Konten dari Pengguna

Saat Cinta Tak Satu Iman: Melanjutkan atau Merelakan?

Dwi Fauzan Sahrul

Dwi Fauzan Sahrul

saya mahasiswa UIN jakarta

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dwi Fauzan Sahrul tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar Ilustrasi: Unsplash.com/Stock Image — siluet dua kekasih terpisah senja.
zoom-in-whitePerbesar
Gambar Ilustrasi: Unsplash.com/Stock Image — siluet dua kekasih terpisah senja.

oleh : Dwi Fauzan Sahrul

Di era moderen sekarang, khususnya di golongan Gen Z fenomena cinta tapi beda agama. baik dikuliahan, tempat kerja, media sosial menjadi awal pertemuan dimana hubungan lintas agama terjadi. ketika cinta timbul di luar batas keyakinan, sering muncul pertanyaan, apakah harus melanjutkannya ke jenjang yang lebih serius atau tidak ?

Fenomena ini menimbulkan dilema batin. Di satu sisi ada rasa yang begitu dalam, di sisis lain, terdapat perbatasan perinsip dan keyakinan agama yang tidak bisa begitu saja dinegosiasikan.

Islam secara tegas menyebut dalam Al-Qur'an tentang hubungan anatara dua insan yang berbeda iman, khususnya dalam hal pernikahan

Di sebutkan dalam Al-Qur’an :

“Dan janganlah kamu menikahi Wanita-wanita musyrik

Sebelum mereka beriman. Sesungguhnya Wanita budak

yang mukmin lebih baik dari Wanita musyrik, walaupun

dia menarik hatimu”

-(QS. Al-baqarah: 221)

Ayat ini menunjukan bahwa pernikahan beda keyakian yang bukan seiman maka tidak dinolehkan dalam islam. Bahkan budak wanita yang mukmin lebih mulia dari pada wanita yang cantik tapi beda agama.

Pada masa remaja dan awal dewasa muncullah pubertas dan jati diri, yang membuat seseorang membutuhkan pasangan yang ada di sampingnya. Tak jarang pacaran beda agama sudah dianggap hal biasa. Namun, tanpa disadari, relasi ini seringkali menuntun pada kebimbangan, konflik batin, bahkan benturan nilai di kemudian hari.

Apakah harus menuntut seseorang agar pindah agama ?

jangan memaksakann seseorang untuk pindah ke agama yang lain karna cinta kepada insan bukan kepada tuhannya. jika harus merelakan, maka merelakan bisa menjadi bentuk cinta yang mulia.

Pada akhirnya, cinta sejati adalah cinta yang membawa kita semakin dekat kepada Allah SWT, bukan yang menjauhkan. Jika cinta itu tak mengantarkan kita pada surga, maka lebih baik berpisah di dunia daripada kecewa di akhirat.

NOTE

Tulisan ini tidak bermaksud menghakimi siapapun yang sedang dalam hubungan beda agama. Justru ini adalah ajakan untuk berpikir lebih jauh tentang masa depan hubungan, bukan hanya berdasarkan perasaan, tetapi juga landasan iman.

siluet dua kekasih terpisah senja.