Gugatan Pengguna Paramount+ untuk Batalkan Merger Warner Bros Resmi Ditolak

Upaya sekelompok konsumen untuk menjegal rencana mega-merger senilai 111 miliar dolar AS antara Paramount dan Warner Bros menemui jalan buntu. Pengadilan federal secara resmi menolak gugatan hukum yang diajukan oleh para pelanggan layanan streaming tersebut karena dinilai kekurangan landasan hukum kuat untuk membatalkan aksi korporasi raksasa ini.
Dilansir Variety, Hakim Araceli Martínez-Olguín menyatakan bahwa para penggugat gagal membuktikan adanya dampak kerugian ekonomi nyata yang dapat memicu pelanggaran regulasi antitrust. Kendati demikian, pihak pengadilan masih memberikan kesempatan bagi konsumen untuk merevisi dan mengajukan kembali draf gugatan mereka.
Alasan Hakim Menolak Gugatan Konsumen
Kasus ini awalnya diajukan oleh lima orang konsumen, yang terdiri dari tiga pelanggan aktif Paramount+ dan dua calon pelanggan potensial. Dalam dokumen gugatan, mereka mengklaim bahwa penggabungan kedua raksasa hiburan ini akan merugikan konsumen secara langsung akibat berkurangnya pilihan tayangan di pasar.
Namun, Hakim Martínez-Olguín menilai argumen tersebut terlalu lemah dan hanya berupa asumsi tanpa landasan fakta konkret. Beliau menegaskan bahwa dokumen tuntutan hanya berisi pernyataan standar tentang dampak persaingan usaha yang merugikan, seperti penurunan kualitas konten dan terbatasnya pilihan bagi masyarakat penonton.
Hakim menuliskan dalam putusannya, “Gugatan ini gagal menunjukkan fakta yang masuk akal tentang bagaimana kerugian yang diklaim tersebut telah atau akan terwujud.” Ia juga menambahkan bahwa argumen para penggugat hanya berputar pada premis dasar bahwa mereka adalah penonton televisi dan bioskop, sehingga penggabungan korporasi hiburan otomatis akan merugikan mereka.
Gelombang Blokade dari Jaksa Agung dan Serikat Penulis
Penolakan gugatan kelompok konsumen ini tidak serta-merta memuluskan langkah akuisisi secara instan. Hakim Martínez-Olguín dijadwalkan masih harus memimpin persidangan perkara serupa yang diajukan oleh koalisi 12 jaksa agung negara bagian dan Serikat Penulis Amerika (Writers Guild of America / WGA).
Berbeda dengan gugatan konsumen biasa, koalisi jaksa agung dan serikat pekerja film tersebut membawa bukti dampak kerusakan yang dinilai tidak dapat dipulihkan pada ekosistem industri hiburan global. Agenda persidangan besar untuk menguji kelayakan merger Paramount dan Warner Bros ini telah dijadwalkan secara resmi pada 2 Maret 2027 mendatang.
Sorotan terhadap Independensi CNN di Bawah David Ellison
Di tengah badai hukum yang menghadang, CEO Paramount-Skydance, David Ellison, mulai angkat bicara untuk meredakan kekhawatiran publik. Lewat tulisan opini yang dipublikasikan di The New York Times, ia mengklaim bahwa penolakan dari para jaksa agung sebenarnya tidak murni didasari oleh kekhawatiran monopoli pasar hiburan.
Ellison menengarai adanya motif politik di balik upaya penjegalan ini, terutama terkait dengan masa depan stasiun berita CNN yang berada di bawah bendera Warner Bros. Hubungan dekat Ellison dengan Donald Trump memicu kecemasan di kalangan pelaku industri Hollywood mengenai potensi pergeseran arah politik jaringan berita bersejarah tersebut.
Guna menepis anggapan tersebut, Ellison menegaskan komitmennya untuk menjaga independensi ruang redaksi secara penuh. Ia menuliskan, “Ketika berbicara tentang operasional berita kami, saya tidak beraspirasi untuk memimpin perusahaan-perusahaan ini guna membengkokkan ruang redaksi mereka agar mengikuti pandangan saya. Saya percaya bahwa berita harus didasarkan pada fakta dan kebenaran.”

