Pengaruh Influencer terhadap Cara Pandang Remaja di Media Sosial

Hellen Natasha Dionne, kelahiran Bandung 2010, Siswi SMA TRINITAS, jangan pernah menyerah karena hanya orang yang tidak pernah menyerah yang dapat menjadi orang sukses
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Hellen Natasha Dionne tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Media sosial merupakan ruang digital yang dapat digunakan masyarakat untuk berkomunikasi, mencari informasi, memperoleh hiburan, serta mengikuti berbagai tren. Pengguna media sosial berasal dari berbagai kelompok usia, termasuk remaja. Di dalamnya terdapat berbagai peran yang saling memengaruhi, salah satunya adalah influencer. Influencer merupakan seseorang yang memiliki banyak pengikut dan mampu memengaruhi audiens melalui konten yang dibagikan. Pengaruh tersebut tidak hanya berkaitan dengan produk, tetapi juga dapat membentuk persepsi terhadap suatu tempat, layanan, maupun gaya hidup. Salah satu contoh yang sedang menjadi perhatian adalah konten kreator Fahira Mira yang membagikan pengalaman kesehatannya di media sosial. Fahira mengaku sebelumnya mendapat diagnosis usus buntu dari tiga rumah sakit di Indonesia, kemudian mencari second opinion di Malaysia dan memperoleh hasil pemeriksaan yang berbeda. Kisah tersebut kemudian viral dan menimbulkan berbagai tanggapan dari warganet.

Masalah tersebut perlu dibahas karena konten influencer dapat menjangkau masyarakat dalam waktu singkat dan memengaruhi cara seseorang memandang suatu peristiwa. Dalam kasus Fahira Mira, perbedaan hasil pemeriksaan di Indonesia dan Malaysia menjadi perhatian karena dianggap menunjukkan adanya perbedaan dalam pelayanan kesehatan. Selain itu, muncul pula berbagai tanggapan warganet mengenai penyebutan dan dokumentasi rumah sakit di Malaysia serta dugaan adanya unsur promosi atau endorsement. Namun, dugaan tersebut tidak dapat dianggap sebagai fakta tanpa adanya bukti atau konfirmasi yang jelas. Fahira sendiri kemudian memberikan klarifikasi bahwa cerita yang disampaikan merupakan pengalaman pribadinya dan bukan untuk menyalahkan pihak tertentu. Fenomena ini menarik untuk dibahas karena menunjukkan bahwa sebuah konten pribadi dapat berkembang menjadi perbincangan publik dan membentuk persepsi yang berbeda-beda.
Influencer memiliki kemampuan untuk memengaruhi audiens melalui informasi dan pengalaman yang mereka bagikan. Menurut Ki dan Kim (2019), karakteristik konten influencer dapat memengaruhi penilaian audiens terhadap influencer tersebut, kemudian mendorong keinginan untuk meniru dan menghasilkan respons perilaku tertentu. Penelitian tersebut dilakukan terhadap 395 responden dan menunjukkan adanya hubungan antara konten influencer, sikap audiens, keinginan meniru, serta perilaku seperti word-of-mouth dan niat membeli. Hal ini menunjukkan bahwa seorang influencer bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga dapat memengaruhi cara audiens menilai suatu hal. Pendapat tersebut sejalan dengan pernyataan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria pada 2026 bahwa algoritma media sosial dapat membentuk persepsi masyarakat. Menurut Nezar, pengguna perlu memeriksa sumber informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya karena informasi yang didorong oleh sentimen dapat lebih mudah menjadi viral.
Perbedaan pengalaman dalam kasus Fahira Mira sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai bukti bahwa pelayanan kesehatan di salah satu negara lebih buruk. Hasil pemeriksaan seseorang dapat dipengaruhi oleh kondisi pasien, waktu pemeriksaan, serta metode pemeriksaan yang digunakan. Seorang pakar kesehatan, Dicky Budiman, juga menjelaskan bahwa perbedaan diagnosis antarfasilitas kesehatan dapat terjadi karena beberapa faktor, termasuk adanya jarak waktu antara pemeriksaan. Oleh karena itu, pengalaman Fahira lebih tepat dipahami sebagai pengalaman pribadi yang tidak dapat langsung digeneralisasi kepada seluruh dokter atau rumah sakit di Indonesia. Masyarakat juga sebaiknya tidak terburu-buru mengambil kesimpulan hanya berdasarkan konten yang sedang viral. Terlebih lagi, informasi mengenai kesehatan merupakan hal yang sensitif dan membutuhkan penjelasan berdasarkan fakta medis yang lengkap.
Selain dari sisi informasi kesehatan, persoalan mengenai kemungkinan promosi juga menjadi bagian yang menarik untuk diperhatikan. Warganet mempertanyakan mengapa rumah sakit di Malaysia ditampilkan secara jelas dalam konten tersebut, sementara nama tiga rumah sakit di Indonesia tidak dijelaskan secara rinci. Pertanyaan tersebut merupakan respons masyarakat dan belum dapat dijadikan bukti bahwa konten tersebut merupakan endorsement. Jika suatu konten memang berkaitan dengan kegiatan perdagangan atau promosi secara digital, terdapat aturan yang mengatur penyelenggaraannya. Salah satunya adalah Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 19 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Usaha Perdagangan Melalui Sistem Elektronik, yang mulai berlaku pada 8 Juni 2026 dan juga mengatur mengenai iklan elektronik serta perlindungan konsumen. Karena itu, transparansi dalam menyampaikan informasi dan promosi penting agar masyarakat dapat membedakan pengalaman pribadi dengan konten yang memiliki kepentingan komersial.
Influencer sebenarnya tidak selalu memberikan dampak negatif bagi masyarakat. Mereka juga dapat membantu menyebarkan informasi dan pengalaman yang bermanfaat. Namun, semakin besar jumlah audiens yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab dalam menyampaikan informasi. Dalam kasus yang berkaitan dengan kesehatan, influencer sebaiknya menjelaskan bahwa informasi yang dibagikan merupakan pengalaman pribadi dan bukan pengganti saran dari tenaga medis. Fahira sendiri kemudian menegaskan bahwa pengalamannya bukan merupakan saran medis dan mengingatkan orang yang telah mendapat diagnosis serta rekomendasi operasi untuk tetap mengikuti arahan dokter. Di sisi lain, masyarakat juga perlu mencari informasi dari sumber yang terpercaya sebelum mempercayai suatu konten. Dengan cara tersebut, perbedaan pengalaman tidak langsung berubah menjadi kesimpulan yang dapat merugikan pihak tertentu.
Remaja sebagai salah satu kelompok yang aktif menggunakan media sosial perlu memiliki kemampuan untuk menyaring informasi dari influencer. Banyaknya pengikut atau popularitas seseorang tidak menjamin bahwa seluruh informasi yang disampaikan pasti benar. Konten yang viral juga sebaiknya tidak langsung dipercaya hanya karena mendapatkan banyak perhatian atau komentar. Informasi tersebut dapat dibandingkan dengan sumber lain yang lebih terpercaya, terutama jika berkaitan dengan kesehatan atau keputusan penting. Hal ini semakin penting karena algoritma media sosial dapat membuat pengguna lebih sering menerima konten yang sesuai dengan minat dan pandangan mereka. Nezar Patria menjelaskan bahwa kondisi tersebut dapat menciptakan filter bubble dan echo chamber, sehingga pengguna perlu membangun kebiasaan berpikir kritis. Dengan demikian, remaja dapat menggunakan media sosial tanpa mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terbukti.
Kasus Fahira Mira menunjukkan bahwa influencer memiliki pengaruh yang cukup besar dalam membentuk pandangan masyarakat melalui media sosial. Sebuah pengalaman pribadi dapat menjadi viral dan menimbulkan berbagai pendapat ketika disampaikan kepada audiens yang luas. Menurut saya, masalah utama dalam fenomena ini bukan hanya mengenai siapa yang benar atau salah, tetapi juga bagaimana informasi tersebut disampaikan dan diterima oleh masyarakat. Influencer perlu bertanggung jawab terhadap informasi yang dibagikan, sedangkan audiens perlu bersikap kritis sebelum mempercayainya. Remaja juga perlu membiasakan diri memeriksa informasi dari berbagai sumber agar tidak mudah mengikuti suatu pandangan hanya karena sedang viral. Dengan begitu, media sosial dapat menjadi tempat untuk memperoleh informasi yang bermanfaat tanpa mengabaikan sikap kritis.
