Kumparan Logo

Banyak Demonstrasi, Prancis Terhindar dari Penurunan Peringkat Kredit Moody’s

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Lembaga pemeringkat Moody's Foto: Reuters
zoom-in-whitePerbesar
Lembaga pemeringkat Moody's Foto: Reuters

Prancis terhindar dari penurunan peringkat kredit oleh Moody’s Ratings di tengah gelombang demonstrasi, kenaikan imbal hasil obligasi, dan kebuntuan politik yang melanda negara tersebut.

Dikutip dari Bloomberg, Moody’s mempertahankan peringkat kredit ekonomi terbesar kedua di zona euro itu pada Aa3, tujuh tingkat di atas kategori junk atau berisiko tinggi, setara dengan Inggris. Namun, prospek peringkat kredit Prancis tetap negatif.

“Pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat dan defisit yang lebih tinggi telah mendorong beban utang Prancis sedikit lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya,” kata Moody’s, Sabtu (24/10).

“Imbal hasil obligasi meningkat lebih cepat dari perkiraan kami, sementara protes sosial yang meluas telah terjadi dan berpotensi menghambat upaya konsolidasi fiskal,” imbuh Moody’s.

Keputusan tersebut diumumkan menjelang akhir pekan yang kembali menegangkan di Prancis. Pemerintah berupaya mencegah terulangnya kerusuhan besar yang sebelumnya menyebabkan kerusakan signifikan di sejumlah kota.

Prancis masih kesulitan mencari cara untuk mengendalikan beban utangnya yang terus membengkak. Kondisi tersebut menempatkan negara itu di pusat kekhawatiran pasar obligasi dalam beberapa pekan terakhir.

Imbal hasil obligasi Prancis naik lebih tinggi dibandingkan negara maju lainnya pada bulan ini, hingga mencapai level tertinggi dalam 24 tahun.

Tumpukan utang Prancis yang terus bertambah didorong oleh defisit anggaran yang diperkirakan melonjak menjadi 5,4 persen dari produk domestik bruto (PDB) tahun ini.

Para pengunjuk rasa menjarah sebuah supermarket saat demonstrasi menentang tingginya biaya hidup di Nantes, Prancis, Sabtu (17/10/2026). Foto: Abdul Saboor/REUTERS

Kebuntuan politik, pertumbuhan ekonomi yang melemah, dan meningkatnya biaya bunga utang telah menggagalkan berbagai upaya konsolidasi fiskal.

Perdana Menteri Sébastien Lecornu mengusulkan rancangan undang-undang anggaran untuk memangkas belanja secara signifikan dan meningkatkan penerimaan pajak.

Langkah tersebut ditujukan untuk mencapai target defisit sebesar 5 persen pada tahun depan. Namun, nasib rancangan tersebut masih belum pasti karena Lecornu tidak memiliki mayoritas di parlemen.

Majelis Nasional Prancis pada Jumat menolak bagian penerimaan dalam rancangan anggaran jaminan sosial 2027. Keputusan itu membuat rancangan undang-undang versi awal dikirimkan ke Senat. Para anggota majelis rendah akan kembali membahas rancangan undang-undang anggaran utama pada pekan depan.

“Proses penyusunan anggaran 2027 berlangsung bersamaan dengan salah satu gelombang protes sosial terbesar yang dialami Prancis dalam beberapa tahun terakhir,” kata Moody’s dalam pernyataan pada Jumat.

“Terlepas dari kondisi politik dan sosial yang menantang, asumsi dasar kami adalah anggaran 2027 yang mengurangi defisit pada akhirnya akan disahkan, kemungkinan melalui dekret,” imbuh pernyataan tersebut.

Pada akhir pekan lalu, perselisihan politik meluas hingga ke jalanan sejumlah kota di Prancis. Para perusuh menyerang bangunan publik dan menjarah toko ketika lebih dari setengah juta orang berunjuk rasa menentang tingginya biaya hidup.

Meningkatnya ketidakpastian mendorong indikator risiko obligasi yang banyak dipantau investor ke level tertinggi sejak krisis utang zona euro. Selisih imbal hasil obligasi pemerintah Prancis dan Jerman bertenor 10 tahun, dengan Jerman sebagai aset aman di kawasan tersebut, mencapai 178 basis poin pada Kamis (22/10).

Warga berjalan melewati tok yang rusak usai demonstrasi menentang tingginya biaya hidup di Paris, Prancis, Sabtu (17/10/2026). Foto: Geoffroy Van der Hasselt / AFP

Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan 85 basis poin pada awal September, sebelum aksi jual obligasi meningkat.

Keputusan Moody’s untuk mempertahankan peringkat kredit Prancis untuk sementara membuat posisi negara tersebut tetap satu tingkat di atas peringkat yang diberikan S&P Global Ratings dan Fitch Ratings.

Kedua lembaga pemeringkat tersebut sebelumnya memangkas peringkat kredit Prancis saat terjadi perselisihan anggaran pada musim gugur 2025.

“Keputusan ini mengakui ketahanan ekonomi kami dan kredibilitas anggaran yang diajukan pemerintah,” kata Menteri Keuangan Prancis Roland Lescure.

Prancis juga mendapat hasil kurang menggembirakan dari evaluasi lembaga pemeringkat lainnya pada bulan lalu. Scope Ratings menurunkan peringkat kredit negara tersebut, sementara Morningstar DBRS mengubah prospek peringkatnya menjadi negatif. S&P dijadwalkan memperbarui penilaiannya pada 27 November.