8 Hal yang Harus Diperhatikan Ketika Mengunjungi Thailand

Tulisan dari Wenny Fabiomarta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Budaya masyarakat Thailand hampir sama dengan budaya masyarakat Indonesia, walaupun dalam beberapa hal Thailand jauh lebih bebas dibandingkan Indonesia. Pada zaman kerajaan Ayutthaya (1351-1767), Thailand bahkan pernah melegalkan prostitusi dan mengenakan pajak pada bisnis tersebut. Sejak tahun 1960, prostitusi di Thailand telah menjadi ilegal secara de jure. Namun demikian, bisnis tersebut diperkirakan bernilai US $ 6,4 miliar per tahun dalam (2015), menyumbang sebagian besar dari PDB nasional. (Sumber: https://asiancorrespondent.com/2015/07/prostitution-thailands-worst-kept-secret/)

Hal-hal lainnya cenderung sama dengan norma dan nilai di Indonesia. Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan wisatawan jika ingin berkunjung ke Thailand:
Mempertunjukkan kemesraan di depan umum tidak biasa dilakukan di Thailand. Masyarakat Thailand tidak berciuman atau mempertontonkan kemesraan yang berlebihan di depan umum kecuali berpegangan tangan. Wisatawan diharapkan dapat menahan diri dan tidak melakukan hal-hal tersebut. Masyarakat Thailand tidak menyukai konfrontasi. Mereka pada umumnya berbicara lembut dan lebih memilih menghindari konfrontasi. Hal ini bisa dilihat dengan politik di negara Thailand sendiri. Thailand termasuk negara yang paling sering pemerintahannya dikudeta. Namun kudeta yang terjadi di Thailand tidak pernah menjadi suatu kerusuhan. Pengambilalihan kekuasaan oleh militer dilakukan secara damai.
Berbusana dengan sopan dan sesuai pada tempatnya. Masyarakat Thailand sangat memperhatikan cara berbusana dan selalu menyesuaikan pakaiannya dengan acara atau kegiatan yang dilakukan. Pengecualian adalah ketika di pantai dan daerah wisata, wisatawan bebas menggunakan pakaian yang terbuka.
Ketika mengunjungi kuil dan tempat suci lainnya, wisatawan harus berpakaian sopan dan menghormati tempat tersebut. Perempuan diharapkan menggunakan pakaian tertutup dan menutup sampai mata kaki. Perempuan juga dilarang menyentuh biksu sengaja ataupun tidak. Wisatawan tidak diperbolehkan memasuki wilayah yang dilarang di tempat-tempat suci di Thailand, kecuali mendapatkan ijin.
Di Thailand, kepala dianggap tinggi dan suci, sementara kaki dianggap rendah dan kotor. Hal ini tidak jauh berbeda dengan budaya di Indonesia. Jadi jika kaki lebih tinggi dari pada kepala orang lain dapat dianggap kasar dan tidak sopan. Menunjuk atau menyetuh sesuatu dengan kaki juga dianggap tidak sopan. Menyentuh kepala orang lain dengan tangan juga dianggap tidak sopan. Wisatawan juga harus ingat untuk membuka alas kaki ketika masuk ke rumah orang lain atau ke tempat-tempat suci.
Tersenyum menjadi salah satu norma dan nilai masyarakat Thailand. Thailand terkenal dengan “the land of smile”, tanah yang penuh senyum. Tersenyumlah sebanyak mungkin sehingga masyarakat Thailand juga akan memperlakukan kita dengan ramah.
Orang Thailand sangat menghormati raja dan keluarga kerajaan dan wisatawan atau pendatang harus ikut menghormati raja dan keluarganya. Lese-Majesty – KUHP Thailand menyebutkan dalam Pasal 112; “Siapapun yang mencemarkan nama baik, menghina atau mengancam Raja, Ratu, Pewaris atau Bupati, akan dihukum dengan hukuman penjara tiga hingga lima belas tahun.” Ini bisa berupa apa saja dari berbicara buruk tentang raja, mencemarkan nama baik, merusak patung atau gambar Raja atau menulis artikel menghina Raja dan keluarganya. Wisatawan diharapkan berhati-hati karena sudah ada beberapa kasus orang asing yang tidak tahu dan berakhir di penjara. Jadi lebih baik untuk menghindarinya dan menunjukkan rasa hormat kepada orang-orang Thailand dan lingkungan kerajaan. Seorang pria Swiss yang bernama Oliver Jufer dihukum penjara setelah mengaku telah menghina Raja dan keluarga kerjaan dengan menyemprot cat ke foto Raja Bhumibol Adulyadej dan Ratu Sirikit pada ulang tahun raja di tahun 2007. Pria tersebut dituntut hukuman penjara 75 tahun, namun dikurangi masa penjaranya setelah dia mengakui perbuatannya. (Sumber: https://theculturetrip.com/asia/thailand/articles/10-infamous-times-tourists-got-arrested-in-thailand/)
Masyarakat Thailand memiliki prinsip “sabai-sabai” yang artinya pelan-pelan, santai saja. Di Thailand segala sesuatu terlihat lebih santai dan pelan, wisatawan dan pendatang diharap bersabar.
Ketika berbelanja ke pasar, jika ingin tertarik ingin membeli suatu barang, pastikan anda benar-benar ingin membelinya ketika memulai menawar karena penjual di Thailand akan marah dan tidak menyukai pembeli yang sudah mulai menawar tapi kemudian tidak serius dan tidak jadi membeli.
Sumber: https://www.tripadvisor.com/ShowTopic-g293915-i3686-k5649704-Do_s_Dont_s_in_Thailand_Culture_Basic_Thailand_Etiquette-Thailand.html
