Kumparan Logo

Pelita Air: Harga Avtur Kini Sumbang 60 Persen dari Biaya Operasional

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi maskapai Pelita Air. Foto: Dok. Pelita Air
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi maskapai Pelita Air. Foto: Dok. Pelita Air

Harga bahan bakar pesawat atau avtur kini menyumbang sekitar 60 persen dari biaya operasional Pelita Air. Director of Safety Pelita Air, Eriza Muslim, mengatakan kenaikan biaya bahan bakar cukup menjadi tantangan bagi operasional maskapai.

"Sebetulnya kalau bilang dari operasi memang fuel sekarang ini udah 60 persen. Dengan kenaikan ini 60 persen dari biaya operasi kita. Cukup mahal memang," kata Eriza dalam diskusi terkait penerbangan, di Bandung, Jumat (2/10).

Meski demikian, Eriza memastikan kenaikan biaya tersebut tidak akan mengurangi standar keselamatan penerbangan Pelita Air.

"Jadi memang adanya fuel increment ini memang agak sulit juga, tapi dari safety seperti saya bilang tadi dengan adanya safety culture kita tidak mengurangi standar yang sudah diberikan di safety," ucapnya.

Eriza, yang juga merupakan seorang pilot, mengatakan efisiensi penggunaan bahan bakar dapat dilakukan dari sisi operasional penerbangan, salah satunya melalui penerapan desain continuous descent operation (CDO) dalam prosedur kedatangan pesawat.

"Saya mau ngomong juga sama AirNav. Kalau bisa Pak, ini kita kan punya standard arrival prosedur kita seperti step down ini. Jadi kalau bisa untuk green operation kita gunakan desain continuous descent operation. Itu juga sudah dilakukan di negara-negara di seperti Singapura dan Australia," kata Eriza.

Menurutnya, penerapan CDO dapat membantu mengurangi penggunaan bahan bakar pesawat, termasuk saat memasuki wilayah udara Jakarta. Pengaturan kecepatan pesawat atau speed control yang lebih efisien juga dinilai dapat membantu menekan konsumsi avtur.

"Jadi itu untuk mengurangi cost kita di penggunaan bahan bakar," ujarnya.

Ilustrasi Pelita Air. Foto: Darryl Ramadhan/kumparan

Eriza turut menyoroti kepadatan lalu lintas udara di Jakarta yang dapat berdampak pada penggunaan bahan bakar. Menurutnya, kedisiplinan pilot serta revitalisasi peralatan navigasi penerbangan dapat membantu mengatasi persoalan tersebut.

"Awal muasalnya dari penumpukan kepadatan lalu lintas udara di Jakarta itu kan karena tidak disiplinnya pilot, juga saya juga mudah-mudahan ini juga seperti yang diberikan tadi revitalisasi alat-alat baru dari AirNav itu juga dapat membantu," ujarnya.

"Jadi itu yang mesti di kita kuatkan untuk paling tidak kita bisa mengurangi penggunaan bahan bakar," tutupnya.