Film Animasi Galeo of the Seawalkers Gandeng Rumah Produksi Kanada

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi ocean, octopus, health. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ocean, octopus, health. Foto: Pixabay

Industri animasi Indonesia kembali menunjukkan taringnya di kancah global lewat proyek film terbaru berjudul Galeo of the Seawalkers atau Galeo Anak Segara. Proyek film animasi 2D garapan sutradara Andara Fembriarto ini resmi menjalin kolaborasi dengan BetterHalf Films, sebuah rumah produksi asal Kanada dan Inggris yang berbasis di Toronto dan London. Kerja sama ini menandai langkah penting bagi Studio Amarana selaku rumah produksi lokal untuk membawa narasi maritim nusantara ke audiens internasional.

Proyek kolaborasi internasional ini diumumkan secara eksklusif oleh Variety menjelang pelaksanaan Vancouver International Film Festival (VIFF) mendatang. Proyek film ini terpilih sebagai salah satu presentasi utama dalam program Business Hub Co-Production Forum yang diselenggarakan oleh festival tersebut. Selain kemitraan produksi, platform pemutaran film lokal, Rangkai, juga telah berkomitmen untuk mendistribusikan film petualangan keluarga ini di wilayah Indonesia.

Eksplorasi Budaya Maritim dan Petualangan Keluarga di Atas Air

Secara garis besar, Galeo of the Seawalkers mengisahkan perjalanan seorang anak laki-laki pemalu bernama Galeo yang hidup di dunia laut yang dipenuhi desa-desa terapung, hutan laut, serta manusia yang memiliki kemampuan berjalan di atas air. Konflik utama berpusat pada pergulatan batin Galeo yang selalu merasa takut mengecewakan ayahnya. Ketakutan inilah yang menjadi hambatan terbesar dalam hidupnya untuk berkembang dan mengeksplorasi potensi dirinya secara penuh.

Petualangan dimulai ketika adik perempuan Galeo memutuskan untuk mengikuti hantu laut misterius demi mencari ayah mereka yang hilang secara misterius. Terpaksa keluar dari zona nyaman rumahnya yang aman, Galeo harus menghadapi kawanan bajak laut yang mencoba menguasai air suci, sumber kehidupan utama komunitas mereka. Melalui penemuan-penemuan praktis buatannya serta kepercayaan yang tumbuh kepada adiknya, Galeo menemukan arti keberanian yang berbeda dari apa yang diajarkan oleh warga desanya selama ini.

Kolaborasi Lintas Negara dan Misi Kepedulian Lingkungan

Pendiri BetterHalf Films, Gursimran Datla, menyatakan antusiasmenya terhadap visual unik dan pesan mendalam yang diusung oleh proyek ini. Ia menjelaskan bahwa keunikan budaya bahari Indonesia menjadi fondasi emosional yang sangat kuat untuk dinikmati penonton global. Gaya animasi digital 2D dipilih secara khusus untuk menghidupkan karakter yang ekspresif serta pemandangan laut yang dinamis.

“Kami mengajak penonton global untuk ikut berjalan di atas air bersama Galeo,” ungkap Datla kepada Variety. Ia menambahkan, “Dunia ini terinspirasi dari kebudayaan maritim Indonesia, memberikan fondasi visual dan emosional spesifik pada petualangan ini yang belum pernah dilihat sebelumnya. Pada intinya, ini adalah kisah tentang sebuah keluarga yang belajar untuk saling mengenali melampaui ekspektasi dan peran yang diwariskan. Proyek ini juga mengajak penonton untuk lebih peduli terhadap iklim dan pelestarian budaya.”

Proyek film animasi ini saat ini telah memasuki tahap pengembangan tingkat lanjut (advanced development). Guna memperkuat proses produksinya, proyek ini juga telah mendapatkan dukungan pendanaan pengembangan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Langkah ini diharapkan mampu memperlancar target tim produksi yang berencana untuk memulai fase produksi utama pada Januari 2028 mendatang sembari terus menjajaki peluang kerja sama dengan mitra ko-produser tambahan lainnya.

Rekam Jejak Kreator dan Karya Sebelumnya

Andara Fembriarto, sebagai kreator di balik kekayaan intelektual (intellectual property) ini, sebelumnya telah sukses merilis beberapa karya animasi pendek yang mendapat apresiasi luas. Salah satunya adalah Cipak Cipuk (Splish Splash), yang juga didasarkan pada semesta karakter yang sama. Selain itu, ia juga dikenal lewat karya animasi pendek lain seperti Utan Rambutan dan The Raining Tree.

Di sisi lain, bagi BetterHalf Films, proyek ini merupakan langkah perdana mereka dalam melakukan ko-produksi internasional. Rumah produksi ini sebelumnya dikenal lewat serial komedi Masala Love yang menceritakan tentang restoran keluarga Asia Selatan di Toronto, serta film pendek peraih penghargaan seperti Refuge dan Cinnamon Tea yang telah diputar di berbagai festival film ternama di Amerika Utara. Pertemuan para profesional industri film ini dijadwalkan berlangsung di Business Hub Co-Production Forum pada tanggal 3 hingga 4 Oktober, di tengah rangkaian perhelatan VIFF yang berlangsung dari 1 hingga 11 Oktober.