Mengapa Langit Itu "Hijau"? Ketika Bahasa Menentukan Warna yang Kita Lihat

Mahasiswa universitas mulawarman, fakultas ilmu budaya, jurusan sastra indonesia
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Widia Natasia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kita hidup di dunia yang diwarnai oleh spektrum yang kaya langit itu biru, rumput itu hijau. Namun, bagi sebagian besar peradaban kuno, garis batas antara biru dan hijau sering kali buram, atau bahkan tidak ada.
Ambil contoh yang paling terkenal: Homer. Dalam epik Odyssey-nya, laut tidak digambarkan biru; ia adalah "laut gelap seperti anggur." Faktanya, para ahli bahasa yang mempelajari teks-teks kuno menyimpulkan bahwa bahasa Yunani kuno, seperti beberapa bahasa lainnya, tampaknya tidak memiliki kata tunggal yang baku dan spesifik untuk warna biru.
Ini menimbulkan pertanyaan filosofis dan linguistik yang mendalam: Apakah mata melihat semua warna yang sama jika pikiran tidak memiliki nama untuk mereka?
๐ต Biru: Pendatang Baru dalam Kamus Warna
Teori utama dalam linguistik, yang dipopulerkan oleh Berlin dan Kay, menunjukkan bahwa bahasa mengembangkan nama warna dasar dalam urutan hierarkis. Biru hampir selalu menjadi salah satu yang terakhir ditambahkan.
Mengapa?
Kelangkaan Alami: Biru murni jarang mendominasi lingkungan sehari-hari. Warna hijau datang dari flora yang melimpah, merah dari darah dan api, sedangkan biru kecuali langit dan air (yang sering kali tampak keabu-abuan atau reflektif) sulit ditemukan dalam pigmen yang stabil dan kuat.
Kesulitan Sintesis: Sebelum penemuan pigmen buatan yang stabil (seperti Egyptian Blue), menciptakan warna biru adalah kemewahan. Jika Anda tidak dapat memanennya atau membuatnya dengan mudah, kebutuhan untuk menamainya pun berkurang.
Ketika suatu budaya akhirnya memiliki kebutuhan atau kemampuan untuk mengakui biru sebagai entitas yang terpisah, biasanya warna tersebut sudah lama dikelompokkan di bawah kategori warna yang lebih luas. Di sinilah letak inti masalahnya: biru dianggap sebagai variasi dari hijau, atau sekadar sebagai warna gelap/dingin.
๐ณ Konsep "Grue" dan Relativitas Linguistik
Dalam beberapa bahasa, ada istilah tunggal yang mencakup kedua warna ini, yang oleh para ahli disebut "Grue" (gabungan Green dan Blue). Contoh terbaiknya adalah bahasa Jepang (Ao) dan beberapa bahasa Asia Timur lainnya. Secara historis, bagi penutur bahasa tersebut, warna biru dan hijau adalah bagian dari kategori yang sama: "warna tanaman" atau "warna dingin/alami."
Ini mendukung hipotesis relativitas linguistik yang terkenal (Hipotesis Sapir-Whorf), yang menyatakan bahwa struktur bahasa yang kita gunakan memengaruhi atau bahkan membatasi cara kita memandang dan mengkonseptualisasikan dunia.
Jika bahasa Anda tidak memiliki kata terpisah untuk membedakan panjang gelombang biru dari hijau, maka secara kognitif, otak Anda tidak perlu membuat batas yang tajam di antara keduanya. Ini bukan berarti mereka buta warna; itu berarti prioritas kognitif mereka berbeda. Mereka melihat perbedaan, tetapi mereka menganggap perbedaan itu setara dengan perbedaan antara "merah terang" dan "merah tua," bukan perbedaan antara "merah" dan "kuning."
Kisah tentang hilangnya biru ini mengajarkan kita bahwa warna yang kita anggap sebagai realitas objektif yang melekat pada objek sebenarnya adalah konstruksi budaya dan linguistik.
Ketika kita melihat langit dan menyebutnya biru, kita melakukan tindakan budaya yang telah diwariskan oleh bahasa kita. Orang kuno yang menyebut lautan gelap seperti anggur tidak berbohong atau keliru; mereka hanya menggunakan kerangka bahasa yang tersedia untuk mereka.
Jika ada pelajaran yang dapat diambil, itu adalah ini: Bahasa kita adalah filter terkuat yang kita miliki. Ia tidak hanya mendeskripsikan realitas, tetapi juga membentuk realitas yang kita anggap penting untuk diperhatikan. Kita harus bersyukur atas kata-kata yang memisahkan biru dan hijau, karena kata-kata itu memberi kita spektrum warna yang lebih kaya, baik di mata maupun di pikiran kita.
