PM India di KTT BRICS: Umumkan Dana Inovasi Startup-Dorong Rantai Pasok Global

Perdana Menteri India, Narendra Modi, membeberkan sejumlah langkah strategis ekonomi dalam KTT BRICS. Di hadapan para pemimpin dunia, Modi menekankan pentingnya empat pilar utama, meliputi ketahanan (resilience), inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan (sustainability) di tengah ketegangan geopolitik global yang kian meningkat.
Modi menyoroti berbagai krisis mulai dari pandemi, bencana iklim, hingga gangguan rantai pasok membuktikan bahwa dunia yang saling terhubung saat ini membuat krisis tidak bisa dilokalisasi.
“Oleh karena itu, kita memberikan penekanan khusus pada peningkatan ketahanan di dalam kelompok BRICS,” kata Modi dalam pertemuan sesi terbuka anggota BRICS, dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden, Minggu (13/9).
Untuk mengantisipasi disrupsi global tersebut, Modi menyebut negara-negara BRICS sepakat membentuk Sistem Peringatan Dini Terpadu BRICS untuk pencegahan penyakit dan mitigasi bencana.
Selain itu, Kerangka Kerja Sama Rantai Pasok Logistik BRICS disiapkan untuk memastikan jalur logistik antarnegara menjadi jauh lebih andal dan tahan banting.
Di sektor ekonomi digital dan bisnis rintisan, Modi mengumumkan pembentukan Jaringan Inkubator BRICS dan mengusulkan peluncuran Dana Inovasi Startup BRICS demi mendanai solusi bisnis yang scalable.
Modi menegaskan kerja sama yang dibangun bukan sekadar urusan birokrasi, melainkan melibatkan langsung para pelaku riil di lapangan.
Komitmen tersebut turut diperluas melalui peluncuran Portal Kerja Sama UMKM BRICS untuk mempermudah akses usaha kecil terhadap pengetahuan, keuangan, dan pasar baru.
“Inisiatif Portal Kerja Sama UMKM BRICS telah diambil untuk menghubungkan usaha kecil dengan pengetahuan, keuangan, dan pasar baru. Untuk berbagi praktik terbaik di antara kota-kota kita, Pusat Mobilitas Perkotaan BRICS (BRICS Urban Mobility Hub) telah didirikan,” terangnya.
Ekosistem digital ini juga diintegrasikan ke sektor pertanian melalui jaringan digital yang menghubungkan AI dan teknologi geospasial langsung dengan kebutuhan petani. Di sisi lain, Modi secara tegas memperingatkan agar teknologi dan mineral kritis tidak dijadikan senjata yang justru menghambat kemajuan bersama.
“Pusat keunggulan untuk agroekologi dan pertanian regeneratif akan memadukan kearifan tradisional dengan sains modern. Prinsip-prinsip yang dipersiapkan untuk adaptasi iklim berbasis komunitas akan menjadikan pengetahuan masyarakat adat (indigenous knowledge) sebagai dasar yang penting untuk aksi iklim,” tuturnya.
“Kami percaya bahwa manfaat dari solusi yang dikembangkan di BRICS tidak boleh hanya terbatas pada negara-negara BRICS saja. Solusi tersebut harus dibuat dapat beradaptasi dan diakses sesuai dengan kebutuhan Belahan Bumi Selatan,” ujarnya.
