BI Dorong Pembayaran Antarnegara lewat QRIS, Face Payment, dan LCT

Bank Indonesia (BI) terus mendorong pengembangan ekonomi dan keuangan digital (EKD) antarnegara. Upaya tersebut dilakukan melalui perluasan QRIS antarnegara, pengembangan pembayaran berbasis wajah (face payment), dan penguatan transaksi menggunakan mata uang lokal atau local currency transaction (LCT).
Deputi Gubernur Senior BI Aida S. Budiman mengatakan, pengembangan EKD antarnegara akan dilakukan melalui sejumlah langkah, termasuk memperluas penggunaan QRIS lintas negara.
“Bank Indonesia akan terus mendorong EKD antar negara ini dengan tiga cara. Yang pertama tentunya perluasan QRIS antar negara,” kata Aida dalam gelaran FEKDI x IFSE 2026 di JCC Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (26/9).
Selain QRIS, BI juga memastikan pengembangan face payment di kawasan regional. Aida mengatakan inisiatif tersebut melibatkan empat negara ASEAN bersama India untuk mengembangkan konektivitas sistem pembayaran.
“Kemudian juga kita memastikan juga dengan yang namanya pengembangan face payment melalui proses Nexus. Ini adanya di regional, kita bersama-sama dengan empat ASEAN ditambah India untuk menggunakan BI-Fast,” jelas Aida.
Aida juga menyinggung BI-FAST yang dapat digunakan untuk transaksi pembayaran secara cepat dan tersedia selama 24 jam dalam sehari dengan biaya Rp 2.500 untuk satu kali transaksi.
Selain itu, BI akan memperkuat penggunaan LCT dalam transaksi antarnegara. Aida menyebut saat ini kerja sama LCT telah mencakup tujuh negara dan akan terus dikembangkan.
“Sekarang ini sudah ada tujuh, dan nanti akan terus kita lakukan dengan Local Currency Transaction, sehingga ekosistem kita tadi akan terhubung, tidak saja untuk retail, UMKM tapi juga untuk perdagangan dan investasi,” terangnya.
Sebanyak tujuh negara tersebut yaitu China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, Uni Emirat Arab, dan Singapura. Selain itu, BI juga tengah mengembangkan kerja sama LCT dengan tiga negara atau kawasan lainnya, meliputi India, Filipina, dan Hong Kong.
Berdasarkan catatan kumparan, transaksi LCT Indonesia mencapai ekuivalen USD 49,4 miliar sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Nilai tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan total transaksi LCT sepanjang 2025 yang mencapai USD 25,7 miliar.
