Wavves Batalkan Album Kolaborasi dengan Say Anything Usai Skandal Max Bemis

Kabar mengejutkan datang dari kancah musik indie rock global. Proyek kolaborasi yang sangat dinantikan antara grup musik Wavves dan Say Anything resmi dibatalkan. Keputusan drastis ini diambil setelah vokalis Say Anything, Max Bemis, tersandung tuduhan serius terkait pengiriman pesan tidak pantas dan menjurus ke arah seksual kepada seorang remaja perempuan berusia 17 tahun.
Album kolaborasi bertajuk Cherry Soda yang berisi sepuluh lagu tersebut awalnya dijadwalkan rilis pada 18 September mendatang di bawah naungan label I Surrender Records. Namun, vokalis utama Wavves, Nathan Williams, dengan tegas menyatakan tidak ingin lagi dikaitkan dengan Bemis maupun bandnya setelah tudingan ini mencuat ke publik.
Duduk Perkara Tudingan Terhadap Max Bemis
Kontroversi ini bermula ketika seorang remaja perempuan berusia 17 tahun membagikan pengalamannya berinteraksi dengan Bemis di forum Reddit khusus penggemar Say Anything. Unggahan tersebut disertai dengan tangkapan layar percakapan pesan langsung (direct message) di Instagram yang diduga kuat dikirim oleh musisi tersebut.
Korban mengklaim bahwa Bemis mulai menghubunginya melalui akun utama dan akun alternatif Instagram pada bulan Maret, sebelum akhirnya memberikan nomor telepon pribadinya. Ia juga menegaskan bahwa Bemis mengetahui usianya yang masih di bawah umur, serta latar belakangnya sebagai penyintas perdagangan manusia. Meskipun demikian, obrolan mereka tetap diarahkan ke topik-topik bernuansa seksual.
“Bahkan jika Max tidak pernah mengatakan hal yang mencurigakan atau seksual kepada saya, seorang pria berusia 40 tahun ke atas tidak seharusnya mengobrol dengan remaja 17 tahun,” tulis korban di forum tersebut. Tak lama setelah itu, seorang remaja lain berusia 19 tahun juga mengunggah tangkapan layar serupa, yang memperlihatkan Bemis membicarakan ketertarikannya pada orang yang jauh lebih muda.
Dampak Finansial dan Upaya Penyelamatan Karya
Keputusan sepihak untuk melakukan pembatalan album ini tentu membawa kerugian besar, khususnya bagi pihak Wavves. Melalui platform Patreon, Nathan Williams mengungkapkan kekecewaannya karena telah menghabiskan waktu selama 11 bulan untuk menggarap proyek ini sendirian, sementara Bemis hanya terlibat selama empat hari dalam proses kreatifnya.
Williams memperkirakan keputusan pembatalan ini membuatnya merugi sekitar 200 ribu dolar AS, mengingat 10.000 piringan hitam (vinyl) album tersebut sudah terlanjur dicetak dan siap didistribusikan. Kendati demikian, ia menolak berkompromi dengan situasi moral tersebut dan lebih memilih menanggung kerugian finansial demi menjaga integritas bandnya.
Sebagai solusi, Williams kini tengah berdiskusi untuk menyelamatkan materi lagu yang telah direkam. Ia berencana menghapus seluruh vokal dan kontribusi dari Bemis, lalu merilis ulang proyek tersebut murni sebagai karya Wavves. Menurutnya, hal tersebut sangat memungkinkan karena Bemis sebenarnya hampir tidak menulis bagian apa pun dalam album kolaborasi tersebut.
Respons Manajemen Say Anything dan Penundaan Konser
Di sisi lain, pihak manajemen Say Anything segera mengambil langkah taktis setelah tuduhan ini menyebar luas di media sosial. Mereka mengumumkan penundaan sejumlah jadwal konser solo Bemis yang akan datang. Langkah ini diklaim perlu diambil guna memprioritaskan kondisi kesehatan mental dan kesejahteraan pribadi sang vokalis.
“Max akan mengambil waktu yang diperlukan untuk fokus pada kesehatannya,” tulis pernyataan resmi dari pihak band. Mereka juga meminta pengertian, kesabaran, dan penghormatan terhadap privasi Bemis selama masa sulit ini. Meski begitu, pernyataan tersebut sama sekali tidak membahas atau membantah tuduhan pelecehan yang sedang ramai diperbincangkan secara langsung.

