Netflix Jagokan Film Ink Garapan Danny Boyle di Ajang Oscar

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Danny Boyle
zoom-in-whitePerbesar
Danny Boyle

Netflix mulai menyusun strategi besar untuk membawa film terbaru sutradara Danny Boyle yang berjudul Ink ke panggung penghargaan Oscar. Diadaptasi dari pertunjukan teater populer karya James Graham, film drama ruang redaksi ini telah mencuri perhatian di Festival Film Venesia dengan sambutan hangat berupa standing ovation selama empat menit sebelum melanjutkan perjalanannya ke Festival Film Telluride dan Toronto.

Film ini menyoroti awal mula terbentuknya lanskap media modern lewat kisah akuisisi tabloid Inggris bernama The Sun oleh Rupert Murdoch pada tahun 1969. Dengan jadwal rilis bioskop pada Desember dan penayangan di platform digital pada Januari, langkah taktis ini dirancang untuk memaksimalkan peluang film tersebut dalam memikat para pemilih di ajang Academy Awards.

Ambisi Akting Guy Pearce dan Jack O'Connell

Fokus utama dari kampanye penghargaan ini tertuju pada dua pemeran utamanya, yaitu Guy Pearce dan Jack O'Connell. Pearce berperan sebagai Rupert Murdoch muda, seorang pengusaha ambisius berusia tiga puluhan yang bertekad mendobrak tatanan media konservatif di Fleet Street. Di sisi lain, O'Connell memainkan karakter Larry Lamb, editor kelas pekerja yang didorong oleh Murdoch untuk melompati batas-batas etika pers tradisional demi menarik perhatian publik.

Peran Pearce sebagai tokoh nyata yang kontroversial dinilai memiliki daya tarik kuat bagi para juri Oscar. Terlebih lagi, ia baru saja mendapatkan nominasi aktor pendukung dua tahun lalu lewat film The Brutalist. Memerankan karakter pembentuk sistem informasi modern yang saat ini dianggap memicu polarisasi memberikan urgensi sosial tersendiri bagi kampanye penominasiannya.

Sementara itu, O'Connell membawa momentum karier yang sedang menanjak setelah keterlibatannya dalam beberapa proyek besar. Bersaing di kategori aktor utama yang sangat ketat tentu bukan hal mudah, namun dinamika perannya sebagai jantung emosional film ini dinilai mampu memberikan perlawanan sengit. Hubungan profesional yang kuat di antara kedua aktor tersebut diharapkan dapat saling mendukung tanpa saling menutupi satu sama lain di mata pemilih.

Adaptasi Skenario Teater yang Menjanjikan

Di balik layar, kekuatan narasi film ini bertumpu pada James Graham yang mengadaptasi sendiri naskah dramanya yang pernah masuk nominasi Tony Awards. Langkah memindahkan pertunjukan panggung ke dalam medium layar lebar ini mengingatkan pengamat industri pada pola sukses film One Night in Miami yang dirilis pada tahun 2020 silam.

Pola tersebut memperlihatkan bagaimana penulis naskah teater yang menerjemahkan karyanya sendiri untuk layar lebar, didukung peluncuran di festival film bergengsi, sering kali menjadi formula ampuh untuk mengamankan nominasi Oscar di kategori skenario adaptasi. Lewat sentuhan penyutradaraan Boyle, naskah ini dikemas dengan tempo cepat layaknya sebuah film tentang rencana aksi pencurian atau heist.

Melalui premis ceritanya, film ini secara tersurat menegaskan sebuah pesan tajam bahwa: “Kita semua saat ini masih hidup di dalam lembaran surat kabar yang mereka cetak pada masa itu.” Menurut analisis yang dilansir Variety, kekuatan utama dari narasi ini bukan sekadar menceritakan bagaimana sebuah surat kabar dibangun, melainkan bagaimana dua pria membantu menciptakan sistem attention economy yang mengendalikan kehidupan saat ini.

Persaingan Internal di Bawah Bendera Netflix

Selain departemen akting dan penulisan, film ini juga didukung oleh jajaran kru teknis berprestasi di bidangnya. Desain produksi digarap oleh Carson McColl dan Gareth Pugh yang berhasil membangun kembali kejayaan masa lalu Fleet Street, sementara penyuntingan gambar ditangani oleh Fin Oates dengan ritme cepat. Sektor suara digarap oleh peraih Oscar, Johnnie Burn, serta musik latar yang dinamis gubahan komposer Daniel Pemberton.

Kendati memiliki bekal teknis dan ulasan festival yang solid, jalan menuju kemenangan tidak akan mudah bagi film ini. Masalah utama yang dihadapi justru datang dari dalam rumah mereka sendiri, mengingat Netflix memiliki daftar film musim gugur yang sangat padat tahun ini.

Judul-judul lain seperti La Bola Negra, The Adventures of Cliff Booth, hingga The Mosquito Bowl juga memperebutkan slot promosi, ruang pemberitaan, dan perhatian pemilih yang sama dari platform yang sama. Oleh karena itu, tim kampanye harus mampu membagi fokus dengan jeli agar potensi besar yang dimiliki oleh Ink tidak tenggelam oleh proyek internal lainnya.