Konten dari Pengguna

Bagaimana Koperasi Mahasiswa Mengubah Wajah Koperasi Indonesia

Wawan Prasetyo

Wawan Prasetyo

Koordinator lembaga pelatihan di Yayasan Hasnur Centre. Guru Ekonomi di SMA Global Islamic Boarding School dan pegiat inkubator bisnis UMKM dan Koperasi di Wetland Box Incubator. Menulis di beberapa platform.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Wawan Prasetyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: https://unsplash.com/photos/PhD_YRuJXCM?utm_source=unsplash&utm_medium=referral&utm_content=creditShareLink
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: https://unsplash.com/photos/PhD_YRuJXCM?utm_source=unsplash&utm_medium=referral&utm_content=creditShareLink

Investasi bodong, penipuan, usaha konvensional adalah beberapa citra negatif yang tersemat pada koperasi di Indonesia. Padahal, banyak koperasi yang memiliki reputasi luar biasa dan banyak di antaranya mampu mengubah wajah koperasi Indonesia.

Lantas, bagaimana kemudian Koperasi Mahasiswa (KOPMA) mampu mengubah wajah koperasi Indonesia?

KOPMA pada dasarnya merupakan laboratorium bagi pegiat koperasi di lingkungan kampus yang mayoritas digeluti mahasiswa. Tentu yang perlu menjadi fokus adalah bagaimana kemudian KOPMA memberikan fasilitas dan fokus yang relevan dengan kebutuhan mahasiswa hari ini sembari menyisipkan nilai-nilai dan prinsip koperasi.

Selama perjalanannya, KOPMA cenderung hanya mempertahankan pola-pola lama. Tidak banyak kebaruan dan inovasi yang dapat dikreasi. Hal tersebut dapat dilihat dari tata letak ruang sekretariat hingga pola rencana kerja yang hanya warisan turun temurun.

KOPMA perlu memikirkan misi yang lebih mulia daripada hanya memberikan profit bagi anggotanya, yaitu memberikan layanan yang berkelanjutan berupa fasilitas belajar, pengembangan diri dan saluran networking.

Lantas, apa yang kemudian perlu diperhatikan anak muda sebagai pengurus dalam mengelola KOPMA?

  1. Bersikap relevan dan adaptif, artinya pengurus memiliki kepekaan untuk mempelajari apa yang dunia butuhkan hari ini. Dilihat dari konteks organisasi, perlu disesuaikan divisi-divisi yang mampu menunjang kemajuan koperasi. Misalnya ada divisi yang fokus membangun koneksi dengan berbagai organisasi dan lembaga. Tujuannya tidak lain untuk menciptakan pola kerja sama dan kolaborasi.

  2. Ekosistem belajar, artinya pengurus mampu mendesain kebutuhan belajar anggotanya dengan keterampilan yang dibutuhkan industri seperti 21st Century Skills. Ekosistem ini akan tercipta jika dikomunikasikan dan dikoordinasikan secara mendetail dengan organisasi turunan yang ada di KOPMA seperti komunitas maupun komisariat.

  3. Kaderisasi koperasi, artinya proses kaderisasi disusun sedemikian demokratis. Kaderisasi tidak hanya terpaku pada paket yang ditentukan pengurus, namun perlu memperhatikan hubungan timbal balik terutama ketika ada aturan-aturan yang ingin dikoreksi oleh anggota koperasi.

Proses mengubah wajah koperasi Indonesia adalah bagian dari perjalanan panjang. Ujung tombak perubahannya ada di tangan anak muda Indonesia yang berkecimpung di dunia perkoperasian melalui KOPMA.

Percayalah, anggota yang kemudian berkomitmen untuk tumbuh bersama KOPMA memiliki harga yang mahal. Harga tersebut harus ditebus dengan kemauan pengurus dalam berbenah secara individu dan kelembagaan. Pengurus perlu melawan pendekatan-pendekatan lama dengan cara mengkreasi sesuatu yang lebih berkelanjutan dan berdampak.

Keterbukaan terhadap kebutuhan dunia, ekosistem belajar yang progresif dan kaderisasi yang demokratis bukanlah sesuatu yang instan. Buatlah anggota koperasi merasa nyaman dengan zona belajar yang disediakan oleh KOPMA. Masa depan akan "membayarnya" berdasarkan daya juang yang kita tanam.