Netflix Akuisisi Serial True Crime Australia 2.6 Seconds Death in the Outback

Netflix baru saja mengamankan hak siar global untuk serial dokumenter true crime terbaru asal Australia berjudul 2.6 Seconds: Death in the Outback. Langkah akuisisi pra-tayang ini dilakukan menjelang pemutaran perdana dunianya di Toronto International Film Festival (TIFF) dalam program Primetime.
Dokumenter empat bagian ini menyoroti kasus penembakan fatal yang menewaskan Kumanjayi Walker, seorang pemuda Aborigin berusia 19 tahun, oleh petugas kepolisian Northern Territory bernama Zachary Rolfe di wilayah terpencil Yuendumu. Fokus utama serial ini adalah membedah bagaimana durasi singkat 2,6 detik di antara tembakan pertama dan terakhir mampu mengubah hidup orang-orang yang terlibat di dalamnya serta memicu perdebatan nasional yang sengit.
Menyoroti Ketimpangan Sistem Hukum dan Rasial
Dalam debut penyutradaraannya, Darren Dale menggunakan rekaman arsip, kesaksian pengadilan, hingga wawancara mendalam dengan kedua belah pihak keluarga untuk menyusun kembali kronologi kasus tersebut dari berbagai sudut pandang. Dale, yang sebelumnya memproduseri dokumenter serupa berjudul The Tall Man pada tahun 2011, merasa isu ketimpangan rasial ini masih terus berulang di Australia.
Dilansir Variety, Dale mengungkapkan keprihatinannya atas perlakuan sistem hukum terhadap masyarakat adat setempat. Ia menyatakan, “Apa yang membuat saya terkejut adalah adanya ketimpangan dalam bagaimana masyarakat Aborigin diperlakukan oleh sistem peradilan ketika peristiwa bencana seperti ini terjadi. Ini adalah tentang upaya membuat negara ini peduli: untuk melihat bahwa kehidupan pemuda ini sama berharganya dengan cucu, anak, atau saudara laki-laki siapa pun.”
Menolak Sudut Pandang Hitam Putih
Dibandingkan menyajikan narasi yang menghakimi, 2.6 Seconds: Death in the Outback memilih pendekatan yang lebih seimbang. Dokumenter ini menolak narasi biner yang sering kali mengkategorikan pelaku sepenuhnya sebagai penjahat atau korban sebagai pihak yang layak mendapatkan nasib tersebut. Narasi yang dibangun mencoba mengajak penonton untuk melihat kompleksitas emosi dan latar belakang situasi sosial secara lebih bijak.
Dale menjelaskan bahwa tim produksi ingin mengeksplorasi ketidakpastian tersebut secara jujur. Serial ini mengulas kehidupan kedua belah pihak, termasuk realitas menjadi polisi muda di Alice Springs yang harus berhadapan dengan isu kekerasan domestik dan ketergantungan alkohol, bersandingan dengan realitas kehidupan pemuda adat di sana. “Kami tidak pernah ingin film ini berteriak. Semua orang di dalamnya berbicara dengan keanggunan dan kerendahan hati yang nyata. Ini adalah true crime, tetapi diceritakan dengan ketenangan,” ujar Dale.
Gugatan terhadap Ketidakpedulian Sosial
Langkah Dale untuk terjun langsung sebagai sutradara didasari oleh kedekatan emosional yang ia rasakan setelah menghadiri sidang pemeriksaan kematian korban dan menemui pihak keluarga secara langsung. Baginya, menyerahkan proyek emosional ini kepada sutradara lain dirasa kurang tepat mengingat kompleksitas kasus yang sangat sensitif tersebut.
Melalui distribusi global di Netflix, Dale berharap audiens internasional dapat merefleksikan isu marginalisasi yang juga terjadi di berbagai belahan dunia lain. Baginya, serial ini bukan sekadar rekonstruksi kasus hukum, melainkan sebuah undangan terbuka untuk menumbuhkan empati. Ia menekankan, “Saya ingin orang-orang memahami kondisi yang masih dialami oleh masyarakat adat First Nations di Australia Tengah, dan bagaimana dampak kolonialisasi masih sangat terasa hingga hari ini. Kisah ini adalah undangan untuk peduli.”

