Konten dari Pengguna

Indonesia Maju untuk Siapa? Ketika Pembangunan Belum Menjangkau Semua

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari WIDIO JOSHUA LUBIS tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber foto Wixler Uniplash.com

Penulis:Widio Joshua Lubis

Mahasiswa Ilmu Komunikasi

Universitas Medan Area

Indonesia sedang bergerak menuju negara maju. Berbagai proyek infrastruktur dibangun, mulai dari jalan tol, bandara, pelabuhan, bendungan, hingga kawasan industri. Pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu indikator yang sering digunakan untuk menunjukkan keberhasilan pembangunan nasional. Di berbagai kota besar, gedung-gedung pencakar langit terus bertambah, transportasi semakin modern, dan aktivitas ekonomi berkembang pesat. Namun, di balik berbagai pencapaian tersebut, masih muncul satu pertanyaan yang layak direnungkan: Indonesia maju untuk siapa?

Pertanyaan tersebut bukan dimaksudkan untuk mengabaikan keberhasilan pembangunan, melainkan untuk mengajak semua pihak melihat apakah kemajuan itu telah dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat. Sebab, di saat sebagian daerah menikmati infrastruktur yang memadai, masih ada wilayah yang menghadapi jalan rusak, akses pendidikan terbatas, fasilitas kesehatan yang minim, dan kesempatan kerja yang sempit. Ketimpangan inilah yang menjadi tantangan besar bagi pembangunan Indonesia.

Pembangunan sejatinya tidak hanya diukur dari banyaknya proyek fisik yang berhasil diselesaikan. Pembangunan harus mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh. Jalan tol memang mempercepat mobilitas, tetapi manfaatnya akan terasa lebih besar jika masyarakat di desa juga memiliki akses jalan yang layak menuju sekolah, puskesmas, dan pusat ekonomi. Gedung-gedung modern menjadi simbol kemajuan, tetapi kemajuan yang sesungguhnya adalah ketika seluruh warga negara memiliki kesempatan yang sama untuk hidup lebih baik.

Kesenjangan pembangunan juga tampak dalam sektor pendidikan. Di kota-kota besar, banyak sekolah telah memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana belajar. Sementara itu, di beberapa daerah terpencil, masih ada sekolah yang kekurangan ruang kelas, tenaga pendidik, bahkan akses internet. Perbedaan ini berdampak pada kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan. Padahal, pendidikan merupakan kunci utama dalam memutus rantai kemiskinan dan membuka peluang masa depan yang lebih baik.

Hal serupa terjadi pada sektor kesehatan. Masyarakat di perkotaan umumnya lebih mudah memperoleh layanan medis dengan fasilitas lengkap. Sebaliknya, masyarakat di daerah tertentu masih harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dasar. Ketimpangan ini menunjukkan bahwa pembangunan belum sepenuhnya menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Apabila kesenjangan sosial terus berlangsung, dampaknya tidak hanya dirasakan dalam bidang ekonomi. Ketidakmerataan pembangunan dapat memunculkan rasa ketidakadilan. Kelompok masyarakat yang merasa tertinggal dapat kehilangan kepercayaan terhadap kebijakan pembangunan. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi memperkuat etnonasionalisme, yaitu kecenderungan mengutamakan identitas etnik dibandingkan identitas sebagai bangsa Indonesia.

Pada dasarnya, mencintai budaya dan identitas etnik merupakan hal yang positif. Indonesia justru dikenal karena keberagaman suku, bahasa, dan adat istiadatnya. Namun, ketika ketidakadilan sosial membuat masyarakat merasa diabaikan, identitas etnik dapat dijadikan dasar untuk menuntut kepentingan kelompok secara berlebihan. Jika kondisi ini tidak diantisipasi, persatuan nasional dapat menghadapi tantangan yang lebih besar.

Oleh karena itu, pemerataan pembangunan menjadi sangat penting. Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap daerah memperoleh kesempatan yang adil untuk berkembang sesuai dengan potensinya. Pembangunan tidak boleh hanya terpusat di kota-kota besar, tetapi juga harus menjangkau desa, wilayah perbatasan, dan daerah tertinggal. Pemerataan bukan berarti semua daerah harus berkembang dengan kecepatan yang sama, melainkan memastikan bahwa setiap warga negara memiliki akses terhadap pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan kesempatan ekonomi yang layak.

Selain pemerintah, masyarakat juga memiliki tanggung jawab dalam mendukung pembangunan yang inklusif. Dunia pendidikan perlu menanamkan nilai toleransi, keadilan sosial, dan semangat persatuan kepada generasi muda. Media massa dan media sosial juga memiliki peran penting dalam menyebarkan informasi yang membangun optimisme, bukan memperbesar perbedaan antarkelompok.

Generasi muda menjadi harapan utama dalam menjaga masa depan Indonesia. Mereka harus mampu memandang keberagaman sebagai kekuatan, bukan sebagai alasan untuk saling membedakan. Dengan pendidikan yang baik, kemampuan berpikir kritis, dan kepedulian terhadap sesama, generasi muda dapat menjadi penggerak pembangunan yang lebih adil dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, kemajuan Indonesia tidak boleh hanya terlihat dari megahnya bangunan atau tingginya angka pertumbuhan ekonomi. Kemajuan yang sesungguhnya adalah ketika setiap anak dapat bersekolah dengan layak, setiap masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan yang memadai, setiap daerah memiliki kesempatan berkembang, dan setiap warga negara merasakan manfaat pembangunan tanpa memandang latar belakang etnik maupun wilayah tempat tinggalnya.

Indonesia yang maju bukanlah Indonesia yang hanya membangun kota-kota besar, melainkan Indonesia yang mampu menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya. Ketika pembangunan menjangkau semua lapisan masyarakat, kesenjangan dapat diperkecil, potensi etnonasionalisme dapat diminimalkan, dan cita-cita persatuan Indonesia akan semakin kokoh. Itulah makna pembangunan yang sesungguhnya: membangun manusia, memperkuat persaudaraan, dan memastikan tidak ada satu pun daerah yang tertinggal dalam perjalanan menuju Indonesia yang lebih adil dan sejahtera.