David Ellison Janjikan 30 Film Bioskop demi Muluskan Merger Raksasa

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi new year's eve, popcorn, food. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi new year's eve, popcorn, food. Foto: Pixabay

Rencana merger besar antara Paramount dan Warner Bros. Discovery kini memasuki babak baru yang penuh dengan komitmen tertulis. David Ellison, pemimpin Paramount Skydance, berupaya meyakinkan para pemilik bioskop di Amerika Serikat dengan menawarkan jaminan kontrak resmi untuk merilis minimal 30 film per tahun di layar lebar. Langkah ini diambil di tengah sorotan tajam regulasi dan gugatan antimonopoli dari belasan jaksa agung negara bagian.

Dilansir Variety, Ellison bahkan bersiap memberikan jaminan kontrak selama tiga tahun kepada dua jaringan bioskop terbesar di Amerika Serikat, yaitu AMC Entertainment dan Regal Cinemas. Komitmen ini mencakup aturan ketat mengenai masa penayangan eksklusif di bioskop sebelum film-film tersebut dialihkan ke platform digital.

Komitmen Eksklusif untuk Bioskop Amerika

Dalam dokumen kesepakatan yang ditawarkan, Ellison menjanjikan masa tayang eksklusif di bioskop atau theatrical window selama 45 hari. Tidak hanya itu, perusahaan hasil merger tersebut juga dilarang mendistribusikan film-film tersebut ke layanan streaming selama minimal 90 hari setelah dirilis. Jika Paramount gagal memenuhi komitmen ini, mereka harus siap menghadapi penalti finansial yang signifikan.

Langkah berani ini dirancang sebagai benteng pertahanan untuk menepis tuduhan dalam gugatan hukum yang diajukan oleh 12 jaksa agung negara bagian. Para jaksa menilai bahwa penggabungan Paramount dan Warner Bros. akan menciptakan dominasi pasar yang tidak sehat dan mengontrol distribusi film bioskop secara berlebihan. Dengan adanya jaminan tertulis ini, Ellison berharap dapat membuktikan bahwa entitas baru ini tidak akan menimbun karya mereka hanya demi menghidupkan platform streaming internal seperti Paramount+ atau HBO Max.

Persidangan kasus ini dijadwalkan akan dimulai pada Maret 2027. Ellison kini berada di bawah tekanan besar untuk menemukan kesepakatan di luar pengadilan sebelum tanggal tersebut. Namun, masih belum bisa dipastikan apakah komitmen penayangan ini akan cukup untuk meredakan kekhawatiran para jaksa agung.

Ambisi Jumlah yang Menyimpan Keraguan

Meskipun janji merilis puluhan film terdengar manis bagi pemilik bioskop, industri perfilman tetap meragukan apakah kuantitas ini akan berbanding lurus dengan pendapatan box office. Menanggapi keraguan tersebut, Ellison menulis sebuah opini di New York Times dan mengakui bahwa tidak ada pihak yang bisa menjamin kesuksesan finansial dari sebuah karya seni.

Ellison menulis, “Dalam karier saya, G.I. Joe: Retaliation memenuhi ekspektasi finansial, Top Gun: Maverick melampauinya, dan Terminator: Dark Fate gagal memenuhi target. Saya bangga dengan semua film ini, tetapi tidak ada yang bisa mendikte apa yang akan disukai penonton.” Namun, ia menegaskan dedikasinya dengan menambahkan, “Apa yang bisa saya janjikan adalah kerja keras, dan porsi yang lebih banyak.”

Kekhawatiran para analis industri bukan tanpa alasan. Sejarah mencatat bahwa merilis lebih banyak judul film tidak selalu menjamin keuntungan yang lebih besar. Paramount sendiri telah membuktikan hal tersebut setelah meningkatkan jumlah produksinya secara signifikan dalam setahun terakhir, namun justru mengalami penurunan pendapatan rata-rata per film.

Tekanan Finansial dan Dominasi Kompetitor

Sebagai gambaran, pendapatan bioskop Paramount Pictures pada kuartal kedua tahun 2026 merosot hingga 45 persen menjadi hanya sekitar 138 juta dolar. Penurunan tajam ini dipicu oleh sulitnya menyamai kesuksesan film laris mereka pada tahun sebelumnya, seperti sekuel laga Tom Cruise yang meraup hampir 600 juta dolar secara global. Rilisan terbesar mereka pada kuartal tersebut hanyalah film horor komedi parodi yang meraup pendapatan moderat.

Di sisi lain, Paramount saat ini dinilai kekurangan judul film blockbuster bernilai miliaran dolar yang mampu menarik minat penonton secara massal ke bioskop. Mereka masih tertinggal jauh dari kompetitor seperti Disney-Pixar dengan sekuel animasi andalan mereka, Universal dengan karya terbaru Christopher Nolan, atau Sony dengan waralaba pahlawan super mereka.

Bahkan, rilisan khusus seperti film konser 3D karya sutradara James Cameron bersama musisi populer yang mendapat pujian kritis tinggi pun hanya mampu menghasilkan angka di bawah 10 juta dolar di pasar domestik. Menghadirkan banyak film skala kecil dengan pendapatan minim tentu tidak akan cukup untuk menyelamatkan industri bioskop yang kini sedang berjuang keras menghadapi perubahan kebiasaan penonton.