Kumparan Logo

Pengusaha Waspadai Harga Minyak Bisa Gerus Surplus Neraca Perdagangan RI

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas mengangkat nozzle mesin pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax Turbo usai melayani pelanggan di SPBU COCO Jalan Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (31/3/2026). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Petugas mengangkat nozzle mesin pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax Turbo usai melayani pelanggan di SPBU COCO Jalan Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (31/3/2026). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie mewaspadai harga minyak dunia yang dapat mengurangi surplus neraca perdagangan Indonesia.

Meski demikian, Anindya tetap optimistis neraca perdagangan Indonesia akan tetap mencatatkan kinerja positif ke depan.

“Kalau mengenai neraca perdagangan, nah kita melihat kembali lagi bulan lalu sudah mulai positif lagi netnya. Dan saya yakin ke depannya apa juga apa akan terus naik. Tentu kita mesti pertimbangkan harga daripada minyak, ya. Karena itu menjadi pengurang daripada positifnya,” kata Anindya di Menara Kadin, Jakarta Selatan, Kamis (24/9).

Anindya mengatakan kinerja sejumlah produk unggulan Indonesia terus menunjukkan perkembangan yang baik. Menurut dia peningkatan komoditas ekspor tersebut turut didorong oleh kebijakan pemerintah.

“Tapi kalau dilihat daripada produk-produk unggulan kita, kenaikannya justru semakin apa baik dan saya rasa itu karena pemerintah mendorong komoditas ekspor tersebut,” ujarnya.

Suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (14/8). Foto: ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Menurut Anindya, sejumlah sektor manufaktur masih dapat menjadi penopang ekspor Indonesia. Beberapa di antaranya yaitu produk industri tekstil, alas kaki, elektronik, dan furnitur.

Selain itu, dia melihat peluang ekspor dari komoditas mineral kritis yang telah melalui proses pengolahan. Menurut dia pengolahan tersebut dapat memberikan nilai tambah terhadap komoditas yang diekspor Indonesia.

Anindya juga menyoroti bauksit sebagai salah satu komoditas yang berpotensi menjadi andalan ekspor Indonesia. Dia melihat bauksit yang diolah menjadi alumina dan aluminium memiliki nilai tambah dan diminati oleh banyak negara.

“Dan ke depannya, melihat sekarang yang paling menarik adalah yang paling banyak diminati ialah bauksit. Bauksit menjadi alumina, aluminium itu juga rupanya menjadi suatu prioritas dan juga suatu komoditas yang telah diolah, ada nilai tambahannya dan juga diminati oleh banyak negara,” tuturnya.