Dua Tahun yang Mengubah Segalanya

Welhelmus Poek seorang aktivis NGO yang sangat intens advokasi isu-isu Hak Asasi Manusia terutama hak-hak kelompok marginal, secara spesifik memperjuangkan hak-hak anak muda, gender dan keadilan sosial lainnya. Lahir di Pulau Rote, 17 Juni 1981.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Welhelmus Poek tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Untuk kamu yang sedang satu langkah dari keputusan terbesar hidupmu
Januari 2018. Saya turun dari pesawat di Canberra dengan dua koper, satu jaket tebal yang ternyata belum cukup tebal, dan perasaan yang sulit saya jelaskan — separuh takut, separuh tidak sabar. Ibu kota Australia itu menyambut saya dengan tenang: jalanan lebar, pohon-pohon yang tertata, dan langit yang terasa begitu lapang sampai saya berdiri lama di luar bandara hanya untuk merasakannya.
Saya tidak tahu waktu itu bahwa dua tahun ke depan akan menjadi dua tahun paling membentuk dalam hidup saya.
Di University of Canberra, saya mengambil Master of International Development. Tapi yang saya pelajari jauh melampaui nama program itu. Sejak minggu pertama, saya sadar bahwa cara belajar di sini berbeda. Dosen tidak datang membawa jawaban — mereka datang membawa pertanyaan yang lebih besar. “What does development actually mean for the communities you serve?” Pertanyaan itu mengguncang saya. Dan dari guncangan itulah saya mulai tumbuh.
Saya juga belajar dari hal-hal yang tidak ada di ruang kelas. Dari infrastruktur Canberra yang terkoneksi dengan mulus — bus, sepeda, pejalan kaki, semuanya punya jalurnya sendiri dan semuanya dihormati.
Dari museum-museum nasional yang bisa dikunjungi gratis, yang menyimpan sejarah dengan cara yang mengundang siapa saja untuk ikut memahaminya. Dari penataan kota yang memadukan arsitektur klasik dan modern tanpa ada yang terasa dipaksakan. Australia mengajarkan saya bahwa ruang publik yang baik adalah cermin dari masyarakat yang merawat satu sama lain.
Di sela-sela studi, saya menyempatkan diri menjelajah. Sydney, Melbourne, Adelaide, Brisbane, Gold Coast, dan lainnya — hampir setiap sudut benua ini pernah saya injak, meski masih menyisahkan kota Perth, Darwin dan Tazmania (mungkin juga ini cara Tuhan agar suatu waktu saya kembali ke benua ini). Setiap kota punya karakternya sendiri. Setiap perjalanan meninggalkan lapisan baru pada cara saya memandang dunia.
Tapi pengalaman yang paling tak ternilai justru yang tidak bisa difoto.
Tahun pertama saya di Canberra, saya bergabung dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia, untuk kampus Canberra Universitas dan chapter The Australian Capital Territory. Saya kemudian dipercaya menjadi Presidennya untuk periode 2018-2019.
Pada periode yang sama, saya juga diamanahi posisi Vice President untuk tingkat nasional PPIA Australia menangani Strategic Affairs. Dua amanah itu mengajarkan saya tentang kepemimpinan dengan cara yang tidak bisa diajarkan di bangku kuliah mana pun — tentang bagaimana mengelola perbedaan, membangun konsensus, dan menjaga semangat komunitas di tengah tekanan akademis yang sama-sama kami rasakan.
Dari situ pula, jaringan saya bertumbuh. Bukan sekadar nama di kontak ponsel, tapi relasi yang dibangun dari diskusi larut malam, dari proyek bersama, dari saling menguatkan di saat mini thesis terasa mustahil untuk diselesaikan. Teman-teman dari puluhan negara yang hari ini sudah menjadi profesional, peneliti, pembuat kebijakan — dan kami masih saling kenal, saling percaya.
Pada 2019 saya menyelesaikan studi. Tapi Australia belum selesai mengajar saya.
Tahun 2024, saya kembali — kali ini ke Perth, Western Australia, untuk mengikuti short course dengan topik Renewable Energy in Remote Communities di Murdoch University. Enam tahun setelah pertama kali menginjakkan kaki di Canberra, saya duduk kembali di ruang kelas Australia dengan perspektif yang lebih matang. Dan sekali lagi, saya pulang membawa lebih dari sekadar sertifikat.
Kepada kamu yang sedang mengisi formulir Australia Awards sekarang — yang mungkin tiga kali menghapus paragraf pertama essay-mu dan bertanya-tanya apakah kamu cukup layak — izinkan saya berkata jujur:
Rasa ragu itu wajar. Justru mereka yang berani mendaftar sambil ragu itulah yang biasanya paling siap untuk berubah.
Australia tidak akan hanya memberimu gelar. Ia akan memberimu cara berpikir baru, jaringan yang melampaui batas negara, dan — yang paling penting — versi dirimu yang lebih percaya bahwa kamu bisa berkontribusi pada dunia yang lebih baik.
Suatu sore di Canberra, saya pernah berdiri di depan gedung parlemen Australia, menatap hamparan taman yang terawat di bawah langit sore yang keemasan. Saya berpikir: betapa jauh saya sudah datang, dan betapa jauh masih yang bisa dituju.
Kalimat itu masih saya pegang sampai hari ini.
Langit Canberra luas. Perth menakjubkan. Dan Australia sedang menunggumu.
Ditulis dengan sepenuh hati, untuk mereka yang berani bermimpi lebih jauh dari batas yang pernah mereka bayangkan.
Kupang, 18 Maret 2026
Welhelmus Poek, S.PT. M. Intl Dev.
