Tantangan Sinematografer Adam Pietkiewicz Menggarap Film Angh Tanpa CGI

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi cinema, projector, home. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi cinema, projector, home. Foto: Pixabay

Sinematografer Adam Pietkiewicz berhasil meraih penghargaan bergengsi Variety TIFF Artisan Award di Toronto International Film Festival berkat visual memukau dalam film Angh. Film berlatar tahun 1960-an ini mengisahkan tentang kepala suku terakhir dari desa terpencil di wilayah Nagaland, India, yang berbatasan langsung dengan Burma.

Lewat wawancara eksklusif bersama Variety, Pietkiewicz menceritakan bagaimana ia dan sutradara Theja Rio harus memutar otak demi merekam keindahan alam yang mentah sekaligus mengatasi keterbatasan teknis di lokasi syuting yang minim listrik.

Tantangan Syuting Malam Hari Tanpa Aliran Listrik

Wilayah Nagaland dikenal memiliki lanskap pegunungan yang indah namun minim infrastruktur modern. Saat proses produksi berlangsung, Pietkiewicz dihadapkan pada masalah besar yaitu tidak adanya aliran listrik yang stabil untuk mendukung pencahayaan di malam hari. Cahaya api unggun biasa rupanya tidak cukup kuat untuk memantulkan ekspresi wajah para aktor pada alat pengukur cahaya (light meter).

Untuk mengatasi masalah tersebut, tim produksi melakukan eksperimen kreatif bersama aktor Anghlong Konyak yang memerankan sang kepala suku. Mereka merancang obor khusus yang dilapisi cairan mudah terbakar untuk menghasilkan kobaran api yang lebih terang secara konstan. “Kami membuat obor api terpisah, dan di bagian atasnya kami oleskan cairan khusus yang mudah terbakar. Berkat metode itu, kami akhirnya bisa mendapatkan pencahayaan yang cukup pada wajah mereka,” ungkap Pietkiewicz.

Estetika Seluloid 16mm dan Keputusan Tanpa Efek Visual CGI

Alih-alih menggunakan kamera digital modern, sutradara Theja Rio bersikeras menggunakan pita seluloid 16mm untuk merekam seluruh adegan. Pilihan ini diambil guna menangkap atmosfer lingkungan yang kasar, organik, dan bertekstur sesuai dengan era sejarah yang diangkat. Pietkiewicz memadukan kamera Arri dengan lensa Ultra Prime, serta mengombinasikan stok film Kodak VISION3 250D dan 500T.

Keputusan berani lainnya terlihat dari adegan kebakaran hebat yang menghanguskan seluruh desa. Alih-alih mengandalkan rekayasa digital atau CGI, seluruh adegan dramatis tersebut direkam secara langsung di depan kamera (in-camera). Pendekatan minimalis ini memberikan efek dramatis yang sangat nyata dan memperkuat ketegangan emosional dalam film tersebut.

Kolaborasi Erat Lewat Panduan Book of Angh

Hubungan kerja antara Pietkiewicz dan Rio yang sudah terjalin sejak masa sekolah film menjadi kunci kelancaran produksi yang penuh tantangan ini. Meski menyukai gaya penyutradaraan yang minimalis dengan penataan kamera yang sederhana, mereka tetap mempersiapkan segalanya dengan sangat detail sebelum turun ke lapangan.

Mereka bahkan menyusun sebuah buku panduan khusus yang dinamakan Book of Angh. Buku ini berisi perencanaan matang untuk setiap adegan agar tidak ada waktu dan pita film yang terbuang sia-sia selama proses syuting. Penghargaan yang diterima Pietkiewicz ini pun ia dedikasikan sepenuhnya untuk masyarakat Nagaland yang dinilai layak mendapatkan panggung di kancah perfilman internasional.