Dari Scroll ke Checkout: Mengapa Live Shopping Membuat Gen Z Sulit Menahan Diri?
Tulisan dari Widyatriee tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah membuka siaran langsung di platform belanja hanya untuk melihat-lihat, tetapi akhirnya membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan? Situasi ini terasa akrab bagi pengguna yang terbiasa mengakses media sosial dan platform belanja online. Awalnya hanya ingin mencari hiburan, tetapi setelah melihat demonstrasi produk, mendengar penawaran diskon, dan membaca komentar penonton lain, keinginan untuk membeli bisa muncul begitu saja.
Live shopping menghadirkan pengalaman belanja yang berbeda dari sekadar melihat katalog produk. Penonton dapat berinteraksi langsung dengan penjual, menyaksikan demonstrasi barang, mengajukan pertanyaan, hingga melakukan transaksi dalam satu siaran. Kemudahan tersebut membuat kegiatan berbelanja terasa lebih praktis sekaligus menghibur.
Namun, ada hal yang menarik untuk diperhatikan. Ketika hiburan, promosi, dan transaksi hadir secara bersamaan, konsumen bisa terdorong membeli barang tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan kebutuhannya.
Menurut saya, persoalan utama live shopping bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada cara konsumen mengambil keputusan di tengah berbagai penawaran yang menarik perhatian. Kemudahan berbelanja seharusnya membantu kita memenuhi kebutuhan, bukan membuat setiap keinginan terasa harus segera dipenuhi.
Ketika Hiburan Berubah Menjadi Keinginan Membeli
Tidak semua orang membuka live shopping dengan niat berbelanja. Sebagian mungkin hanya ingin mengisi waktu luang, mengikuti tren, atau mencari hiburan setelah menjalani aktivitas sehari-hari. Akan tetapi, situasi bisa berubah ketika produk yang menarik mulai diperagakan dan penjual menawarkan harga khusus.
Bayangkan seseorang yang awalnya hanya menonton siaran produk kecantikan. Ia melihat demonstrasi produk, mendengar penjelasan host, lalu tertarik untuk membeli. Ketika diskon ditawarkan, keinginan tersebut semakin kuat. Padahal, produk serupa mungkin masih tersedia di rumah dan belum habis digunakan.
Contoh tersebut memperlihatkan bahwa keputusan membeli tidak selalu berawal dari kebutuhan. Ketertarikan terhadap produk dan suasana siaran juga dapat memengaruhi pertimbangan konsumen.
Dalam situasi seperti ini, batas antara ingin membeli dan perlu membeli bisa menjadi kurang jelas. Barang yang sebelumnya tidak terpikirkan justru terasa menarik setelah diperlihatkan berulang kali selama siaran.
Menurut saya, konsumen perlu menyadari bahwa rasa tertarik tidak selalu menjadi alasan yang cukup untuk bertransaksi. Produk boleh terlihat bagus dan penawarannya tampak menguntungkan, tetapi keputusan membeli tetap perlu mempertimbangkan fungsi barang, kebutuhan, serta kemampuan keuangan.
FOMO dan Tekanan Diskon yang Terbatas
Salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam live shopping adalah Fear of Missing Out (FOMO), yaitu perasaan takut melewatkan kesempatan yang dianggap menarik. Perasaan ini dapat muncul ketika host menyampaikan bahwa stok hampir habis, diskon hanya berlaku beberapa menit, atau harga khusus tidak akan tersedia setelah siaran berakhir.
Penawaran semacam itu bisa membuat konsumen merasa harus segera mengambil keputusan. Mereka mungkin khawatir kehilangan kesempatan mendapatkan harga murah sehingga tidak sempat mempertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar diperlukan.
Meski demikian, promosi dengan batas waktu tidak selalu merugikan. Diskon dapat memberikan manfaat apabila produk memang dibutuhkan, kualitasnya sesuai, dan harganya masih berada dalam anggaran. Masalahnya muncul ketika batas waktu promosi menjadi alasan utama untuk membeli tanpa pertimbangan yang matang.
Harga murah belum tentu berarti penghematan jika barang yang dibeli akhirnya tidak digunakan. Sebaliknya, menunda pembelian bukan berarti kehilangan kesempatan, terutama ketika produk tersebut sebenarnya tidak dibutuhkan.
Bagi saya, konsumen perlu membedakan antara kesempatan yang benar-benar menguntungkan dan dorongan untuk segera membeli karena takut kehabisan. Tidak semua penawaran harus langsung diambil. Terkadang, memberikan waktu kepada diri sendiri untuk berpikir justru menjadi keputusan yang lebih bijak.
Ketika Interaksi Sosial Memengaruhi Keputusan Belanja
Daya tarik live shopping tidak hanya berasal dari harga dan diskon. Host yang komunikatif, demonstrasi produk, serta percakapan melalui kolom komentar dapat membuat pengalaman berbelanja terasa lebih hidup. Penonton tidak hanya menerima informasi, tetapi juga dapat terlibat dalam suasana siaran.
Kesenangan yang dirasakan ketika mengikuti suatu aktivitas dikenal sebagai perceived enjoyment. Dalam konteks live shopping, pengalaman yang menghibur dapat menjadi salah satu alasan seseorang menikmati siaran dan tertarik untuk terus menonton.
Selain itu, komentar positif dan antusiasme penonton lain dapat memengaruhi cara seseorang menilai suatu produk. Ketika banyak orang terlihat tertarik, produk tersebut mungkin terasa lebih meyakinkan untuk dibeli.
Namun, popularitas tidak selalu menunjukkan bahwa sebuah barang sesuai dengan kebutuhan setiap orang. Produk yang bermanfaat bagi orang lain belum tentu memiliki fungsi yang sama bagi kita. Begitu pula dengan ulasan positif yang tetap perlu dipertimbangkan bersama informasi mengenai kualitas, harga, dan kegunaan produk.
Menurut saya, konsumen tidak perlu menghindari interaksi selama live shopping. Justru, kesempatan bertanya kepada penjual dapat dimanfaatkan untuk memperoleh informasi yang lebih jelas. Hal yang perlu dijaga adalah kemampuan menilai informasi secara mandiri tanpa menjadikan antusiasme orang lain sebagai satu-satunya dasar keputusan.
Menikmati Live Shopping Tanpa Mengorbankan Keuangan
Live shopping tetap memiliki manfaat apabila digunakan secara bijak. Konsumen dapat melihat demonstrasi produk, membandingkan informasi, dan bertanya langsung sebelum membeli. Karena itu, solusi yang diperlukan bukanlah berhenti menonton, melainkan membangun kebiasaan berbelanja yang lebih sadar.
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan. Pertama, tentukan anggaran belanja sebelum membuka platform. Dengan begitu, kita memiliki batas pengeluaran yang jelas dan tidak mudah tergoda oleh penawaran di luar rencana.
Kedua, buat daftar barang yang benar-benar dibutuhkan. Ketika menemukan produk menarik saat menonton siaran, periksa apakah barang tersebut memang ada dalam daftar atau hanya muncul sebagai keinginan sesaat.
Ketiga, bandingkan harga, periksa kualitas, dan baca ulasan pembeli sebelum melakukan transaksi. Diskon yang terlihat besar belum tentu menjadi pilihan terbaik apabila kualitas atau manfaat produknya tidak sesuai dengan harapan.
Keempat, berikan jeda sebelum membeli. Ketika muncul keinginan bertransaksi secara spontan, cobalah bertanya kepada diri sendiri: apakah barang ini benar-benar dibutuhkan? Apakah saya tetap ingin membelinya jika tidak ada diskon? Apakah pembelian ini akan mengganggu anggaran untuk kebutuhan lain?
Pertanyaan tersebut dapat membantu kita mengevaluasi keputusan secara lebih rasional. Jika setelah mempertimbangkannya barang tersebut ternyata tidak diperlukan, melewatkan penawaran bukanlah sebuah kerugian.
Pelaku usaha juga memiliki peran dalam menciptakan pengalaman belanja yang lebih bertanggung jawab. Informasi tentang harga, kualitas, fungsi, dan ketersediaan produk perlu disampaikan secara jelas agar konsumen dapat mengambil keputusan berdasarkan informasi yang memadai.
Jangan Sampai Keranjang Belanja Mengendalikan Kita
Live shopping bukan sesuatu yang sepenuhnya merugikan konsumen. Fitur ini memberikan kemudahan untuk memperoleh informasi, berinteraksi dengan penjual, dan menemukan produk yang mungkin sesuai dengan kebutuhan. Namun, kemudahan tersebut juga perlu diimbangi dengan kemampuan mengendalikan keinginan dan mempertimbangkan pengeluaran.
Menurut saya, tantangan bagi Generasi Z bukanlah memilih antara menikmati teknologi atau menghindarinya. Tantangan yang lebih penting adalah menggunakan teknologi tanpa kehilangan kendali atas keputusan sendiri.
Kita tetap boleh menikmati siaran, tertarik pada produk, dan memanfaatkan diskon. Namun, keputusan membeli sebaiknya tidak hanya didasarkan pada rasa takut kehilangan kesempatan atau keinginan mengikuti orang lain.
Pada akhirnya, menjadi konsumen yang bijak bukan berarti tidak boleh membeli barang yang disukai. Artinya, kita mampu membedakan kebutuhan dari keinginan, memahami kemampuan keuangan, dan menentukan kapan sebaiknya membeli atau menahan diri.
Sebab, tidak semua barang yang menarik perhatian harus masuk ke keranjang belanja. Terkadang, keputusan paling bijak justru muncul ketika kita menutup siaran, berpikir sejenak, dan menyadari bahwa barang tersebut sebenarnya tidak kita butuhkan. Pernah membuka siaran langsung di platform belanja hanya untuk melihat-lihat, tetapi akhirnya membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan? Situasi ini terasa akrab bagi pengguna yang terbiasa mengakses media sosial dan platform belanja online. Awalnya hanya ingin mencari hiburan, tetapi setelah melihat demonstrasi produk, mendengar penawaran diskon, dan membaca komentar penonton lain, keinginan untuk membeli bisa muncul begitu saja.
Live shopping menghadirkan pengalaman belanja yang berbeda dari sekadar melihat katalog produk. Penonton dapat berinteraksi langsung dengan penjual, menyaksikan demonstrasi barang, mengajukan pertanyaan, hingga melakukan transaksi dalam satu siaran. Kemudahan tersebut membuat kegiatan berbelanja terasa lebih praktis sekaligus menghibur.
Namun, ada hal yang menarik untuk diperhatikan. Ketika hiburan, promosi, dan transaksi hadir secara bersamaan, konsumen bisa terdorong membeli barang tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan kebutuhannya.
Menurut saya, persoalan utama live shopping bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada cara konsumen mengambil keputusan di tengah berbagai penawaran yang menarik perhatian. Kemudahan berbelanja seharusnya membantu kita memenuhi kebutuhan, bukan membuat setiap keinginan terasa harus segera dipenuhi.
Ketika Hiburan Berubah Menjadi Keinginan Membeli
Tidak semua orang membuka live shopping dengan niat berbelanja. Sebagian mungkin hanya ingin mengisi waktu luang, mengikuti tren, atau mencari hiburan setelah menjalani aktivitas sehari-hari. Akan tetapi, situasi bisa berubah ketika produk yang menarik mulai diperagakan dan penjual menawarkan harga khusus.
Bayangkan seseorang yang awalnya hanya menonton siaran produk kecantikan. Ia melihat demonstrasi produk, mendengar penjelasan host, lalu tertarik untuk membeli. Ketika diskon ditawarkan, keinginan tersebut semakin kuat. Padahal, produk serupa mungkin masih tersedia di rumah dan belum habis digunakan.
Contoh tersebut memperlihatkan bahwa keputusan membeli tidak selalu berawal dari kebutuhan. Ketertarikan terhadap produk dan suasana siaran juga dapat memengaruhi pertimbangan konsumen.
Dalam situasi seperti ini, batas antara ingin membeli dan perlu membeli bisa menjadi kurang jelas. Barang yang sebelumnya tidak terpikirkan justru terasa menarik setelah diperlihatkan berulang kali selama siaran.
Menurut saya, konsumen perlu menyadari bahwa rasa tertarik tidak selalu menjadi alasan yang cukup untuk bertransaksi. Produk boleh terlihat bagus dan penawarannya tampak menguntungkan, tetapi keputusan membeli tetap perlu mempertimbangkan fungsi barang, kebutuhan, serta kemampuan keuangan.
FOMO dan Tekanan Diskon yang Terbatas
Salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam live shopping adalah Fear of Missing Out (FOMO), yaitu perasaan takut melewatkan kesempatan yang dianggap menarik. Perasaan ini dapat muncul ketika host menyampaikan bahwa stok hampir habis, diskon hanya berlaku beberapa menit, atau harga khusus tidak akan tersedia setelah siaran berakhir.
Penawaran semacam itu bisa membuat konsumen merasa harus segera mengambil keputusan. Mereka mungkin khawatir kehilangan kesempatan mendapatkan harga murah sehingga tidak sempat mempertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar diperlukan.
Meski demikian, promosi dengan batas waktu tidak selalu merugikan. Diskon dapat memberikan manfaat apabila produk memang dibutuhkan, kualitasnya sesuai, dan harganya masih berada dalam anggaran. Masalahnya muncul ketika batas waktu promosi menjadi alasan utama untuk membeli tanpa pertimbangan yang matang.
Harga murah belum tentu berarti penghematan jika barang yang dibeli akhirnya tidak digunakan. Sebaliknya, menunda pembelian bukan berarti kehilangan kesempatan, terutama ketika produk tersebut sebenarnya tidak dibutuhkan.
Bagi saya, konsumen perlu membedakan antara kesempatan yang benar-benar menguntungkan dan dorongan untuk segera membeli karena takut kehabisan. Tidak semua penawaran harus langsung diambil. Terkadang, memberikan waktu kepada diri sendiri untuk berpikir justru menjadi keputusan yang lebih bijak.
Ketika Interaksi Sosial Memengaruhi Keputusan Belanja
Daya tarik live shopping tidak hanya berasal dari harga dan diskon. Host yang komunikatif, demonstrasi produk, serta percakapan melalui kolom komentar dapat membuat pengalaman berbelanja terasa lebih hidup. Penonton tidak hanya menerima informasi, tetapi juga dapat terlibat dalam suasana siaran.
Kesenangan yang dirasakan ketika mengikuti suatu aktivitas dikenal sebagai perceived enjoyment. Dalam konteks live shopping, pengalaman yang menghibur dapat menjadi salah satu alasan seseorang menikmati siaran dan tertarik untuk terus menonton.
Selain itu, komentar positif dan antusiasme penonton lain dapat memengaruhi cara seseorang menilai suatu produk. Ketika banyak orang terlihat tertarik, produk tersebut mungkin terasa lebih meyakinkan untuk dibeli.
Namun, popularitas tidak selalu menunjukkan bahwa sebuah barang sesuai dengan kebutuhan setiap orang. Produk yang bermanfaat bagi orang lain belum tentu memiliki fungsi yang sama bagi kita. Begitu pula dengan ulasan positif yang tetap perlu dipertimbangkan bersama informasi mengenai kualitas, harga, dan kegunaan produk.
Menurut saya, konsumen tidak perlu menghindari interaksi selama live shopping. Justru, kesempatan bertanya kepada penjual dapat dimanfaatkan untuk memperoleh informasi yang lebih jelas. Hal yang perlu dijaga adalah kemampuan menilai informasi secara mandiri tanpa menjadikan antusiasme orang lain sebagai satu-satunya dasar keputusan.
Menikmati Live Shopping Tanpa Mengorbankan Keuangan
Live shopping tetap memiliki manfaat apabila digunakan secara bijak. Konsumen dapat melihat demonstrasi produk, membandingkan informasi, dan bertanya langsung sebelum membeli. Karena itu, solusi yang diperlukan bukanlah berhenti menonton, melainkan membangun kebiasaan berbelanja yang lebih sadar.
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan. Pertama, tentukan anggaran belanja sebelum membuka platform. Dengan begitu, kita memiliki batas pengeluaran yang jelas dan tidak mudah tergoda oleh penawaran di luar rencana.
Kedua, buat daftar barang yang benar-benar dibutuhkan. Ketika menemukan produk menarik saat menonton siaran, periksa apakah barang tersebut memang ada dalam daftar atau hanya muncul sebagai keinginan sesaat.
Ketiga, bandingkan harga, periksa kualitas, dan baca ulasan pembeli sebelum melakukan transaksi. Diskon yang terlihat besar belum tentu menjadi pilihan terbaik apabila kualitas atau manfaat produknya tidak sesuai dengan harapan.
Keempat, berikan jeda sebelum membeli. Ketika muncul keinginan bertransaksi secara spontan, cobalah bertanya kepada diri sendiri: apakah barang ini benar-benar dibutuhkan? Apakah saya tetap ingin membelinya jika tidak ada diskon? Apakah pembelian ini akan mengganggu anggaran untuk kebutuhan lain?
Pertanyaan tersebut dapat membantu kita mengevaluasi keputusan secara lebih rasional. Jika setelah mempertimbangkannya barang tersebut ternyata tidak diperlukan, melewatkan penawaran bukanlah sebuah kerugian.
Pelaku usaha juga memiliki peran dalam menciptakan pengalaman belanja yang lebih bertanggung jawab. Informasi tentang harga, kualitas, fungsi, dan ketersediaan produk perlu disampaikan secara jelas agar konsumen dapat mengambil keputusan berdasarkan informasi yang memadai.
Jangan Sampai Keranjang Belanja Mengendalikan Kita
Live shopping bukan sesuatu yang sepenuhnya merugikan konsumen. Fitur ini memberikan kemudahan untuk memperoleh informasi, berinteraksi dengan penjual, dan menemukan produk yang mungkin sesuai dengan kebutuhan. Namun, kemudahan tersebut juga perlu diimbangi dengan kemampuan mengendalikan keinginan dan mempertimbangkan pengeluaran.
Menurut saya, tantangan bagi Generasi Z bukanlah memilih antara menikmati teknologi atau menghindarinya. Tantangan yang lebih penting adalah menggunakan teknologi tanpa kehilangan kendali atas keputusan sendiri.
Kita tetap boleh menikmati siaran, tertarik pada produk, dan memanfaatkan diskon. Namun, keputusan membeli sebaiknya tidak hanya didasarkan pada rasa takut kehilangan kesempatan atau keinginan mengikuti orang lain.
Pada akhirnya, menjadi konsumen yang bijak bukan berarti tidak boleh membeli barang yang disukai. Artinya, kita mampu membedakan kebutuhan dari keinginan, memahami kemampuan keuangan, dan menentukan kapan sebaiknya membeli atau menahan diri.
Sebab, tidak semua barang yang menarik perhatian harus masuk ke keranjang belanja. Terkadang, keputusan paling bijak justru muncul ketika kita menutup siaran, berpikir sejenak, dan menyadari bahwa barang tersebut sebenarnya tidak kita butuhkan.

