Landasan Moral dan Akhlak Manusia: Al-Quran dan Sunah

Mahasiswa S1 Pendidikan Matematika di Universitas Negeri Jakarta
Tulisan dari Widianingsih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Al-Quran dan sunah merupakan sumber moral dan akhlak untuk manusia yang mana bentuk cermin pelaksanaannya terdapat pada diri Nabi Muhammad SAW. Teladan tersebut dibentuk seperti ikhtisar pelajaran dan pembangunan moral dan akhlak manusia.
Manusia adalah makhluk Allah dengan keadaan yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk lain, seperti hewan atau tumbuhan. Allah menciptakan manusia dari tanah, kemudian meniupkan roh ke dalamnya sehingga terciptanya manusia sebagai khalifah bumi.
Dalam menjalankan kehidupan sehari-hari yang menunjukkan bahwa kita termasuk makhluk yang bertuhan yaitu terhadap keyakinan, sikap pribadi, dan sosial. Dengan demikian, manusia juga perlu sadar bahwa ia harus berusaha bermoral dan berakhlak mulia ketika ada di bumi ini.
Al-Quran merupakan pedoman dan tuntutan hidup umat islam, baik sebagai individu maupun sebagai umat, sedangkan sunah adalah perilaku dan cara Rasulullah dalam menjalani hidupnya. Di dalam Al-Quran dan sunah terdapat berbagai aturan dan pengajaran untuk kehidupan manusia mulai dari yang dianggap kecil sampai pada tingkat yang dianggap besar. Sehingga bisa kita ketahui bahwa Al-Quran dan hadis merupakan ajaran yang sempurna sebagai sumber moral dan akhlak bagi manusia.
Berikut sumber moral dan akhlak menurut isi kandungan Al-Quran dan sunah:
Sumber Akhlak Menurut Isi Kandungan QS. Al-Ahzab Ayat 21
QS. al-Ahzab ayat 21 memiliki terjemahan sebagai berikut:
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. al-Ahzab:21)
Ayat 21 surah al-Ahzab di atas menjelaskan mengenai suri teladan yang baik dari Rasulullah SAW yang mencerminkan amalan akhlak dan kepribadian yang baik, Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk meneladani perilaku Nabi Muhammad SAW. Peran agama sebagai sumber moral dan akhlak memberikan penjelasan tentang bagaimana moralitas harus diimplementasikan dalam kehidupan kita sehari-hari dan berfungsi sebagai sumber peraturan dalam praktiknya.
Peran agama dalam hal ini diberikan oleh sunah sebagai sumber moral dan akhlak, sebagai sumber utama setelah Al-Quran. Kedua, di dalam sunah mengandung segala sesuatu yang berhubungan dengan akhlak Nabi Muhammad, termasuk perkataan dan perbuatan.
Sumber Moral dan Akhlak Menurut Isi Kandungan QS. An-Nahl Ayat 125
QS. an-Nahl ayat 125 memiliki terjemahan sebagai berikut:
“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. an-Nahl:125)
Isi ayat 125 surat an-Nahl di atas adalah untuk menjelaskan bagaimana cara yang benar untuk memberi tahu dan mengajak kebenaran kepada orang lain. Cara yang tepat untuk menyampaikan kebenaran adalah dengan mengajarkan atau memberikan hikmah (perkataan yang tegas serta benar yang dapat membedakan antara kebenaran dan kebatilan), pengajaran yang baik, dan argumentasi dengan cara baik. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa sumber akhlak dan akhlak menurut isi kandungan ayat ini yaitu akhlak dan akhlak manusia terletak pada ucapan dan perbuatan.
Pilar Akhlak Mulia dalam Islam
1. Kebijaksanaan
Kebijaksanaan adalah kepandaian untuk menggunakan akal sehat dalam menentukan hal-hal yang benar dan hal-hal yang salah. Dalil Al-Quran yang sesuai sikap kebijaksanaan ini ada pada QS. al-Baqarah ayat 269:
“Allah menganugerahkan al hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan Sunnah. Barangsiapa dianugerahi al hikmah, sesungguhnya ia telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang yang berakal sehat sajalah yang dapat mengambil pelajaran” (QS. al-Baqarah: 269)
Isi kandungan ayat 269 surah al-Baqarah di atas berisi penjelasan bahwa orang bijak menggunakan akal sehat untuk melakukan tindakan yang salah dan benar serta selalu memiliki hikmah dan pelajaran. Hikmah dari hal tersebut adalah pemahaman terhadap Al-Quran dan sunah sebagai landasan akhlak dan moral manusia, yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari sehubungan dengan pemahaman tersebut. Mereka yang dapat menerima hikmah itu akan menerima karunia Allah, atau pahala yang lebih baik untuk apa yang telah dia lakukan di dunia.
2. Iffah
Iffah adalah menahan diri dari syahwat atau perbuatan yang dilarang Allah SWT di mana keadaan syahwat yang terdidik oleh akal. Ayat pada Al-Quran yang berkaitan dengan sifat iffah ini, yakni QS. an-Nisa ayat 6:
“Dan ujilah anak-anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk menikah. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka hartanya. Dan janganlah kamu memakan harta anak yatim melebihi batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (menyerahkannya) sebelum mereka dewasa. Barangsiapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah dia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa miskin, maka ia boleh memakan harta itu menurut yang patut. Kemudian, apabila kamu menyerahkan harta itu kepada mereka, maka hendaklah kamu menunjuk saksi-saksi. Dan cukuplah Allah sebagai pengawas.” (QS. an-Nisa:6)
Isi ayat 6 surah an-Nisa di atas menjelaskan bahwa iffah memiliki artian sikap menjaga diri dengan baik dan menahan diri dari meminta-minta atau memakan harta yang bukan milik kita, seperti harta anak yatim.
Selanjutnya, uji yang dimaksud dalam ayat ini adalah pemeriksaan anak yatim dari segi agama, usaha, tingkah laku, dan lain-lain sampai diperoleh anak yang telah cerdas. Oleh karena itu, jika ingin mewariskan harta anak yatim, perlu diselidiki terlebih dahulu agar anak tersebut dapat menggunakan hartanya dengan baik.
3. Adil
Adil adalah sikap yang tidak memihak kepada apapun atau sama rata karena kekuatan jiwa sesuai dengan hikmah, yaitu kebaikan dan kebijaksanaan. Ayat pada Al-Quran yang berkaitan dengan sifat Adil ada pada QS. an-Nisa ayat 58:
“Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkan dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. an-Nisa:58)
Isi ayat di atas menekankan bahwa setiap orang harus membuat keputusan yang adil, dengan kata lain, tanpa pandang bulu kepada siapa pun, apa pun, kapan pun. Selain itu, kita diperintahkan untuk memberikan amanah kepada orang yang berwenang. Hal tersebut sesuai moral dan akhlak dalam Al-Quran dan sunah.
4. Berani
Berani merupakan kekuatan marah yang selalu tunduk kepada akal, tidak gentar ataupun takut dalam menghadapi segala hal apapun itu. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda:
"Bukanlah yang dinamakan pemberani itu orang yang kuat bergulat. Sesungguhnya pemberani itu ialah orang yang sanggup menguasai dirinya di waktu marah." (HR. muttafaqun'Alaih).
Berdasarkan hadis di atas, keberanian tidak hanya secara fisik yang kuat, tetapi keberanian untuk dapat mengatakan yang sebenarnya dan mengetahui keberanian untuk mengendalikan diri ketika kita mengalami keadaan emosional seperti marah, takut, cemas, gelisah.
Mencapai Pilar Akhlak Mulia
Bagi umat Islam, Al-Quran adalah sumber primer dalam segi kehidupan. Kemudian, sunah sebagai sumber hukum islam utama setelah Al-Quran. Dalam menghadapi masa modern yang berkembang pesat kita dapat menjadikan Al-Quran dan sunah sebagai landasan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Quran dan sunah dapat dijadikan sumber moral dan hukum dalam semua aspek kehidupan kita sehari-hari dengan cara “membumikan” dan menjadikan paradigma di berbagai segi kehidupan dapat kita lakukan sebagai berikut:
Membangun paradigma qurani dalam upaya Indonesia membangun bangsa yang berkarakter.
Mempelajari dasar-dasarnya dan ikut pengajian atau mendengar ceramah.
Bersikap berpikir dan berperilaku sesuai dengan apa yang diatur dan dicantumkan dalam Al-Quran dan sunah.
Dalam menghadapi masa modern dapat menjadikan Al-Quran sebagai acuan dalam bertingkah dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan hal tersebut, kita dapat memahami, meyakini, dan secara konsisten menjalankan nilai-nilai Al-Quran dan sunah sehingga kita dapat mencapai akhlak mulia dalam diri kita.
Sumber:
Al-Qur’an Terjemah (Penerbit Al-Huda)
BMP MKDU4221 – Pendidikan Agama Islam
Penulis: Farista Rizky Agustin dan Widianingsih
