesuai dengan hati nuraninya. Pelajaran berharga ini ia pegang teguh agar tidak terjebak dalam siklus finansial industri hiburan yang sering kali menjebak.