Little Grandad Umumkan Album Debut Speak Softly Son Lewat Single Tiny Feet

Grup musik asal London, Little Grandad, resmi mengumumkan rencana peluncuran album debut mereka yang bertajuk Speak Softly, Son. Pengumuman ini disertai dengan perilisan single terbaru berjudul Tiny Feet yang menonjolkan harmonisasi vokal khas dari band tersebut. Album perdana ini dijadwalkan rilis pada 22 Januari 2027 di bawah arahan produser Kev Jones, yang juga dikenal sebagai personel band Wunderhorse.
Proses rekaman album dilakukan di kawasan Crouch End, London, di sela-sela kesibukan jadwal tur mereka. Kehadiran album ini menandai langkah berani bagi grup yang baru setahun lalu memulai pertunjukan panggung pertama mereka di Brixton.
Eksplorasi Harmoni dan Lompatan Tanpa EP
Single terbaru mereka, Tiny Feet, menjadi representasi kuat dari karakter musik yang diusung oleh grup ini. Lagu ini dibuka dengan petikan gitar akustik yang lembut sebelum perlahan berkembang menjadi aransemen yang lebih intens. Karakter vokal yang rapat dan harmonis mendominasi lagu ini, mempertegas warna musik folk-rock klasik yang mereka bawa. Video musik pendukungnya digarap oleh sutradara Xander Lewis dan sudah dapat dinikmati di berbagai platform.
Keputusan untuk langsung merilis album penuh tanpa merilis Extended Play (EP) terlebih dahulu merupakan langkah yang tidak biasa bagi band baru. Dilansir dari NME, sang pemain bass sekaligus vokalis, Jack Lower, mengungkapkan bahwa keputusan tersebut diambil secara sadar untuk menyajikan karya yang lebih utuh sejak awal karir mereka.
Jack menjelaskan bahwa fokus utama mereka adalah mengembalikan kekuatan narasi lewat lagu. “Kami merasa ada pergeseran tren yang kembali menyukai lagu dengan cerita kuat. Kami ingin menyampaikan sebuah cerita lewat lagu-lagu ini, dan hal itu akan disampaikan melalui petikan gitar,” ujarnya saat diwawancarai oleh NME.
Ikatan Persaudaraan dan Inspirasi Klasik
Fondasi dari grup ini dipimpin oleh dua bersaudara, Jack Lower dan Harry Lower. Ide pembentukan band ini muncul setelah keduanya menyelesaikan masa kuliah dan kembali tinggal bersama di rumah keluarga mereka. Dari sinilah mereka mulai mengembangkan apa yang mereka sebut sebagai blood harmonies, sebuah teknik harmonisasi vokal alami yang biasanya hanya dimiliki oleh anggota keluarga dekat.
Dalam proses kreatifnya, grup ini banyak mengambil inspirasi dari jajaran penulis lagu legendaris dunia. Nama-nama besar seperti Bob Dylan, Leonard Cohen, hingga Neil Young menjadi acuan utama mereka dalam menyusun lirik dan aransemen musik yang kontemplatif namun tetap bertenaga.
Ambisi Panggung Tanpa Akhir
Bersamaan dengan pengumuman album baru, grup ini juga bersiap menjalani rangkaian tur panjang di Inggris dan beberapa wilayah Eropa. Perjalanan tur dimulai dari Bristol dan akan berakhir di Scala, London, sebelum mereka melanjutkan penampilan di berbagai festival musik musim gugur seperti Pitchfork Paris pada bulan November mendatang.
Bagi para personel, panggung langsung merupakan esensi utama dari keberadaan band ini. Mereka bahkan memiliki ambisi jangka panjang yang terinspirasi dari konsep tur tanpa batas. “Kami ingin mengikuti konsep Never Ending Tour seperti Bob Dylan. Anda tidak berhenti; orang-orang tetap ingin menyanyikan lagu-lagu itu bersama Anda, bahkan ketika Anda sendiri sudah hampir tidak mampu menyanyikannya lagi. Itu adalah tujuan utama kami,” pungkas Jack.

