Konten dari Pengguna

Rumah Terakhir Sang Tukang Kayu

Wawan Kusdiawan

Wawan Kusdiawan

Seorang PNS aktif mengajar, konsentrasi bidang IT dan SDM Aparatur. Memiliki Sertifikasi Kompetensi Pengembangan Perangkat Lunak, Sertifikasi Operator Komputer, Sertifikasi Manajemen Aparatur Sipil Negara, Sertifikasi Asesor Pemerintahan.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Wawan Kusdiawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Tukang Kayu membangun rumah terkahir. chatgpt
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Tukang Kayu membangun rumah terkahir. chatgpt

Ada seorang tukang kayu tua yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk membangun rumah bagi banyak orang. Tangannya terampil, pengalamannya panjang, dan hasil kerjanya selalu dipercaya.

Suatu hari, ia mendatangi pemilik perusahaan dan menyampaikan maksud pensiun dari pekerjaannya. Usianya telah senja, tubuhnya mulai lelah, dan hatinya merindukan waktu yang tenang untuk berisitrahat. Ia ingin menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.

Pemilik perusahaan sangat menyesali keputusan dari tukang kayu tersebut. Ia merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Namun dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Ia mengabulkan keinginan tukang kayu tersebut dengan mengajukan satu permintaan terakhir membuatkan sebuah rumah.

Tukang kayu menyetujui permohonan pemilik perusahaan itu. Meskipun sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti, yang di bayangkan bagaiamana bisa segera pensiun dan beristirahat.

Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan dalam menyelesaikan rumah terakhirnya. Dengan ogah-ogahan Ia mengerjakan proyek itu, bahan yang digunakan biasa-biasa saja, detail yang dulu selalu ia perhatikan kini terabaikan. Tangannya tetap bekerja, tetapi hatinya tidak lagi hadir di sana. Ia hanya ingin proyek itu cepat selesai. Sungguh sayang karena tukang kayu harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.

Akhirnya selesailah rumah yang diminta. Kemudian pemilik perusahaan itu datang meninjau hasilnya. Setelah melihat rumah tersebut, pemilik perusahaan lalu menyerahkan kunci rumah tersebut kepada sang tukang kayu. “Ini adalah rumahmu, hadiah dari kami”

Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya memandangi rumah yang dia bangun dengan asal-asalan. Seandainya saja ia mengetahui bahwa sesungguhnya rumah yang dikerjakan untuk dirinya sendiri, sudah pasti akan dibangun jauh lebih baik dari semua bangunan yang pernah Ia bangun.

Dikerjakannya dengan sepenuh jiwa, memilih bahan terbaik, mengerjakannya dengan ketelitian, dan mencurahkan seluruh kebanggaan sebagai seorang tukang kayu. Namun semuanya telah selesai. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.

Begitulah kehidupan sering berjalan. Tanpa sadar, kita semua adalah tukang kayu bagi hidup kita sendiri. Setiap hari kita membuat pilihan, mengambil keputusan, membangun kebiasaan, dan menanam sikap. Kita memaku harapan, menyusun mimpi, serta mendirikan masa depan sedikit demi sedikit.

Namun kadang kita menjalani hidup sekadarnya bekerja tanpa hati, berusaha tanpa kesungguhan, lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik. Kita lupa bahwa apa yang sedang kita bangun hari ini adalah tempat kita tinggal esok hari.

Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri. Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda.

Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu. Renungkan rumah yang sedang kita bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup.

Karena itu, bangunlah hidup dengan kesadaran penuh. Kerjakan setiap peran seolah itu adalah karya terpenting dalam hidupmu. Berikan ketulusan, kualitas, dan integritas terbaik, bahkan ketika tidak ada yang melihat. Sebab masa depan bukanlah sesuatu yang tiba-tiba datang. Ia adalah hasil dari pilihan kecil yang kita lakukan hari ini. Karena kehidupan esok hari selalu lahir dari sikap yang kita pilih hari ini. (WKN)