• 11

Perempuan Indonesia Mendamaikan Dunia

Perempuan Indonesia Mendamaikan Dunia


Peacekeepers perempuan TNI. Koleksi foto dari Letkol Ratih Pusparini (tengah baris depan), peacekeeper perempuan TNI ex Misi PBB di Suriah, Republik Demokratik Kongo, Lebanon.
Hebat nan cantik. Dua kata itu terlintas di benakku tatkala pertama kali menjumpai wanita-wanita Indonesia yang sedang bertugas nun jauh di perbatasan Lebanon dan Israel 2013 lalu.
Tempat itu masih menjadi salah satu daerah konflik di Timur Tengah. Tetapi itu merupakan arena pengabdian mereka dalam memberikan rasa aman yang diidamkan rakyat Lebanon. Meskipun, membuat mereka berkorban jauh dari keluarga, suami, dan anak-anaknya di Tanah Air.
Siapakah mereka? Mereka adalah wanita TNI atau dikenal dengan Wan TNI yang mewakili Indonesia sebagai Peacekeeper atau Pasukan Penjaga Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam Kontingen Garuda pada misi UNIFIL di Lebanon.
Tidak kalah hebatnya, Polri juga punya Peacekeeper Polisi Wanita (Polwan) yang tergabung dalam Kontingen Garuda Bhayangkara.
Mereka semua meramaikan pekerjaan perdamaian dunia yang mungkin orang mengira didominasi oleh kaum laki-laki.
Menurut data PBB Mei 2018, ada 80 peacekeeper perempuan asal Indonesia dari total 2.694 personil TNI dan Polri yang mengabdi sebagai peacekeeper. Masa tugas mereka setahun lamanya.
Mereka tersebar tidak hanya di Misi-misi Pemeliharaan Perdamaian PBB (UN Peacekeeping Operations) yang relatif tenang seperti Lebanon dan Haiti. Tetapi juga diterjunkan di berbagai misi PBB di daerah yang masih rentan konflik, seperti di Sudan dan Sudan Selatan.
Sebagian besar dari mereka memang berada di UNIFIL Lebanon.
Itu adalah misi PBB yang terbesar bagi Indonesia. Di situ terdapat 1.290 personil TNI (data PBB Mei 2018). Dan 48 orang di antaranya adalah peacekeeper perempuan, mulai dari perwira hingga bintara.
Sisanya sebanyak 32 peacekeeper perempuan, termasuk yang Polwan diterjunkan ke misi PBB di Sudan, Sudan Selatan, dan Haiti.
Pengiriman Peacekeeper TNI dan Polri ke berbagai misi PBB di dunia merupakan wujud kontribusi Indonesia dalam menjaga perdamaian dan keamanan dunia. Sebagaimana dimandatkan dalam UUD 1945.
Untuk menjadi peacekeeper, para Wan TNI dan Polwan menjalani rekrutmen yang sangat ketat dari seluruh kesatuan yang ada di TNI dan Polri.
Maka, dapat dikatakan mereka adalah best of best, sehingga turut menjadikan pasukan Indonesia sebagai salah satu tulang punggung bagi tugas-tugas operasi perdamaian PBB di daerah misi.
Tengoklah di UNIFIL Lebanon. Peacekeeper perempuan TNI di sana lebih banyak tergabung dalam Batalyon Infanteri atau Indonesian Battalion.
Mereka terbukti tangguh menjalankan tugas yang sama beratnya dengan rekan peacekeeper pria, seperti berpatroli siang dan malam dengan senjata lengkap di atas panser kebanggaan Indonesia “Anoa” untuk mengamankan daerah “Blue Line” pada perbatasan Lebanon-Israel.
Tidak berhenti di Lebanon. Di Suriah pun, negeri tetangganya yang masih ganas bergejolak perang saudara, peacekeeper perempuan kita ternyata punya nyali untuk bertugas di sana.
Pengalaman menegangkan ini dialami oleh Letkol Ratih Pusparini yang pernah menjadi peacekeeper di tiga palagan konflik, yakni Suriah, Republik Demokratik Kongo, dan Lebanon.
Dia merupakan satu-satunya peacekeeper perempuan TNI yang pernah diterjunkan ke misi PBB UNSMIS di Suriah pada April-Agustus 2012 karena misi PBB tersebut hanya berusia 4 bulan dan kini telah dibubarkan.
Dirinya menceritakan tentang keberhasilannya bersama tim menembus barikade di wilayah Homs, Suriah. untuk bisa berinteraksi dengan kelompok oposisi atau pemberontak.
“Menjadi satu-satunya perempuan Indonesia di misi PBB di Suriah dan berkesempatan unjuk kemampuan yang lebih saat berinteraksi dengan masyarakat Suriah karena sesama muslim membuat tim kami cukup bergantung pada keberhasilan saya memperoleh informasi, baik dari pihak pemerintah maupun pihak oposisi. Terkadang Gubernur Homs hanya mau bercerita banyak jika saya ikut berada di rumahnya,” kenang Letkol Ratih.
Tidak melulu berpatroli, mereka juga kebagian pekerjaan yang humanis, seperti menjadi dokter dan perawat. Mereka memberikan layanan kesehatan bagi warga lokal.
Suatu kali pernah terdapat Wan TNI di Lebanon yang memiliki keahlian pijat tradisional dan berhasil menyembuhkan seorang pasien laki-laki yang sekian lama menderita sakit pada tulang tangannya.

Koleksi foto milik Satgas Yonkomposit Kontingen Garuda XXXV-C UNAMID, Darfur, Sudan
Sentuhan kemasyarakatan juga tidak luput mereka kerjakan. Melalui kegiatan yang disebut Civil-Military Coordination, mereka memberikan penyuluhan pendidikan yang dikemas jenaka disertai pagelaran seni budaya, musik, dan tarian. Audiensinya adalah anak-anak sekolah dan warga desa setempat. Ini rutin mereka selenggarakan secara mandiri atau bekerja sama dengan kontingen negara lain.
Tujuannya tidak lain untuk mengakrabkan PBB dengan warga lokal sekaligus dimanfaatkan untuk mengenalkan budaya Indonesia. Inilah mengapa semua peacekeeper perempuan kita dibekali dengan keterampilan tarian dan musik tradisional.
Handal di lapangan, piawai menari, peacekeeper perempuan kita juga mumpuni dalam kerja administrasi di markas misi sebagai Military Staff.
Pekerjaan di kantor membawa mereka kerap berinteraksi dengan personil militer negara lain. Dan menuntut penguasaan berbahasa inggris yang memadai. Hasilnya tidak sedikit pujian atas kinerja memuaskan mereka terima dari rekan peacekeeper negara lain.
Pekerjaan administrasi oleh peacekeeper perempuan memang tidak boleh dipandang sebelah mata. Bahkan sama pentingnya dengan tugas lapangan. Ini dibenarkan oleh AKBP Yuli Cahyanti, Polwan yang pernah menjadi Individual Police Offier pada misi PBB UNAMID di Darfur-Sudan tahun 2011.
Menurutnya, peacekeeper perempuan justru amat penting berada di pekerjaan administrasi, terutama perencanaan karena dipandang lebih mampu menuangkan perspektif gender secara memadai kedalam rencana tugas-tugas operasi di misi.
Gender-mainstreaming sangat ditekankan dalam setiap Misi Pemeliharaan Perdamaian PBB”, kata AKBP Yuli.
Oleh karena itu, peacekeeper perempuan Indonesia kedepannya diarahkan lebih banyak menjabat sebagai Military Staff, Military Observer, dan Individual Police Officer, sesuai kebutuhan PBB.

AKBP Yuli Cahyanti, peacekeepers Polwan saat tugas di Misi PBB UNAMID di Darfur-Sudan 2011 (koleksi foto beliau).
Lebih membanggakan, peacekeeper perempuan Indonesia dikenal luwes dan murah senyum.
Dari sinilah mereka mampu merebut hati, pikiran, dan kepercayaan warga setempat, khususnya ibu-ibu, remaja wanita, dan anak-anak di daerah konflik.
Ini adalah keunggulan mereka dibandingkan rekan peacekeeper laki-laki, bahkan dari peacekeeper negara lain. Sehingga dari tangan merekalah cukup banyak informasi berharga berhasil diperoleh PBB untuk kesuksesan tugas operasi.
Ini diamini oleh Letkol Ratih yang ketika menjadi Military Observer di Republik Demokratik Kongo, dirinya dapat mudah menerima banyak cerita dari para lansia, perempuan dan anak-anak di wilayah Bunia, Ituri tentang bagaimana mereka kehilangan ayah, anak laki-laki, bahkan cucu akibat konflik bersenjata disana.
“Cerita mereka mengalir tanpa bisa dihalangi kepada saya sesama perempuan. Mereka ingin agar kisah mereka diketahui dunia luar dan menyadari bahwa konflik bersenjata yang mereka alami sudah waktunya untuk diakhiri,” ujar Letkol Ratih.

AKBP Yuli Cahyanti, peacekeepers Polwan saat tugas di Misi PBB UNAMID di Darfur-Sudan 2011 (koleksi foto beliau)
Di masa mendatang akan lebih banyak lagi perempuan-perempuan hebat Indonesia yang akan berkiprah pada perdamaian dunia. Entah itu tentara, polisi dan bahkan perempuan sipil.
Dengan nyali besar dan skill yang mumpuni untuk terjun ke palagan konflik dunia, mereka akan membuat nama Indonesia harum di mata internasional.
Apalagi mulai tahun depan Indonesia akan menjalankan amanah warga dunia sebagai Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB. Keberadaan srikandi-srikandi Indonesia tentu akan membuktikan kelayakan Indonesia sebagai mitra sejati untuk perdamaian dunia.

Diklat KemluInternasionalDiplomat IndonesiaMiliter

presentation
500

Baca Lainnya