Lena Khan Angkat Kompetisi Tari Bollywood Diaspora lewat Best of the Best

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi bollywood, movie, cinema. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bollywood, movie, cinema. Foto: Pixabay

Kompetisi tari kombinasi (fusion) Bollywood telah menjadi bagian dari budaya kampus di Amerika Serikat selama beberapa dekade. Namun, fenomena ini jarang sekali diangkat ke dalam film layar lebar. Melalui film terbaru Netflix berjudul Best of the Best, sutradara Lena Khan mencoba membawa dinamika kompetisi yang penuh persaingan ini ke audiens global dengan fokus pada representasi diaspora Asia Selatan yang lebih autentik.

Ditulis oleh Hasan Minhaj dan Prashanth Venkataramanujam, film ini mengikuti perjalanan dua sahabat masa kecil, Maya dan Anjali, yang bergabung dengan tim tari Universitas California, Los Angeles (UCLA). Alih-alih menyajikan tontonan komedi klise, film ini menyoroti bagaimana perjuangan mereka menuju kejuaraan nasional Amerika Serikat ternyata jauh lebih keras dan kompetitif dari yang dibayangkan.

Melawan Stereotip Karakter Asia Selatan

Dilansir Variety, Lena Khan mengungkapkan bahwa proyek ini awalnya sempat diragukan oleh salah satu teman masa kecilnya yang menganggap kompetisi tari Bollywood bukanlah sesuatu yang keren. Reaksi tersebut justru menyadarkan Khan akan adanya masalah persepsi di kalangan diaspora Asia Selatan sendiri yang sering kali kurang menghargai budaya mereka sendiri di kancah global.

Selama ini, karakter dari Asia Selatan di media Hollywood sering kali digambarkan sebagai sosok pendukung yang kutu buku atau karikatur jenaka seperti karakter Apu. Melalui film ini, Khan ingin mengubah sudut pandang tersebut dengan menampilkan keahlian menari mereka sebagai sebuah keterampilan yang setara dengan seni bela diri yang sangat dihormati. “Kita bisa bangga dengan hal-hal yang kita lakukan sebagai orang Asia Selatan,” ujarnya.

Transformasi Fisik Ekstrem Maitreyi Ramakrishnan

Salah satu tantangan terbesar dalam produksi film ini adalah mempersiapkan para pemeran yang sebagian besar tidak memiliki latar belakang menari kompetitif, termasuk Maitreyi Ramakrishnan. Khan bahkan meminta Ramakrishnan untuk melakukan persiapan fisik yang sangat intens demi mendalami perannya secara total di layar kaca.

Khan menceritakan bagaimana ia mendorong aktris tersebut untuk keluar dari zona nyaman selama proses audisi. Ia meminta Ramakrishnan memberikan energi yang kuat layaknya aktor laga, bahkan menuntutnya melakukan transformasi atletis yang menyeluruh. “Saya katakan, tidak, sebenarnya saya ingin kamu melakukan metode seperti Christian Bale. Saya butuh transformasi atletis yang lengkap,” kenang Khan. Ramakrishnan kemudian menjalani pelatihan tari intensif selama berbulan-bulan sebelum proses syuting dimulai.

Proses Syuting Singkat dan Koreografi Lintas Budaya

Proses pembuatan koreografi untuk film ini digarap oleh Phillip Chbeeb, Makenzie Dustman, dan Joya Kazi sebagai asisten koreografer. Setiap gerakan dirancang untuk menyampaikan emosi yang mendalam pada setiap adegan. Menariknya, tim produksi harus bekerja di bawah tekanan waktu yang sangat ketat karena adegan tari yang biasanya membutuhkan waktu syuting lima hari harus diselesaikan hanya dalam waktu satu hari saja.

Selain keterbatasan waktu, tantangan lain adalah memadukan berbagai gaya tari tradisional dan modern. Koreografi dalam film ini menggabungkan beberapa gaya tari regional seperti Kuthu, Bharatanatyam, hingga tarian yang dipengaruhi budaya Pakistan. Kombinasi ini sengaja dipilih untuk mencerminkan keberagaman identitas para anggota tim tari di dalam cerita.

Mengurangi Penjelasan Budaya Berlebih

Dalam menyajikan film ini kepada penonton Netflix yang berskala global, Khan memilih untuk tidak terlalu banyak menjelaskan latar belakang budaya Asia Selatan secara berlebihan. Ia percaya bahwa penonton modern saat ini sudah cukup akrab dengan keberagaman budaya lewat serial populer sebelumnya seperti Never Have I Ever.

Khan menegaskan bahwa industri film saat ini sudah mulai berkembang, meskipun beberapa keterbatasan struktural masih ada, khususnya dalam memberikan peran utama romantis bagi aktor pria keturunan Asia Selatan. Uniknya, film ini membalikkan dinamika tersebut dengan menempatkan karakter minoritas yang biasanya kutu buku kepada aktor kulit putih.