Kumparan Logo

Terkendala Status Lahan, Warga di Solo Dapat Air PDAM via Skema Master Meter

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Penerima manfaat sekaligus Ketua RT 1 RW 10, Gilingan, Banjarsari, Suwarno di kediamannya, Kamis (8/10/2026).  Foto: Widya/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Penerima manfaat sekaligus Ketua RT 1 RW 10, Gilingan, Banjarsari, Suwarno di kediamannya, Kamis (8/10/2026). Foto: Widya/kumparan

Coca-Cola Foundation Indonesia menggelar program master meter untuk memperluas akses air bersih bagi warga di permukiman padat Kota Solo, Jawa Tengah.

Program ini menyasar masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang terkendala mendapatkan sambungan air dari Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PDAM), salah satunya karena persoalan legalitas tanah.

Ketua Coca-Cola Foundation Indonesia, Triyono Prijosoesilo, mengatakan program master meter merupakan salah satu upaya untuk membantu masyarakat mendapatkan akses air bersih. Program di kawasan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Solo, telah berjalan sejak Oktober 2025 dan telah melayani sekitar 50 kepala keluarga (KK).

“Indonesia memang diberkahi dengan jumlah air yang banyak, mungkin secara neraca air Indonesia itu sangat tinggi, sangat positif. Tapi memang akses, sesuatu yang kita mesti dukung,” kata Triyono dalam gelaran Media Briefing Coca Cola Foundation di Solo, Jawa Tengah, Kamis (8/10).

Triyono juga menyebut dukungan pendanaan dari Coca-Cola Foundation untuk program-program yang dijalankan dalam dua periode yaitu 2017 serta 2024–2025. Dia menyebut angkanya lebih dari USD 300.000 untuk akumulasi pendanaan tersebut dan sekitar USD 75.000 untuk satu paket. Meski demikian, Triyono belum bisa memastikan berapa investasi untuk program master meter di Solo.

Senior Director of Public Affairs, Communications, and Sustainability PT Coca-Cola Indonesia sekaligus Ketua Coca-Cola Foundation Indonesia, Triyono Prijosoesilo, memberikan keterangan pers terkait Embung Doho, Wonogiri, Jawa Tengah, Rabu (7/10). Foto: Widya Islamiati/kumparan

Sementar aitu Manajer Air Limbah PDAM Toya Wening Kota Solo, Bayu Tunggul, menjelaskan salah satu kendala penyediaan sambungan air PDAM reguler di kawasan tersebut adalah status tanah.

Sebagian rumah warga di Margorejo, Kelurahan Gilingan, berdiri di atas lahan milik PT Kereta Api Indonesia (KAI), sehingga terkendala persyaratan legalitas untuk pemasangan sambungan reguler.

Selain persoalan legalitas tanah, sebagian warga sebelumnya mengandalkan hidran umum untuk memenuhi kebutuhan air. Melalui fasilitas tersebut, warga harus mengambil air di titik tertentu untuk dibawa ke rumah.

Bayu juga menjelaskan bahwa kualitas air dari sumur dangkal di sejumlah lokasi menjadi persoalan. Menurut dia, sejumlah sumur dangkal di Solo telah tercemar bakteri koliform. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan perlunya alternatif akses air yang lebih aman bagi masyarakat.

“Kalau status tanahnya belum legal kebanyakan kami memberi bantuan untuk hidran umum hidran umum hidran umum itu kita beli meteran kemudian ada tandan air dan warga harus mengambil 1 ember 2 ember untuk seluruh kebutuhan,” ujar Bayu.

Meteran induk atau master meter di Gilingan, Banjarsari, Solo, Kamis (8/10/2026). Foto: Widya/kumparan

Fasilitator Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP) untuk program master meter, Ilham Syaiful Huda, menjelaskan master meter merupakan sistem distribusi air yang menggunakan satu meter induk dari PDAM, kemudian menyalurkan air melalui jaringan pipa menuju rumah-rumah warga.

Dalam skema tersebut, PDAM bertanggung jawab atas jaringan hingga meter induk. Sementara itu, Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) mengelola jaringan dari meter induk ke sambungan rumah, termasuk pencatatan meter, pembayaran pelanggan, dan perawatan pipa ketika terjadi permasalahan seperti kebocoran.

Ilham mengatakan, pendampingan kepada masyarakat menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program. KSM dibekali prosedur operasional standar (SOP) untuk pencatatan meter, pengelolaan keuangan, dan penanganan kerusakan agar jaringan dapat terus beroperasi setelah pendampingan program berakhir.

“Jadi KSM memang harus memeriksa jalur di mana ada kebocoran dan harus membenerinnya Kalau enggak nanti harganya jadi besar,” ujarnya.

Sekretaris KSM Mardi Rahayu, Katariksa Dani Putra, mengatakan keberadaan master meter mulai dirasakan manfaatnya oleh warga. Salah satunya ketika sebagian sumur mengalami penurunan debit air pada musim kemarau.

“Jadi sudah banyak yang airnya mulai kering sumurnya misalnya ada pun, misalnya keluar nanti 5 menit berhenti dulu keluar lagi, berhenti dulu,” kata Dani.

Menurut Dani, warga yang masih mengandalkan sumur mulai menanyakan kemungkinan mendapatkan sambungan melalui skema master meter. Namun, jumlah sambungan dalam program saat ini masih terbatas, yaitu sekitar 50 KK.

Dani mengatakan warga merasakan manfaat akses air bersih setelah program berjalan sekitar satu tahun. Dia juga menyebut pengelolaan keuangan KSM dilakukan dengan menyiapkan dana cadangan untuk mengantisipasi tunggakan maupun kerusakan peralatan.

“Jadi sangat diuntungkan sekali, setiap bulan (tagihannya) Rp 25.000 sampai Rp 40.000 (per kk),” ujarnya.

Meteran di rumah warga di Gilingan, Banjarsari, Solo, Kamis (8/10/2026). Foto: Widya/kumparan

Tambah Fasilitas Pengolahan Sampah

Selain memperluas akses air bersih, Coca-Cola Foundation Indonesia juga mendukung inisiatif pengelolaan sampah berbasis komunitas di kawasan Gilingan, Solo. Program ini dijalankan melalui kolaborasi dengan ResikPlus, mitra lokal yang bergerak di bidang pengelolaan sampah.

Founder ResikPlus, Bayu Imamtoko, mengatakan pengelolaan sampah di tingkat masyarakat diperlukan untuk mengurangi sampah yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir (TPA).

“Mulai tahun 2026 TPA kita hanya diperbolehkan menerima jenis sampah residu. Jadi untuk organik dan anorganik itu dilarang masuk ke TPA karena TPA kita sudah penuh dan salah satunya Putri Cempo Itu juga sebenarnya sudah penuh dan kemarin habis kebakaran juga,” kata Imam.

Menurut Imam, salah satu persoalan utama sampah rumah tangga adalah bau yang berasal dari timbunan sampah organik. Oleh karena itu, program ini mendorong pengolahan sisa makanan menjadi kompos menggunakan komposter yang dapat diterapkan di kawasan padat penduduk.

“Satu masalah yang terpenting di rumah tangga dari sampah ini adalah bau, bau itu hanya disebabkan oleh adanya timbulan sampah organik sehingga pioritas utama kita adalah bagaimana mengolah organik itu dengan rekayasa teknologi,” ujarnya.

Imam menjelaskan, komposter yang digunakan merupakan hasil rekayasa dari teknologi sederhana untuk menyesuaikan kondisi permukiman yang lahannya terbatas. Komposter yang saat ini eksisting berkapasitas 200 liter.

Menurut dia, sisa makanan dimasukkan ke dalam komposter untuk diolah hingga menjadi kompos, sehingga tidak perlu dibawa keluar dari kawasan tersebut.

“Kalau memang pengolahan sisa makanannya berhasil maka 60 persen masalah sampah sudah selesai. Selesai di wilayah itu tidak perlu keluar dari wilayah itu,” kata Bayu.

Selain mengolah sampah organik, program tersebut juga mendapat dukungan berupa mesin pencacah plastik untuk meningkatkan nilai jual sampah kemasan. Imam berharap pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Gilingan dapat menjadi contoh bagi wilayah lain.

“Kuncinya adalah kolaborasi. Tapi kunci utamanya masyarakat mau bergerak Alhamdulillah KSM ini semangatnya luar biasa, dari Coca-Cola memfasilitasi apapun ini pemerintah disana juga mendukung jadi sampah organik nanti Insyaallah bisa terselesaikan,” ujarnya.